I Gusti Agung Ngurah Supartha dan Karya-karyanya

I Gusti Agung Ngurah Supartha dan Karya-karyanya

Kiriman I Ketut Sariada, SST., MSi., Dosen PS Seni Tari ISI Denpasar

Salah seorang koreografer tari yang namanya cukup tenar di kalangan masyarakat Bali adalah I Gusti Agung Ngurah Supartha. I Gusti Agung Ngurah Supartha  adalah seorang pria berperawakan sedang, kulit putih, rambut sosoh, selalu tampil rapi dan berwibawa. Ia tampak sangat energik dan ulet dalam berkarya. Ia lahir di Puri Agung Buluh Kenana Abiantuwung Kediri Tabanan pada tanggal 22 Januari 1943. Mas Roro Suhestiningtyas adalah istri dari Ngurah Supartha. Dari perkawinannya mempunyai empat orang anak dua orang anak laki-laki dan dua orang anak  perempuan yaitu I Gusti Agung Ngurah Kihasta Kenana Jenggala, I Gusti Agung Ngurah Anom Utara Pratimawan, I Gusti Ayu Istri Utari Budayawati, dan I Gusti Ayu Mas Ari Kencanawati. Dalam menempuh pendidikan formal Ngurah Supartha sangat sukses dan tidak pernah ketinggalan. Pada tahun 1956 lulus Sekolah Dasar Abiantuwung, tahun 1960 lulus Sekolah Menengah Pertama Tabanan, tahun 1964 lulus Konservatori Karawitan Bali, lulus Sarjana Muda Akademi Seni tari Indonesia Yogyakarta tahun 1967, dan lulus Sarjana Seni di Institut Seni Indonesia Yogyakarta tahun 1975. Ngurah Supartha adalah seniman yang sangat kreatif dan produktif (lihat lampiran 2 gambar 2.9 dan 2.10).

Ia adalah seorang seniman yang sangat energik, disiplin, dan penuh dedikasi dalam membentuk karakter seorang seniman. Hal ini tampak dari sistem pelatihan yang diterapkan kepada anak didiknya ketika ia masih menjabat sebagai Kepala Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Denpasar periode tahun 1977 sampai dengan 1985, yang berlokasi di Jalan Ratna Denpasar. Ia sangat enerjik dan tidak pernah mengeluh. Pelatihan-pelatihan dilakukan pagi, siang dan bahkan sampai larut malam. Oleh karenanya aktivitas sekolah pada waktu itu (sekitar tahun 80-an) selalu hidup.

Berdasarkan keuletannya itu pada masa kepemimpinannya, SMKI yang sebelumnya bernama KOKAR Denpasar menjadi institusi yang diidolakan dan cukup dibanggakan di masyarakat. Hal ini juga tidak terlepas dari prestasi dan hasil karya yang dipublikasikan cukup bermutu sehingga mendapat sambutan antusias dari masyarakat. Di bawah tangan dingin kepemimpinan Ngurah Supartha kejayaan KOKAR dapat diangkat kembali. Pada masa kepemimpinannya berperan selaku manager, ia juga berperan selaku koreografer yang cukup produktif. Hal ini terbukti dari sejumlah hasil karya yang dipasarkan baik institusi SMKI maupun Sanggar Tari Wrhatnala yang dipimpinannya, sebagian besar adalah hasil karyanya seperti, tari Kidang Kencana (1983), tari Baris Bandrang Manggala Yudha (1984), tari Srikandi Duta (1983), tari Bendega Duyung (1982), tari Capung Gantng (1982), produksi SMKI dan tari Ulat Sutra (1985), tari Kupu-kupu Emas (1985), tari Lelipi (1985), produksi Sanggar Tari Wrhatnala (Abian tuwung, Kediri, Tabanan). Hasil karyanya dari tahun 1960 sampai dengan tahun 2006 sebanyak 461 karya tari dan karawitan atau musik (lihat lampiran 3 hal 150). Karya tari sebayak 247 terdiri dari: tari Bali sebanyak 106 karya, tari Jawa sebanyak 9 karya, tari Sumatra sebanyak 4 karya, tari Sulawesi sebanyak 1 karya, tari Irian Jaya sebanyak 2 karya, Dramatari tanpa dialog sebanyak 36 karya, Dramatari dialog prosa sebanyak 30 karya, Dramatari dialog puisi sebanyak 29 karya, Dramatari Jawa tanpa dialog sebanyak 2 karya, Drama Bali sebanyak 8 karya, Drama Nasional sebanyak 4 karya, Tari Kontemporer sebanyak 5 karya, Interaxis Collaborasi - East Meets East sebanyak 5 karya, Interaxis Collaborasi- East Meets West sebanyak 6 karya.(Supartha, 2006). Karya karawitan (musik) sebanyak 214 karya terdiri dari : Instrumentalia Bali sebanyak 19 karya, Instrumentalia Jawa sebanyak 4 karya, Musik Vokal sebanyak 2 karya, Iringan tari Bali sebanyak 75 karya, Iringan tari jawa sebanyak 4 karya, Iringan tari Sumatra sebanyak 1 karya, Iringan Dramatari tanpa dialog sebanyak 18 karya, Iringan Dramatari Bali berdialog prosa sebanyak 20 karya, Iringan Dramatari Bali berdialog puisi sebanyak 10 karya, Iringan Dramatari jawa tanpa dialog sebanyak 1 karya, Iringan Drama Bali sebanyak 8 karya, Musik Drama Nasional sebanyak 3 karya, Iringan tari Kontemporer sebanyak 7 karya, Iringan Interaxis Collaborasi East Meets East/West sebanyak 8 karya (wawancara dengan Ngurah Supartha, 20 Pebruari 2006).

I Gusti Agung Ngurah Supartha dan Karya-karyanya, Selengkapnya

Comments are closed.