Ide Garapan Tari Romanku

Ide Garapan Tari Romanku

Kiriman: Ni Wayan Nova Jayanti, PS Seni Tari ISI Denpasar

Masa yang paling indah adalah masa remaja. Masa yang paling menyedihkan adalah masa remaja. Masa yang paling ingin dikenang adalah masa remaja. Masa yang paling ingin dilupakan adalah masa remaja. Pernyataan tersebut menjadi landasan dalam karya tugas akhir, berdasarkan pengalaman yang pernah dialami.

Masa remaja merupakan masa indah yang dilalui dalam fase kehidupan setiap manusia, namun juga dirasakan sebagai masa tersulit dalam menghadapi sebuah permasalahan karena keadaan emosi seorang remaja masih labil. Dalam buku yang berjudul Psikologi Remaja, Perkembangan Peserta Anak Didik dijelaskan bahwa masa remaja merupakan masa peralihan antara masa anak-anak ke masa dewasa. Pada masa ini, remaja mengalami perkembangan mencapai kematangan fisik, mental, sosial dan emosional. Masa ini biasanya dirasakan sebagai masa sulit, baik untuk remaja sendiri maupun untuk keluarga, atau lingkungannya karena berada pada masa peralihan antara masa anak-anak menuju ke masa dewasa. Dalam buku tersebut, tersirat pendapat Mappire (1982) yang menyatakan, masa remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan umur 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria. Rentang usia remaja ini dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu usia 12/13 tahun sampai dengan 17/18 tahun adalah remaja awal dan usia 17/18 tahun sampai dengan 21/22 tahun adalah remaja akhir. Informasi ini sangat penting diungkap agar diketahui batasan-batasan usia yang dapat dikatakan sebagai masa remaja. Pernyataan di atas relevan dengan pendapat Conny Semiawan (1989) yang mengibaratkan : “Terlalu besar untuk serbet, terlalu kecil umtuk taplak meja” karena sudah bukan anak-anak lagi, tetapi juga belum dewasa. Masa remaja biasanya memiliki energi yang besar, emosi berkobar-kobar, sedangkan pengendalian diri belum sempurna. Remaja juga sering mengalami perasaan tidak aman, tidak tenang dan khawatir kesepian.

Ketika masa remaja banyak terjadi pengalaman-pengalaman yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, namun yang paling ingin dikenang adalah masa-masa indah saat remaja. Salah satu pengalaman terindah pada masa remaja adalah ketika pertama kali jatuh cinta dengan lawan jenis. Keinginan untuk selalu bertemu, namun malu saat bertatap muka dan ketika jauh, ingin sekali berada didekatnya. Selalu menghayalkan sesuatu yang indah terahadap dirinya dengan orang yang disukainya. Namun ketika tersakiti oleh perasaan cinta tersebut, remaja kurang mampu untuk mengendalikan emosinya.

Dilatarbelakangi dari pengalaman pribadi ketika pertama kali merasakan jatuh cinta pada masa remaja, maka digarap sebuah tari sebagai karya tugas akhir dengan judul Roman Ku. Roman dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah: (1) rupa, wajah, (2) karangan prosa yang melukiskan perbuatan pelakunya menurut watak dan isi jiwa masing-masing. Jika dibandingkan dengan kata romansa berarti novel atau kisah prosa lainnya yang berciri khas tindakan kepahlawanan, kehebatan, dan keromantisan dengan latar historis dan imajiner. Sedangkan arti dari romantika adalah lika-liku atau seluk-beluk yang mengandung sedih, gembira dan arti dari romantis adalah: (1) bersifat seperti dulu, (2) cerita roman, (3) bersifat mesra, (4) mengasikkan. Jika dirunut berdasarkan masing-masing arti dari kata roman maka dapat disimpulkan bahwa “Roman” merupakan lika-liku kisah percintaan dengan watak dan isi jiwa yang dialami oleh pelakunya. “Ku” adalah kata ganti orang pertama atau saya, sehingga “Roman Ku” adalah lika-liku perjalanan cinta sesuai dengan watak dan isi jiwa yang dialami oleh seseorang dengan latar historis dan imajiner. Garapan Roman Ku akan menumpahkan segala emosi yang dialami dengan permasalahan kisah cinta remaja, serta segala lika-likunya ke dalam bentuk tari kontemporer.

