Gesticulation

Gesticulation

Kiriman Drs. I Wayan Mudra,MSn., Dosen PS Kriya Seni ISI Denpasar.

Seorang seniman mengekpresikan ide-idenya dalam karya adalah  repleksi berbagai hal yang pernah dilihat ataupun dirasakan. Kepuasan batin, kepedihan hidup, penentangan, penggugatan dan kritik terhadap hal-hal mapan dan konvensional sering menjadi tema yang menarik untuk diungkap. Kadang terjadi visualisasi yang kental dengan pemaknaan dan kreatifitas perupaan non konvensional yang berlebihan menjadikan karya-karya tersebut sulit dipahami bagi sebagian orang. Penikmat seni sering tidak menemukan kepuasan batin secara gamlang, namun diajak untuk berpikir dan berdialog melalui ikon-ikon tanda yang disampaikan. Seniman berkreasi mencari sesuatu yang berada diluar kebiasaan yang ada dan berlaku pada suatu komunitas, salah satu model berpikir kreatif. Karena yang dipentingkan adalah ekspresi individu dan penuangan ide-ide kreatif yang dimiliki. Seperti halnya seorang seniman Putu Sutawijaya alumni ISI Yogyakarta asal Tabanan yang kini menetap di Yogyakarta, berpameran di Bendara Budaya Bali  28 Desember – 11 Januari 2011 lalu, tampil dengan karya-karya patung berbahan logam, kayu dan kawat besi. Putu mengekspresikan pengalaman hidupnya pada suatu kumunitas yang disebut banjar. Seniman yang beristrikan orang Malaysia ini, pada awal kariernya dikenal sebagai seorang pelukis dan telah berpameran di beberapa negara. Karena pencariannya yang tiada henti, ia kemudian mengembangkan media garapannya pada ruang tiga dimensi yaitu seni patung. Pengalaman hidup yang tertuang pada karya-karya patung tersebut diberi judul “Gesticulation”, berasal dari kata gesture berarti gerakan tangan. Karya-karya patung ini  menampilkan ekspresi gerak tangan, anggota tubuh lainnya untuk menyampaikan makna tertentu. Visualisasinya ada yang tunggal ada yang berkelompok mengusung pesan menyerupai karya instalasi. Karya-karya tersebut dirupakan tidak realistis, bagian muka datar, bentuk anggota badan dibuat dengan lempengan-lempengan besi bentuk persegi pada bagian-bagian tertentu dibiarkan berlubang. Lubang-lubang tersebut kemudian diisi garis-garis lurus dengan material kawat. Karya-karya Putu terlihat dibuat sangat terampil dan memperhatikan komposisi serta proporsi dari bentuk manusia. Penulis berpendapat karya-karya tersebut mampu menampilkan keindahan karena keterpaduan dari unsur-unsur pembentuknya. Herbert Read menyebutkan bahwa keindahan adalah kesatuan hubungan bentuk-bentuk. Penilaian keindahan biasanya terlepas dari pemaknaan yang ingin disampaikan senimannya. Penilaian keindahan adalah sebuah penilaian kejujuran.

Beberapa karya cukup mudah untuk dipahami, sebaliknya  beberapa karya memerlukan perhatian yang lebih untuk dapat mengerti pesan yang ingin disampaikan perupanya. Karena dari judul-judul yang disampaikan pada karya tersebut juga tidak langsung menyentuh pesan yang ingin disampaikan, contoh “Gesticultion 1, 2, dst. sehingga bagi sebagian pengunjung pameran menemui kendala dalam menterjemahkan pesannya. Putu menginginkan tubuh-tubuh itu dapat berkisah dengan sendirinya.

Menurut Kris Budiman selaku kritikus pameran tersebut menulis pada katalognya Putu Sutawijaya menyodorkan tubuh sebagai tanda-tanda untuk mempresentasikan formasi tertertu, bergerak mengisi dan memenuhi ruang, kadang memperlihatkan pola tertentu meskipun lebih sering menunjukkan kecendungan acak. Kial atau gesture (gesture) menjadi salah sebuah komponen ekspresif utama Putu. Ia menjadi semacam kosa kata, disamping postur, pose, gerak, arah dan irama. Kris menambahkan di dalam gestikulasi segenap anggota badan menjadi wahana makna (vehicle of meanings) dan instrument signifikasi. Para penari, aktor, dan pelaku-pelaku seni lainnya niscaya menyadari hal ini ketika mereka berkomunikasi dengan mengekspresikan pesan tertentu kapada audiens melalui tanda gestural. Putu Sutawijaya dengan karya-karya patung dan instalasi terbarunya ini, menawarkan kontek yang berbeda-beda. Melalui tubuh tersebut Putu berkisah tentang ketegangan dan ketaksaan (ambiguity) yang menyelubungi porses-proses sejarah, kontinyuitas, diskontinyuitas, tradisi dan perubahan, kepatuhan dan resestensi. Juga mempresentasikan pendefinisian ulang atas identitas-identitas kultural yang mapan.

Gesticulation selengkapnya

Comments are closed.