ISI Denpasar Gelar Rekonstruksi Gambuh dan Prasi di Karangasem

ISI Denpasar Gelar Rekonstruksi Gambuh dan Prasi di Karangasem

Rektor ISI Denpasar didampingi Ketua LP2M ISI Denpasar memberikan sarana perlengkapan Gambuh (kiri). Para peneliti dari ISI Denpasar mengamati hasil karya  prasi (kanan).

Rektor ISI Denpasar didampingi Ketua LP2M ISI Denpasar memberikan sarana perlengkapan Gambuh (kiri). Para peneliti dari ISI Denpasar mengamati hasil karya prasi (kanan).

Kiriman: Nyoman Dewi Pebriyani, S.T., M.A. (Dosen PS Desain Interior). 

Karangasem- Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar tetap menunjukkan eksistensinya melalui keikutsertaannya dalam melestrasikan budaya, belum lama ini Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakan (LP2M) ISI Denpasar menggelar Rekonstruksi Gambuh dan Prasi di Karangasem. Kedua kegiatan tersebut berlangsung di dua daerah yang berbeda, Rekonstruksi Gambuh dilaksanakan di Desa Budakeling sedangkan Rekonstruksi Prasi dilaksanakan di Desa Sidemen. Kedua kegiatan ini telah berjalan selama kurang lebih tiga minggu dan akhirnya ditutup secara resmi pada hari Senin (24/12) dengan mempersembahkan pertunjukan tari Gambuh dan Pameran hasil Karya Prasi.

Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Rai S, MA yang hadir memberikan sambutan sekaligus menutup acara di Budakeling mengungkapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas perhatian berbagai pihak yang telah terlibat dalam proses rekosntruksi ini. “Diharapkan melalui kegiatan rekonstruksi ini, mampu melestarikan dan mengembangkan seni budaya karena hal tersebut merupakan warisan dari leluhur”, ungkapnya. Hal senada juga diungkapkan oleh Ida Pedanda Jelantik Duaja yang menyatakan bahwa Tari gambuh adalah sumber tari dari segala jenis tari di Bali.

Kegiatan di Budakeling turut dihadiri oleh kapolsek, camat Bebandem, Kepala desa, kelian dinas, tokoh masyarakat, serta  disaksikan oleh 10 pedanda, 7 pedanda lanang dan 3 pedanda istri. “Turut dihadiri oleh 10 pedanda merupakan hal yang luar biasa, dan hal ini merupakan symbol pengayoman”, tambah Prof Rai. Dalam laporannya, ketua LP2M, Drs. I Gusti Ngurah Seramasara, M.Hum mengungkapkan bahwa dalam proses rekonstruksi ini LP2M tidak hanya melatih dan mengisi kesenian namun juga melengkapi beberapa perlengkapan yang kurang, seperti di Budakeling melengkapi peralatan Gentorag, Tatakan Cenceng, Suling, pakaian Kakan-kakan, dan untuk Rekostruksi Prasi kami melengkapi koleksi lontar yang telah dibentuk serta pengerupak sebagai alat menulis lontar. "Kami sangat bangga dan terhormat atas kehadiran para pedanda dalam acara ini, jika diamati dari geologi Gambuh, sesungguhnya lahir di griya baik dari penarinya, maupun penciptanya, sehingga ini merupakan kebanggaan bagi Ratu Ida pedanda bahwa kita telah mampu membangkitkan tetamian milik leluhur", ungkapnya. Tari gambuh dibawakan sangat memukau oleh penari lokal dari Budakeling, dimana mereka telah mempunyai beberapa improvisasi dari tari gambuh pada umumnya.

Bila kegiatan penutupan Rekonstruksi Gambuh diadakan pada malam hari, maka penutupan Rekonstruksi Prasi diadakan pada siang harinya di desa Sidemen. Dalam kesempatan ini penutupan dilaksanakan oleh Rektor ISI Denpasar yang diwakili oleh Pembantu Rektor I ISI Denpasar, Drs. I Ketut Murdana, M.Si. Beliau menuturkan bahwa tujuan kegiatan rekonstruksi ini tidak saja melestarikan namun juga mampu meningkatkan daya kreatifitas dan inovasi para seniman sehingga mampu mensejahterakan. Usai menutup acara secara resmi, dilanjutkan dengan pameran hasil karya prasi oleh seniman-seniman Sidemen.

Kegiatan penutupan dilangsungkan dengan meriah melalui pertunjukan gambuh dan pameran hasil karya. Para penonton tidak dapat menyembunyikan rasa bangga dan antusiasnya terhadap dua kegiatan di Budakeling dan Sidemen.

Comments are closed.