ISI Denpasar Gelar Calonarang, Sampaikan Pesan Waspada Demam Berdarah

ISI Denpasar Gelar Calonarang, Sampaikan Pesan Waspada Demam Berdarah

Calon Arang Puri Ubud (foto by GC)Rangkaian piodalan di Pura Padma Nariswara ISI Denpasar, yang jatuh pada Hari Raya Tumpek Wayang (Saniscara Kliwon Wayang), pada 6 Februari 2010, akan digelar pementasan Calonarang pada keesokan harinya (7 Februari 2010 yang  bertempat di Kampus ISI Denpasar. Suguhan yang terkesan magis tersebut akan dibawakan oleh mahasiswa Jurusan Tari dan Pedalangan semester VII ISI Denpasar serta didukung oleh penabuh dari mahasiswa semester V Jurusan Karawitan. Bentuk ngayah yang disuguhkan para mahasiswa ini terbilang unik, dimana ditengah musim hujan ini, mereka mengambil konsep cerita berjudul “Wimba Pralaya”, yaitu rusaknya Sanur oleh ulah manusia. Hampir semua konsep cerita lahir dari Ide kreatif mahasiswa ISI Denpasar diantaranya Putu Adi Sujana dan Anom Ranuara yang sebentar lagi akan menamatkan studinya di ISI Denpasar. Menurut Anom Ranuara, mahasiswa Pedalangan, selain menampilkan hiburan dan ngayah di Pura, konsep cerita ini juga memberikan sentilan sosial kepada masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan. Apalagi dalam kondisi musim hujan ini, jika tidak peduli, maka lingkungan ini dapat menjadi musuh kita lewat musibah yang ditimbulkan, diantaranya banjir dan penyakit yang sekarang tengah merajalela yaitu demam berdarah. Dirinya berharap semoga suguhan yang akan ditampilkannya mampu memberi pesan kepada penonton untuk waspada terhadap demam berdarah.

Tumpek Wayang adalah hari bagi umat Hindu di Bali untuk menghaturkan upacara menuju keutamaan tuah pratima-pratima dan wayang, juga kepada semua macam benda seni dan kesenian, tetabuhan, seperti: gong, gender, angklung, kentongan dan lain-lain. Upakara dihaturkan ke hadapan Sanghyang Iswara, dipuja di depan segala benda seni dan kesenian agar selamat dan beruntung dalam melakukan pertunjukan-pertunjukan, menarik dan menawan hati tiap-tiap penonton. Untuk pecinta dan pelaku seni, upacara selamatan berupa persembahan bebanten: sesayut tumpeng guru, prayascita, penyeneng dan asap dupa harum, sambil memohon agar supaya mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dalam menciptakan majunya kesenian dan kesusastraan.

Humas ISI Denpasar melaporkan

Comments are closed.