Insan Belia Bali Berlomba Menyayangi Legong

Insan Belia Bali Berlomba Menyayangi Legong

Kiriman: Kadek Suartaya, SSKar., M.Si., Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar

           Masyarakat mancanegara mengenal Legong sebagai seni tari dari Pulau Dewata. Terminologi kesenian bangsa-bangsa menempatkan Legong sebagai seni tari yang luwes gemulai dalam pangkuan gemerincing gamelan yang renyah dinamis. Seni pertunjukan yang seutuhnya merupakan rajutan estetika tari ini menggapai puncak kejayaannya para era kerajaan Bali. Saat itu beberapa kerajaan besar di Bali menjadikan Legong sebagai seni kesayangan sekaligus gengsi para penguasa. Namun sejak pupusnya patronisasi puri-puri oleh terjangan kolonalisme, Legong yang juga lazim disebut Legong Keraton, secara perlahan kian redup binarnya. Masyarakat Bali masa kini umumnya tak memiliki ikatan estetik-emosional dengan Si Elok Legong.

          Akan tetapi aura seni tari yang biasanya dibawakan para gadis belia ini belum pudar betul. Ada kemungkinan tari ini akan berjaya kembali. Sebab, kini tidak sedikit generasi belia Bali yang mempelajari dengan tekun tari yang gambar-gambarnya banyak menghiasi buku-buku tentang Bali ini. Simaklah lomba-lomba tari yang sejak lima tahun terakhir ini digelar secara sporadis hampir di seluruh Bali. Selain mengkompetisikan jenis tari kebyar atau tari kreasi seperti Panji Semirang, Wiranata, Margapati, Tarunajaya, dan Oleg Tamulilingan, tari klasik Legong Keraton juga merupakan materi  yang tak pernah ketinggalan dilombakan. Mungkin karena Legong dianggap sebagai dasar tari Bali jenis tari putri.

          Dalam lomba-lomba tari yang diselenggarakan sanggar tari, sekolah, universitas hingga lembaga adat banjar tersebut, lomba tari Legong diikuti oleh gadis-gadis usia 9-13 tahun atau masih duduk dibangku SD dan SMP. Bagaimana semangatnya penampilan insan-insan belia itu menyajikan tari Legong dapat disaksikan misalnya dalam lomba tari di Banjar Kayumas Denpasar yang rutin digelar pada bulan Desember. Ratusan penari Legong cilik yang datang dari seantero Bali unjuk kebolehan di depan tim juri dan penonton, penuh gairah menggapai juara. Tari Legong yang umumnya dilombakan adalah sepenggal tari Condong yaitu tokoh emban dalam Legong Lasem yang  sumber temanya diangkat dari cerita Panji. Kendati hanya sepotong, esensinya telah mewakili estetika dari beragam tema tari klasik Legong.

          Konsep estetik legong dengan kompleksitas tari dalam ikatan iringan gamelannya  dapat membawakan beragam lakon. Demikian pula kreasi tari yang mengacu pada pola garap Legong, pelegongan, yang belakangan telah ratusan digarap, berangkat dengan aneka tema dari berbagai sumber cerita. Masyarakat Bali dapat menyimak geliat kreasi pelegongan tersebut di arena Pesta Kesenian Bali (PKB). Dalam mata acara pagelaran festival atau parade Gong Kebyar, greget  kreasi pelegongan merupakan bentuk seni pentas yang pernah beberapa kali diwajibkan untuk diketengahkan. Selain dalam ajang PKB, ujian-ujian akhir di ISI Denpasar juga telah banyak menelorkan kreasi pelegongan.

          Kendati para koreografer masa kini telah banyak mencipta seni tari dengan konsep estetik legong yang disebut pelegongan, tapi gaungnya di tengah masyarakat Bali kurang terasa. Setidaknya, dari ratusan kreasi pelegongan itu tak satu pun dikenal baik oleh masyarakat penonton. Jangankan menjadi karya seni yang monumental, bahkan sebagian besar dari kreasi pelegongan, baik yang menggebrak di PKB maupun yang membuncah di ISI atau di sanggar-sanggar tari, hanya mengalami pementasan perdana saja. Kreasi-kreasi pelegongan itu sirna bak dibungkam hingar bingar kehidupan dan hiburan global kekinian. Kreasi pelegongan yang berpijak dari genius estetik lokal, tercekal.

          Sesungguhnya, legong sebagai ekspresi artistik dan konsep estetik telah mengundang kekaguman dunia namun kini kurang diindahkan oleh pemiliknya, masyarakat umum Bali. Tari legong yang di masa lalu konon memiliki puluhan tema, kini sebagian besar tak jelas jejak-jejaknya. Keberadaan  Kokar (kini SMK 3 Sukawati) dan ASTI (kini ISI Denpasar) pada awal-awal berdirinya pernah secara getol merekonstruksi beberapa tema legong, diantaranya Legong Kuntul, Legong Candrakanta, dan Legong Semarandana. Demikian pula kantong-kantong  legong seperti Desa Saba dan Peliatan (Gianyar), Binoh (Badung), Tista (Tabanan), sempat bersemangat mengawal style legong-nya masing-masing. Kini, hanya di Peliatan, legong masih mengerling dan tersenyum, mungkin karena dolar wisatawan.

          Demikianlah, kini, masyarakat umum hanya mengenal Legong Lasem yang dibawakan oleh tiga orang penari putri. Penonton akan menyaksikan seorang penari mengawali sebagai Condong yang kemudian dilanjutkan dengan dua penari sebagai legong-nya. Sepasang penari ini membawakan bagian inti yang disebut pengawak dengan gerak-gerak yang abstrak ekspresif. Pada bagian akhir, unsur pendramaan tersaji dalam adegan roman dan perang. Condong kembali tampil memakai sayap, beradegan perang dengan salah satu penari yang memerankan Prabu Lasem. Legong Lasem berkisah tentang cinta bertepuk sebelah tangan Prabu Lasem dengan Putri Rangkesari.

             Kisah cinta bertepuk sebelah tangan itu kini seakan merundung tari Legong. Kreasi-kreasi para kreator tari masa kini dalam format yang disebut pelegongan tersebut, belum mendapatkan balasan “cinta asmara“ setimpal dari masyarakat. Masyarakat Bali kurang mengapresiasinya. Padahal, secara kultural, Legong adalah nilai keindahan yang tak ternilai. Oleh karena itu, kita tentu berharap Legong tak hanya mengerling dan tersenyum semu sebagai sajian seni turistik belaka melainkan menjadi wahana harmoni rohaniah atas esensi keindahahan gemulai tarinya yang mempesona dan kandungan moralitas lakon-lakonnya yang memperkaya fajar budi dan cakrawala kebudayaan.   

Insan Belia Bali Berlomba Menyayangi Legong, selengkapnya

Comments are closed.