ISI Denpasar ingatkan “4C” hadapi Revolusi Industri 4.0

ISI Denpasar ingatkan “4C” hadapi Revolusi Industri 4.0

Sumber : bali.anataranews.com

Pola pikir baru untuk merespons perubahan dalam era Revolusi Industri dengan konsep 4C, yakni critical thinking (berpikir kritis), creativity thinking (berpikir kreatif), communication (komunikasi), dan collaboration (kolaborasi)Denpasar (ANTARA) - Institut Seni Indonesia Denpasar mengingatkan konsep "4C" kepada 104 mahasiswa Fakultas Seni Pertunjukan kampus setempat yang diyudisium agar bisa tetap bersaing di tengah era Revolusi Industri 4.0 .

"Di tengah era globalisasi dan Revolusi Industri 4.0, bahkan di Jepang sudah 5.0, maka tantangan yang kita hadapi semakin ketat. Era disrupsi ini telah menyebabkan terjadinya banyak pergeseran pekerjaan sehingga kita harus memiliki kompetensi agar tetap bisa bersaing," kata Dekan Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ISI Denpasar Dr I Komang Sudirga, SSn, MHum dalam sambutan pada Yudisium Mahasiswa FSP ISI Denpasar Periode Semester Genap Tahun 2019, di kampus setempat, di Denpasar, Kamis.

Sudirga mengemukakan pola pikir baru untuk merespons perubahan dalam era Revolusi Industri dengan konsep 4C, yakni critical thinking (berpikir kritis), creativity thinking (berpikir kreatif), communication (komunikasi), dan collaboration (kolaborasi)".

"Kami mengharapkan anak-anak tidak hanya lugas dalam berkarya seni, tetapi juga mampu menelurkan karya-karya tulis yang merupakan pertanggungjawaban dari karya mereka. Dalam membuat karya juga kritis menyikapi fenomena sosial dan fenomena kehidupan yang ada di lingkungan sekitarnya," ucapnya.

Dengan demikian, mahasiswa yang sebentar lagi akan menyelesaikan studinya di ISI Denpasar itu dapat merespons fenomena sosial yang dapat dijadikan acuan oleh masyarakat.

"Kemudian di era revolusi industri ini, kemampuan mesin tidak akan mampu menyamai kemampuan otak manusia dan gagasan pada manusia. Oleh karena itu, dengan berpikir kreatif kita bisa menumbuhkan daya saing di era sekarang ini," ucapnya.

Terkait komunikasi dan kolaborasi, lanjut Sudirga, artinya lulusan ISI Denpasar harus mampu membangun kerja sama satu dengan yang lain, tidak boleh egois dalam satu bidang. "Kita harus mampu menumbuhkan sikap multidisiplin, bahkan berguru lintas ilmu dan lintas generasi," ujar Sudirga.

Untuk memantapkan kompetensi dan bisa menjadi orang yang berpengetahuan, Sudirga pun berpesan agar lulusannya tidak berhenti untuk menambah pengetahuan dengan terus belajar.

"Dengan bekal pengetahuan yang telah diberikan para dosen selama kuliah, kami harapkan nantinya bisa disumbangkan pada masyarakat sehingga sekaligus bisa mengibarkan panji-panji ISI Denpasar dimanapun berada. Semoga ISI Denpasar tetap jaya dan terus menghasilkan SDM unggul serta generasi emas," ucap Sudirga.

Di sisi lain, Sudirga berpesan agar lulusan ISI Denpasar jangan sampai mengalami tujuh "kemabukan" atau dalam konsep Hindu dikenal dengan nama Sapta Timira, yakni mabuk karena ketampanan/kecantikan, mabuk karena harta, mabuk karena kepintaran, mabuk karena keturunan, mabuk karena masa muda, mabuk karena minuman keras, dan mabuk karena merasa mempunyai keberanian.

Sementara itu, Ketua Panitia Wardizal mengatakan 104 mahasiswa yang diyudisium berasal dari lima program studi/jurusan di Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar, yakni dari Prodi Tari (26 orang), Seni Karawitan (44 orang), Seni Pedalangan (10 orang), Pendidikan Seni Pertunjukan (14 orang) dan terakhir Prodi Musik (10 orang).

"Yudisium bukanlah acara seremonial atau dianggap formalitas belaka. Yudisium adalah proses akademik yang wajib dilaksanakan. Yudisium adalah proses akademik yang telah menyangkut penerapan nilai dan kelulusan mahasiswa dari seluruh proses akademik yang telah dijalaninya," ucapnya.

Yudisium, tambah Wardizal, merupakan pengumuman nilai pada mahasiswa dan penetapan nilai dalam transkrip akademik serta memutuskan lulus atau tidaknya mahasiswa dalam jangka waktu tertentu yang ditetapkan oleh pejabat berwenang.

Dalam acara yudisium tersebut juga diumumkan mahasiswa dengan predikat peraih lima IPK tertinggi, yakni I Nyoman Agus Hari Sudarma Giri (IPK 3,97), Made Darma Yoga dan Ni Komang Ayu Pramesti (3,93), Gede Arip Pratama (3,92), Dwi Ayu Mandili (3,90) serta Sri Ayu Pradnya Larasari dan I Putu Sutresna Putra (IPK 3,88).

Pewarta : Ni Luh Rhismawati
Editor : Edy M Yakub
COPYRIGHT © ANTARA

Comments are closed.