ISI Denpasar Rekontruksi Kesenian Langka

ISI Denpasar Rekontruksi Kesenian Langka

Sumber : bali-travelnews.com

Sebagai pusat perguruan tinggi seni terbesar di Bali, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar memiliki peranan yang strategis dalam upaya pelestarian, pengembangan dan pemajuan seni dan kebudayaan di Indonesia. Apalagi ISI Denpasar memiliki visi menjadi pusat penciptaan, pengkajian, penyajian dan pembinaan seni yang unggul, berwawasan kebangsaan, demi memperkaya nilai-nilai kemanusiaan sesuai dengan perkembangan zaman. Untuk mewujudkan

Sebagai pusat perguruan tinggi seni terbesar di Bali, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar memiliki peranan yang strategis dalam upaya pelestarian, pengembangan dan pemajuan seni dan kebudayaan di Indonesia. Apalagi ISI Denpasar memiliki visi menjadi pusat penciptaan, pengkajian, penyajian dan pembinaan seni yang unggul, berwawasan kebangsaan, demi memperkaya nilai-nilai kemanusiaan sesuai dengan perkembangan zaman.

Untuk mewujudkan visi tersebut, di bawah pimpinan Rektor Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.SKar., M.Hum. telah dilakukan berbagai upaya untuk memunculkan dan mengembangkan pluralitas dan multikulturalitas budaya lokal dan Nusantara, sehingga memiliki daya saing dalam percaturan global.

Peningkatkan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang mendukung pendidikan dan kemajuan seni, ilmu pengetahuan dan teknologi juga telah dilakukan. Di samping juga menjalin hubungan kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi di tingkat nasional dan internasional juga telah dilakukan, termasuk kerja sama dengan stakeholder terkait.

Khusus untuk pelestarian dan pemajuan seni dan budaya Bali, ISI Denpasar memiliki program tahunan untuk merekonstruksi kesenian-kesenian di daerah setempat yang hampir punah. Upaya ini dilakukan untuk membangkitkan kekayaan budaya Bali agar tetap utuh, sekaligus mendukung proses pemajuan kebudayaan yang sedang digalakkan oleh pemerintah.

Sejumlah kesenian yang telah direkonstruksi, yaitu kesenian Joged di Pujungan (Tabanan), Wayang Wong di Budakeling (Karangasem), Legong Pingitan di Pengosekan, membuat prasi di Karangasem dan kerajinan dulang di Bangli, dan tari sakral Legong Dedari dari Banjar Adat Pondok, Desa Peguyangan Kaja, Kota Denpasar.

Selain gencar melakukan rekonstruksi kesenian yang hampir punah, kata Arya Sugiartha saat ini ISI Denpasar juga tengah menyusun Rencana Strategis (Renstra) Tahun 2020-2024. Renstra ini untuk menyempurnakan visi ISI Denpasar yang telah digunakan selama 20 tahun yaitu ‘’Menjadi Pusat Unggulan (Centre of Excellence) Seni Budaya Berbasis Kearifan Lokal Berwawasan Universal’’, yang akan berakhir pada tahun 2020. Rencananya, visi yang akan dikembangkan disesuaikan dengan perkembangan zaman, sehingga lebih relevan dan sesuai dengan kebutuhan terjadi di tengah masyarakat.

Arya Sugiartha mengatakan, secara administratif visi ISI Denpasar saat ini telah tercapai. Sebab, dari 14 program studi (prodi) yang dikelolanya, sebanyak 12 prodi telah terakreditasi Unggul (A). Bahkan Akreditasi Institusi telah terakreditasi A sejak 2017.

Arya Sugiartha menegaskan, pihaknya akan terus melakukan transformasi dan lompatan-lompatan kreatif, sehingga Bali yang mewarisi kekayaan kesenian yang melimpah tidak hanya berhenti pada pelestarian dan pergelaran rutin, namun mampu melahirkan pemikir-pemikir seni yang visioner. Di samping juga meningkatkan kualitas SDM, terutama memfokuskan dosen yang bergelar doktor menjadi profesor, meningkatkan kualitas kelembagaan, dan meningkatkan kualitas kegiatan mahasiswa, serta meningkatkan kualitas penelitian, publikasi ilmiah dan pengabdian masyarakat. (BTN/kmb)

Comments are closed.