Gelisah Terhadap Keterpurukan Drama Gong, Luh Belong Tertantang dalam Prahara Kang Ching Wie

Gelisah Terhadap Keterpurukan Drama Gong, Luh Belong Tertantang dalam Prahara Kang Ching Wie

Kiriman: Ni Wy. Suratni, S.Sn., M.Sn. (Dosen Jurusan Pedalangan ISI Denpasar).


Luh Belong (Ni Wy. Suratni) dalam wujud raksasi dari kekuatan Dewi Danu, pada adegan menggoda tapa Raja Jayapangus.

Gianyar- Ni Wy. Suratni yang familiar dengan sebutan Luh Belong saat tampil di masyarakat dalam bondres, beberapa waktu lalu (23/7) menampilkan drama gong inovasi dengan judul “Prahara Kang Ching Wie” guna memenuhi persyaratan gelar Magister Seni pada Program Studi Penciptaan Seni, Program Pasca Sarjana pada Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.  Garapan yang berdurasi 1 jam 15 menit ini mengangkat isu dan pesan moral dari cerita Kang Ching Wie terimplisit adanya kisah poligami, kesetiaan Kang Ching Wie yang teraniaya oleh kecongkakan Dewi Danu. Pada intinya adalah kesetiaan seorang tokoh Kang Ching Wie yang teguh dengan prinsip kehidupannya sebagai istri seorang raja yang diduakan menyangkut harga diri, kesamaan hak dan lainnya. Rangkaian karya ini juga diangkat mengenai kultur budaya setempat yakni kegiatan ngelawang yang tetap hidup sampai sekarang, dimana dalam menjalankan hal tersebut prinsip hidup bersama dan kegotong-royongan masyarakat sangat kental ditampilkan.

Ni Wy. Suratni yang juga merupakan dosen Pedalangan di ISI Denpasar mengemas kisah Prahara Kang Ching Wie dalam bentuk drama gong inovasi. Drama Gong sebuah bentuk seni pertunjukan Bali yang relatif muda usianya, diciptakan dengan memadukan unsur-unsur drama modern dan unsur-unsur kesenian tradisional Bali. Karya seni pertunjukan Drama Gong Kang Ching Wie merupakan inovasi atau pengembangan dan pembaruan Drama Gong tradisional Bali yang pernah ada dan saat ini sedang terpuruk. Inovasi dalam karya ini berbeda pada setting panggung terbuka, yang lebih memilih in-out pemain secara bebas sesuai situasi peran dan karakter masing-masing pemain. Lebih mengutamakan integrasi antara pemain inti, cerita dan masyarakat yang terlibat dalam jalinan cerita pada adegan mepeed, ngelawang, dan lainnya. Dalam karya ini memadukan penggunaan dialog-dialog verbal berbahasa Bali yang merupakan ciri khas drama gong sebelumnya, dipadukan dengan bahasa Kawi untuk tokoh Raja Jayapangus dan Dewi Danu, sebagai penginovasian dalam retorika.

Hal yang mendorong pengkarya untuk menggarap sekaligus merevitalisasi Drama Gong tradisional Bali ini adalah adanya tanggungjawab moral sebagai insan yang dibesarkan oleh kesenian Drama gong, dan juga karena terinspirasi oleh beberapa garapan seniman lain dalam bentuk kesenian yang lain pula, yang mampu mengolah materi atau pakem tradisional dengan nuansa kekinian tanpa harus meninggalkan bentuk aslinya. Nuansa keindahan alam serta tradisi ngelawang yang sudah dilakukan turun-temurun oleh masyarakat Banjar Bukit Batu, Desa Samplangan, Gianyar juga banyak mendorong semangat pengkarya untuk bisa mewujudkan garapan Drama Gong open air ini. Banjar Bukit Batu dipilih sebagai tempat atau lokasi pementasan ujian karya seni untuk menunjukkan potensi wilayah tersebut, mengingat wilayah ini berlokasi di daerah Gianyar sebagai kota sentra seni dan budaya sehingga sangat berpotensi untuk dibangkitkan sebagai destinasi wisata yang berbasis seni dan budaya.

Dalam drama gong inovasi ini pengkarya menggarap ruang-ruang yang ada di sekitar tempat pertunjukan dalam hal ini adalah di areal pura dan sekitarnya. Hal ini bertujuan untuk memanfaatkan semua ruang yang ada di sekitar pura tersebut. Di samping hal tersebut pengkarya juga memanfaatkan beberapa instalasi, property, dan gamelan sebagai media pendukung dalam setiap adegan atau suasanan yang diinginkan dalam pertunjukan kesenian  Drama Gong Inovasi ini. Iringan gamelan yang digunakan adalah seperangkat Gamelan Semara Pagulingan Saih Pitu oleh Sanggar Bona Alit Gianyar.  Instrumen ini mewakili suasana Cina dengan permainan patet yang kaya dalam gamelan tersebut, dipadukan dengan beberapa instrument musik Cina. Gamelan Semara Pagulingan ini digarap khusus untuk mendukung suasana dalam adegan-adegan tokoh-tokoh Cina, seperti suasana taman kaputren Kang Ching Wie, suasan sedih Kang Ching Wie, perjalanan Kang Ching Wie menyususl Raja Jaya Pangus, pasar Cina dan  bondres Cina. Dengan demikian suasana yang diinginkan seperti suasana kecinaan tampak nyata. Selain itu penggarap juga menggunakan seperangkat Gamelan Gong Kebyar oleh Sanggar Paripurna Bona Blahbatuh Gianyar. Jenis ansamble ini digunakan untuk mendukung suasana unsure-unsur yang bercikas Bali. Gamelan Gong Kebyar merupakan instrumen yang memang dipakai sejak awal dalam pertunjukan kesenian Drama Gong di Bali. Urutan paling belakang dari prosesi ini adalah gamelan Balaganjur yang bertujuan untuk memeriahkan suasana sekaligus sebagai pengiring jalannya prosesi peed, yang sampai sekarang masih tetap dilestarikan.

Comments are closed.