Kain Batik Tua, Media Hias Alternatif Produk Gerabah

Kain Batik Tua, Media Hias Alternatif Produk Gerabah

Kiriman, I Wayan Mudra, PS Kriya Seni ISI Denpasar.

Kain batik tua atau kain batik habis pakai mempunyai nilai tersendiri bagi orang-orang kreatif. Peningkatan nilai ekonomis, dan estetis benda kriya akan muncul dari pemanfaatan benda-benda yang unik, baik sebagai bahan utama atau hanya sekedar sebagai media hias.

Siapa menyangka kain tua habis pakai  yang sudah lusuh dan tidak layak pakai berguna sebagai media hias keramik. Kerap kali kain ini menjadi incaran para pembuat kriya bukan saja untuk media hias keramik, tetapi juga diwujudkan dalam bentuk lain. Walaupun wujud fisiknya terkesan remeh dan sepele ternyata untuk mendapatkannya tidak mudah.  Kain yang sering disebut “kain bekas” di mata perajin ini, sering memberikan kesan kurang baik ditelinga orang seperti kain yang kotor, robek, lusuh dan terkadang menjijikkan. Karena mendengar kata “kain batik bekas” mengisyaratkan kepada orang bahwa kain tersebut adalah kain yang habis dipakai oleh orang tua bahkan nenek, yang badannya kotor dan kurus, keadaannya lusuh, kotor dan berbau tidak sedap karena tidak pernah dicuci. Namun ditangan para perajin justru keadaan ini bisa menjadi nilai tersendiri dalam membuat karya-karya yang unik dan menarik, seperti halnya perajin keramik. Mereka sengaja memang mencari kain bekas untuk media hias. Menjadi pertanyaan kenapa perajin memilih kain bekas bukan kain batik yang baru dengan kondisi yang lebih baik. Pertimbangannya pertama tentu selera konsumen dan yang kedua harganya relatif lebih murah bila dibandingkan dengan kain yang baru, walaupun untuk mendapatkannya terkadang sulit. Dengan pertimbangan bahan lebih murah sehingga akan bisa menekan harga produksi dan meningkatkan harga produk kriya tersebut.

Kain batik bekas diterapkan sebagai altenatif media hias karena memberikan nuansa antik pada produk yang dihias. Nuansa antik untuk pasaran di Bali yang konsumennya wisatawan asing sering kali menjadi suatu hal penting dan dicari oleh perajin.

Pemanfaatan kain batik habis pakai sebagai media hias keramik yang terlihat di pasar selama ini adalah keramik-keramik Lombok tingkatan gerabah yang dipasarkan di Bali.. Gerabah merah tanpa dekorasi didatangkan dari Lombok, kemudian proses pendekorasiannya dilakukan di Bali. Jenis gerabah dengan dekorasi semacam ini terlihat dibuat dan dipasarkan tempat-tempat penjualan gerabah di kawasan Suwung. Hal ini mengindikasikan sasaran konsumen gerabah jenis ini adalah wisatan asing

Bahan utama dekorasi ini selain kain batik bekas juga diperlukan lem sebagai bahan perekat. Teknik penerapan dekorasi ini adalah pertama menentukan jenis motif kain dan posisi motif pada badan gerabah. Perajin dituntut memiliki ketrampilan yang cukup untuk mencapai kualitas dekorasi yang baik,  baik dilihat dari sisi kualitas penerapan maupun kualitas penampilan motif. Penentuan motif dilakukan untuk memilih mana motif yang cocok untuk gerabah berbadan melebar (horisontal) dan mana motif kain yang cocok untuk badan gerabah meninggi (vertikal). Pemilihan motif seperti ini tidak mutlak dilakukan, karena penentuan motif terkadang ditentukan oleh pesanan konsumen. Setelah motif kain ditentukan dilanjutkan dengan pemotongan kain. Teknik penerapan kain pada badan gerabah dilakukan dengan teknik tempel dengan perekat lem. Lem yang cukup baik digunakan adalah lem kastol yang dijual bebas dipasaran. Proses penempelan disebut berhasil bila hasil tempelan melekat dengan baik dan tidak terjadi gelembung-gelembung kain. Proses akhir /finishing, hasil tempelan kain yang sudah kering dilapisi dengan cat transparan. Penggunaan kain batik bekas sebagai bahan hias dapat dilakukan terhadap semua bentuk gerabah. Namun yang paling penting diperhatikan adalah ketelitian dan ketelatenan prases penerapannya.

Kain Batik Tua, Media Hias Alternatif Produk Gerabah selengkapnya

Comments are closed.