Kata kontemporer berasal dari bahasa Inggris yaitu contemporary yang mempunyai arti: (1) hidup atau terjadi dalam kurun waktu yang sama, (2) pada waktu yang sama; dewasa ini; pada masa kini, (3) berasal dari atau dalam gaya masa kini atau mutakhir. Arti yang terakhir inilah yang dipakai dalam dunia kesenian dan sangat dekat dengan arti kata modern, yaitu yang berkaitan dengan gaya, gagasan baru yang tidak ketinggalan jaman. Tari kontemporer adalah suatu tarian yang mengungkapkan dimensi kekinian, yaitu dengan “bebas” tanpa keterikatan dalam mengungkap adegan-adegan yang menyangkut masalah-masalah aktual atau yang berkomentar tentang kehidupan sekarang, sehingga pola geraknya kebanyakan memunculkan gerak baru dan sedikit dikombinasikan dengan adegan yang dramatis.

Berdasarkan uraian di atas mengenai arti dari kata kontemporer, maka karya tugas akhir diejawantahkan melalui tari kontemporer dengan pendekatan teknik Balet. Balet adalah nama dari salah satu teknik tarian yang meliputi: tarian itu sendiri, mime, akting dan musik (baik musik orkestra ataupun nyanyian). Teknik Balet lebih menekankan pada gerak-gerak yang lurus dan kencang serta pengolahan tubuh yang baik dan ringan. Balet terkenal dengan teknik virtuoso seperti pointe work, grand pas de deux dan mengangkat kaki tinggi-tinggi. Teknik Virtuoso adalah keahlian menggunakan teknik yang sulit. Terdapat 2 teknik virtuoso pada Balet, yaitu grand pas de dedeux dan teknik pointe work adalah gerakan berjinjit hingga ujung jari kaki, sambil melakukan gerakan-gerakan Balet.

Kendatipun menggunakan pendekatan teknik Balet, tetapi tidak serta-merta melupakan unsur dari pola tradisi yang telah mendarah daging, sehingga akan dihasilkan sebuah garapan yang mempunyai ragam gerak yang unik dengan perpaduan dan pengembangan dari teknik Balet dan pola tradisi.

Ide Garapan

            Menentukan ide adalah tahap paling awal yang dilalui seorang penggarap. Ide merupakan gagasan atau konsep dasar yang menjadi sebab terwujudnya sebuah garapan, ide inilah yang ingin disampaikan melalui media gerak. Ide terkadang muncul begitu saja dalam pikiran seorang penggarap, dan seketika juga hilang, untuk itu perlu dilakukan pencatatan setiap kali memikirkan ide sebagai referensi pemikiran. Ada juga yang mencari ide melalui proses merenung, menghayal, menonton, membaca, melihat fenomena di sekitar, mendengarkan cerita orang lain dan sebagainya, proses ini disebut dengan eksplorasi (exploration). Untuk mendapatkan ide perlu adanya beberapa pertimbangan dan pemikiran yang matang, kesiapan dan kematangan ide akan berpengaruh besar pada wujud garapan, sehingga ide tersebut dapat divisualisasikan secara jelas melalui media gerak dan tersampaikan dengan baik serta dapat dimengerti oleh penonton.

            Ide dari garapan Roman Ku berangkat dari pengalaman pribadi, ketika remaja pernah mengalami jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seorang anak laki-laki. Selain itu, termotivasi kembali pada garapan duet yang berjudul “Can De Cing” pada kelas koreografi IV semester V, digarap bersama I Ketut Jully Artawan. Garapan ini mengisahkan percintaan remaja yang pertama kali jatuh cinta, dalam kisah tersebut sepasang remaja ini terkadang akur dan kadang kala bertengkar sehingga dipilih judul “Can De Cing” untuk mewakili garapan ini. “Can De Cing” merupakan singkatan dari bahasa daerah Bali yaitu Cande-Cande Cicing sedangkan jika diindonesiakan berarti seperti bermain dengan anjing, yang disayang tetapi jika sayang itu dipermainkan akan menyulut amarah dan menimbulkan pertengkaran. Ide tersebut juga menjadi landasan dasar untuk menggarap tari kontemporer yang bertemakan percintaan remaja sebagai karya tugas akhir. Keyakinan memilih ide ini karena banyak orang yang mengatakan bahwa postur tubuh yang dimiliki penggarap masih terlihat seperti remaja usia 17 tahun.

Latar Belakang Penciptaan Tari Romanku Selengkapnya

Comments are closed.