Identitas Dan Kontinuitas Tari Legong Lasem Gaya Peliatan

Identitas Dan Kontinuitas Tari Legong Lasem Gaya Peliatan

Oleh : A.A.Ayu Kusuma Arini, Sst.,Msi., Ni Md. Bambang Rai Kasumari, Sst.,Msi., Cok. Istri Putra Padmini, Sst.,Msn.

Abstrak Penelitian

Tari Legong merupakan salah satu tari klasik Bali sebagai warisan budaya sejak dua abad silam. Daya tarik tarian Legong merupakan magnit tersendiri yang diakui kalangan pencinta seni tari Bali. Luwes, lentur dan gerak-gerak yang dinamis, sangat digemari wisatawan dan nampaknya akan tetap cemerlang sampai masa yang akan datang. Tari Legong di samping sebagai dasar tari putri juga menjadi primadona dari berbagai jenis tarian Bali yang paling unik di dunia.

Gaya tari Legong yang terkenal di Bali adalah gaya Peliatan, gaya Saba dan gaya Badung. Diantara ketiga gaya tersebut gaya Peliatanlah yang paling aktif melakukan pementasan secara reguler sebagai tari tontonan. Kepopuleran Legong telah dimulai sejak tahun 1931 setelah grup kesenian dari Peliatan menggemparkan masyarakat seni Eropa dalam Colonial Exhibition di Paris dengan penampilan tari Legong dan Calonarang. Demikian pula tahun 1952 untuk kedua kalinya melawat ke Eropa dan Amerika Serikat yang dibawa oleh seorang impresario Inggris, John Coast. Dengan demikian Legong Peliatanlah sebagai pelopor promosi pariwsata Bali di luar negeri. Begitu berkesannya penampilan tari Legong di London sampai-sampai BBC London memakai iringan tarinya untuk mengantar siaran bahasa Indonesia selama puluhan tahun.

Setelah sukses luar biasa di luar negeri dan sangat terkenal di dalam negeri maka segala usaha dilakukan untuk mempertahankan kekhasan gerak tarinya. Sudah tentu yang paling berjasa dalam membentuk penari-penari yang andal adalah duet A.A. Gde Mandera bersama Gusti Made Sengog yang keduanya telah tiada dengan menuangkan gaya dan perbendaharaan gerak tari yang spesifik. Pementasan secara reguler di Peliatan sejak tahun 1954 dengan kedatangan wisatawan kadang-kadang sebulan sekali, kemudian berlanjut hingga kini dengan pertunjukan tiga kali seminggu bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Permasalahan yang akan dipecahkan dalam penelitian ini adalah bagaimana identitas Legong Lasem gaya Peliatan dan faktor-faktor apa yang mendukung sehingga tetap kontinu melakukan pertunjukan dengan mempergunakan metode deskriptif kualitatif melalui interviu pelatih tari, mantan penari serta para penabuh dan pemerhati seni di desa Peliatan. Di samping itu juga dengan mengamati dokumen yang masih tersimpan dengan baik.

Temuan dari penelitian ini adalah kekhasan gerak ngelayak, agem yang melengkung, sikap tangan yang lebih sempit, dagu yang diangkat, bahu dan belikat yang terkunci, angsel yang tersendat dan gerakan yang bergetar. Sebagai faktor prndukung tetap kontinu melakukan pementasan adalah karena kediplinan anggota untuk tetap menjaga nama baik Legong Peliatan yang sudah digandrungi penggemarnya, management yang transparan antara pimpinan yayasan dengan anggota, pembagian dana kesejahteraan bagi anggota, serta kerjasama yang baik dengan pengelola pariwisata

Hasil penelitian diharapkan menjadi sumber informasi dan pengetahuan yang signifikan bagi pencinta seni tari tentang primadona tari Bali yang tetap mempertahankan identitasnya secara terus menerus.

Kata Kunci: Kontinuitas, tari Legong Lasem gaya Pelatan.

Comments are closed.