Jemblung: Sebuah Pendekatan Semiotika

Jemblung: Sebuah Pendekatan Semiotika

Oleh: Saptono, Dosen PS Seni Karawitan

Dalam semiotika ada dua aliran utama yaitu mazab Peirceian yang berangkat dari logika, dan mazab Saussurian bertumpu pada ilmu bahasa. Semiotika Saussur sering disebut “semiotika signifikasi” yang berbasis pada elemen-elemen sebuah tanda di dalam sebuah sistem yang kompleks. Semiotika signifikasi yang bertumpu pada ilmu bahasa, Saussur membuat sepasang kebahasaan dengan istilah langue (bahasa) dan parole (ucapan, ujaran, tulisan). Langue merupakan struktur bahasa yang secara kesatuan aturan linguistik harus dipatuhi, dan parole (ucapan, ujaran, tulisan).

Pertunjukan jemblung sebagai kesenian bertutur adalah syarat dengan penggunaan bahasa, baik bahasa suara, bahasa gerak, dan bahasa visual. Bahasa, seperti yang dijelaskan Edi Sedyawati (1998; makalah untuk lokakarya Internasional Metodologi Kajian Tradisi Lisan, tgl 8-11 Juni 1998 di Bogor) sebagai berikut: pertama bahasa adalah sistem ungkap melalui suara yang bermakna, dengan satuan-satuan utamanya berupa kata dan kalimat, yang masing-masing memiliki kaidah-kaidah pembentukannya. Kedua, bahasa yang berarti  bermakna kiasan, istilah “bahasa” juga dugunakan untuk menamakan cara-cara ungkap apa pun yang mempunyai susunan dan aturan (dalam Pudentia. Ed. 1998:1).

Dengan demikan bahasa dalam pertunjukan jemblung yang unsur utamanya adalah suara vokal, maka unsur bahasa baik dalam arti sebenarnya maupun dalam arti kiasan memiliki kekhasan keterkaitannya dengan kebudayaan Banyumas. Di dalam kebudayaan Banyumas terkandung unsur-unsur kebudayaan Jawa lama terutama tercermin pada bahasa dan sistem kepercayaan. Bagi masyarakat Banyumas, bahasa Banyumasan merupakan bahasa ibu yang hadir sebagai sarana komunikasi sehari-hari. Bahasa Banyumasan diyakini sebagai peninggalan bahasa Jawa lama (Jawa Kuno, dan Jawa Tengahan) atau bahasa Jawa baku yang bagi masyarakat Banyumas sering menganggap dengan istilah “bandhek, sedangkan masyarakat luas menganggap bahasanya orang Banyumas dengan istilah “ngapak-ngapak” (pengucapan konsonan diakhir kata dibaca dengan jelas dan apa adanya).

Jemblung: Sebuah Pendekatan Semiotika Selegkapnya

Comments are closed.