Hasil Penelitian, Perkaya Repertoar Gending Gambang Di Bali

Hasil Penelitian, Perkaya Repertoar Gending Gambang Di Bali

Kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi di kampus ISI Denpasar senantiasa berjalan dengan harmonis. Kegiatan belajar-mengajar, ”workshop” dan seminar, pengabdian masyarakat, serta penelitian selalu mewarnai kampus seni ini. Di bidang penelitian, ISI Denpasar telah menelorkan sebuah hasil penelitian teks lontar Kidung Gambang Gita Gegrantangan yang ada di Desa Sidemen Karangasem dengan sembilan jenis Puh Kidung diantaranya Puh Ratricetana, Puh Jayendriya, Puh Pangalang Sumaguna, Puh Manjaya Saluaga, Puh Rangga Kikis, Puh Larangan, Puh Singanalang, Puh Ukir Padelegan, dan Puh Pamandana yang ditransformasikan ke dalam seni karawitan. Lontar ini menjadi obyek penelitian dalam mendukung industri kreatif yang merupakan hibah kompetitif penelitian sesuai priyoritas nasianal dengan tema seni dan sastra.

Penelitian yang diketuai oleh Prof. Dr. I Wayan Rai S.,M.A., dosen jurusan karawitan yang juga Rektor ISI Denpasar ini menggandeng ahli sastra dari Fakultas Sastra UNUD, Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum. yang mentransliterasi lontar dari aksara Bali kedalam tulisan latin  Bahasa Kawi dan menerjemahkan kedalam Bahasa Indonesia,  Ni Ketut Dewi Yulianti, S.S., M.Hum. dan I Gde Agus Jaya Sadguna, SST.,Par., M.Par. menerjemahkan kedalam Bahasa Inggris, serta I Gst Ayu Srinatih, S.ST.,M.Si. dan Drs. Rinto Widyarto, M.Si., dari Jurusan Tari. Hasil penelitian ini, kemarin Selasa (2/11) telah memasuki tahap perekaman proses transformasi dari Kidung Gambang Gita Gegrantangan kedalam Gambelan Gambang. Proses perekaman ini didukung oleh para seniman pengerawit ISI Denpasar yang handal dalam bidang Gambang diantaranya I Gede Yudartha, SSKar., M.Si., I.B. Nyoman Mas, SSKar.,M.Si., I Ketut Sudiana, SSKar., M.Si. dan mahasiswa serta alumni Jurusan Karawitan.

Prof. Rai mengatakan bahwa hasil penelitian ini akan menjadi sumber referensi dan inspirasi bagi seniman Bali dan dunia pendidikan. “Lontar Kidung Gambang Gita Gegrantangan yang ditranformasikan ke dalam seni karawitan, seni tari, pedalangan, serta seni lukis, yang sarat dengan makna filosofi, pendidikan, dan nilai-nilai kemanusiaan yang cukup potensial ini, akan dapat dijadikan media informasi, edukasi, ritualisasi, pembinaan watak dan hiburan,” harapnya.

Humas ISI Denpasar melaporkan.

Comments are closed.