Internasionalisasi Pendidikan Tinggi Butuh “Effort” Besar

Internasionalisasi Pendidikan Tinggi Butuh “Effort” Besar

LONDON, KOMPAS.com - Butuh effort yang besar baik bagi pemerintah Indonesia maupun instansi-instansi perguruan tinggi Indonesia untuk berkolaborasi dengan banyak negara lain di dunia, khususnya Inggris, dan institusi pendidikan tingginya dalam mewujudkan internasionalisasi pendidikan tinggi (Higher Education).

Kerajaan Inggris, misalnya, menunjuk dan memberi mandat kepada Universities United Kingdom (UUK) sebagai unit atau badan tersendiri yang khusus mengatur internasionalisasi pendidikan tinggi mereka. UUK inilah yang mengatur dan menyediakan dukungan bagi suksesnya internasionalisasi ini kepada negara-negara dan institusi pendidikannya yang telah berkolaborasi dengan Inggris.

"Sejak 1918 kami telah menjadi badan resmi yang ditunjuk untuk mengendalikan ini semua, termasuk menjalin hubungan dengan pendidikan tinggi Wales, Skotlandia, serta Irlandia," ujar Chief Executive UUK Nicola Dandridge, di London, Selasa (23/3/2010).

Mulai dari kunjungan promosi, mengatur visa dan pengurusan imigrasi, sampai menganalisa kebijakan pemerintah Inggris dalam bidang pendidikan tinggi. Hasilnya, total jumlah pelajar dari negara-negara Asia saja mencapai 369.000 pada 2008 lalu, meningkat dari total pelajar pada 2007 yang mencapai 341.800. Posisi jumlah pelajar Indonesia sendiri berada di nomor paling buncit, yaitu peringkat 11 dengan jumlah pelajar sebanyak 1.030 pada 2008 lalu dan hanya meningkat sedikit saja dari jumlah sebelumnya pada 2007, yaitu 925 pelajar. Posisi tersebut berada jauh di bawah China, India, Malaysia sebagai tiga besar, serta Hongkong, Taiwan, Thailand, Korea Selatan, Jepang, Singapura, serta Vietnam.

Secara politis, posisi Indonesia memang berat dan masih membutuhkan upaya besar. Sebagai negara yang bukan termasuk commonwealth pemerintah Kerajaan Inggris, posisi Indonesia tentu saja "tidak beruntung". Hal ini terlihat sangat jauh berbeda dengan beberapa negara Asia Tenggara yang dekat Indonesia seperti Malaysia, misalnya, atau India dan Singapura.

Menurut Rektor Bina Nusantara Prof Harjanto Prabowo, sedikit banyak posisi itu cukup berpengaruh bagi Indonesia, Selama ini, baik melalui pemerintah maupun instansi pendidikan tinggi negeri maupun swasta, Indonesia cenderung lebih banyak berhubungan dengan Amerika Serikat, Australia, serta negara-negara Asia lainnya.

Di sisi lain, kata dia, Inggris rupanya kurang memerhitungkan Indonesia untuk bisa masuk dalam jalinan network internasionalisasi ini.

"Perjanjian Bologna sangat menguntungkan internasionalisasi pendidikan tinggi di antara negara-negara Eropa untuk menyamakan visi, misi, dan serta konsep pendidikan mereka, sehingga negara-negara persemakmuran mereka pun otomatis ikut masuk dalam lingkaran sistem ini dan sangat menguntungkan mereka, tetapi tidak buat kita," kata Harjanto.

Sumber: http://edukasi.kompas.com/read/2010/03/24/18321156/Internasionalisasi.Pendidikan.Tinggi.Butuh..quot.Effort.quot..Besar

Comments are closed.