Kadis Kebudayaan Tinjau Persiapan Oratorium Anggada Duta

Kadis Kebudayaan Tinjau Persiapan Oratorium Anggada Duta

Denpasar- Perhelatan tahunan Pesta Kesenian Bali (PKB) akan kembali digelar pada 12 Juni hingga 10 Juli mendatang. Ajang seni dan budaya tersebut yang berlangsung untuk ke-32 kalinya itu akan dibuka oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono.  Pada pembukaan pawai PKB, ISI Denpasar yang setiap tahunnya selalu mengisi konten pawai tidak pernah absen pada PKB tahun ini. Selain mempersiapkan Adimerdangga pada pawai pembukaan PKB, ISI Denpasar juga mendapat kehormatan untuk tampil dalam acara pembukaan malam harinya di panggung Arda Candra Art Centre Denpasar yang akan disaksikan oleh Presiden beserta Ibu. Pada kesempatan itu ISI Denpasar akan menampilkan pementasan sendratari kolosal (oratorium) bertajuk ‘Anggada Duta’.

Oratorium Anggada Duta mengisahklan tentang Sri Rama, Laksamana dan Wibisana hendak besiap-siap menuju Gunung Swela untuk menghadapi Balatentara Rahwana, Raja Alengka. Setibanya di Swelagiri, Sri Rama terkesan akan keindahan hamparan hutan, binatang yang hidup harmonis. Kesedihannya terobati oleh candaria kera-kera yang dipimpin oleh Sugriwa, Anoman dan Anggada. Tiba-tiba terlihat seekor kera nyeleneh diantara kerumunan kera-kera yang sedang berkumpul. Wibisana mengetahui bahwa kera itu tiada lain adalah jelmaan raksasa Sukasrana. Anggada segera menangkap untuk dihadapkan pada Sri Rama. Atas perintah Rama, Sukasrana tidak jadi dibunuh, bahkan Ia disuruh kembali melaporkan kepada Rahwana. Anggada diutus oleh Sri Rama ke Alengka memperingkatkan Rahwana agar mengembalikan Dewi Shita. Di Kerajaan Alengka, Raja Rahwana sedang memimpin sidang, sambil menunggu Sukasrana datang dari penyamarannya. Tiba-tiba Anggada datang, dan segera meminta Rahwana menyerahkan istri Sri Rama. Dalam keadaan mabuk, Rahwana menghasut Anggada, untuk tidak memihak Rama, karena ayahnya (Subali) dibunuh oleh Rama sendiri. Ketika Ia kembali, Anggada sempat benrontak pada Sri Rama, namun dapat disadarkan dan Ia pun sepenuh hati membela Sri Rama.

Kisah tersebut disusun oleh para dosen ISI Denpasar yaitu I Wayan Sweca, S.SKar., M.Mus., I Nyoman Cerita, S.ST., M.FA., I Made Sidia, S.SP., M.Sn., I Dewa Ketut Wicaksana, S.SP., M.Hum., dan I Ketut Kodi, S.SP., M.Si. Dalam ceritan ini memberikan pesan yang mendalam bahwa ‘mabuk karena minuman keras, menjadikan raga tidak dapat terkontrol’.

Menurut Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Rai S., M.A., sebanyak 50 penari yang terdiri dari mahasiswa dan dosen ISI Denpasar turut terlibat dalam garapan ini. Sementara iringannya melibatkan sekitar 30 penabuh dari Jurusan Karawitan ISI Denpasar.

Disela-sela latihan, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali IB Sedawa beserta jajarannya, meluangkan waktu untuk meninjau kesiapan garapan dari ISI Denpasar pada 5 Juni 2010, bertempat Gedung Natya Mandala ISI Denpasar. Pihaknya menyampaikan bahwa Ibu Presiden, Ani Yudoyono, sangat concern terhadap garapan dari ISI Denpasar. Karena hampir setiap tahun Presiden beserta Ibu menyaksikan garapan dari ISI Denpasar ini. Besar harapan bahwa oratorium ISI tidak hanya mampu menampilkan garapan yang optimal, tapi juga memberi/ menyampaikan kesan dan pesan kepada masyarakat, terkait dampak negatif dari minuman beralkohol.

Humas ISI Denpasar melaporkan

Comments are closed.