Kajian Dramatari Wayang Wong Di Desa Mas Ubud Gianyar

Kajian Dramatari Wayang Wong Di Desa Mas Ubud Gianyar

Oleh : Ni Nyoman Kasih, SST., M.Si. Jurusan Tari,FSP, DIPA 2008

Abstrak Penelitian

Agama Hindu merupakan sebuah agama yang mempunyai unsur ritual, emosional, kepercayaan dan rsional. Melalui dua unsur yang pertama yaitu ritual,  dan emosional agama Hindu dan kesenian (tari-tarian) Bali, satu sama lain saling berkaitan. Mengadakan pertunjukan kesenian, baik tari atupun karawitan (gamelan) merupakan ungkapan pengabdian yang tinggi nilainya untuk menghormati bhatara-bhatari, sebagai manifestasi Ida Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa. Melakukan berbagai seni kerajinan yang berkaitan dengan upacara keagamaan adalah ungkapan “bhakti dan karma marga” untuk mencapai kesatuan dengan Tuhan Yang Maha Esa. Setiap berlangsungnya upacara keagamaan (proses ritual dalam agama Hindu), umat Hindu berlomba-lomba berbuat sesuatu, baik berupa pertunjukantari dan karawitan, maupun pekerjaan yang lain yang berhubungan dengan upacara tersebut. Mereka ingin “ngayah” (mengabdi) menunjukan keterampilan mereka untuk menyukseskan upacara agama.

Wayang Wong adalah nama sebuah drama tari yang terdapat di beberapa daerah di Indonesia. Wayang Wong adalah cabang seni tari klasik, suatu pertunjukan pawayangan yang pelaku-pelakunya manusia, merupakan integrasi antara tari, tabuh, tembang dan drama. Di Bali, Wayang Wong merupakan drama tari bertopeng yang menggunakan dialog bahasa Kawi dan terdiri dari dua jenis,yaiotu Wayang Wong Parwa dan Wayang Wong Ramayana. Dramatari Wayang wong yang disakralkan adalah sebagai sarana upacara keagamaan. Sebagai sarana upacara agama dalam kegiatannya penuh mengandung arti simbolis, yang mana bila dkupas lebih jauh akan mengandung makna filosofis tertentu. Salah satu kegiatan Dramatari Wayang Wong yang disakralkan khusunya Wayang Wong di desa Mas Ubud Gianyar yakni pementasannya dilaksanakan padahari Raya Kuningan.

Tujuan penelitian ini adalah: (1) Mendeskripsikan asal mula Dramatari Wayang Wong di Desa Mas Ubud Gianyar, (2) Mendeskripsikan fungsi Dramatari Wayang Wong pada upacara hari raya Kunigan di Dsa Mas Ubud Gianyar, (3)  Mendeskripsikan tentang persepsi masyarakat desa Mas Ubud Gianyar terhadap keberadaan Dramatari Wayang Wong di desa Mas Ubud Gianyar.

Penelitian Dramatari Wayang Wong ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan teknik pengumpulan data; (1) Wawancara mendalam (indepth interviw), (2) Observasi partisipan (participant observation), (3) Angket dan analisis datanya menggunakan analisis deskriptif yang dilakukan melalui tiga jalur kegiatan yang merupakan satu kesatuan (saling berkait) yaitu: (1) reduksi data, (2) penyajian data, dan (3) penarikan kesimpulan atau verivikasi.

Hasil penelitian menunjukan bahwa timbulnya dramatari Wayang Wong di desa Mas sudah ada yaitu sekitar abad ke XVIII. Hubungan Wayang Wong di Mas dengan upacara di Pura Taman Pule sangat erat dengan upacra Dewa Yadnya, sehingga Wayang Wong ini dapat digolongkan  sebagai tari Wali. Bentuk gerak yang dipakai oleh dramatari Wayang Wong di desa Mas kebanyakan diambil dan gerak tari gambuh. Gambelan batel pewayangan digunakan mengiringi dramatari Wayang Wong di Mas ini dan alat-alatnya terdiri dari dua buah kendang kekrumpungan, empat buah gender wayang, satu buah, kajar , sebuah kempur dan satu tungguh ceng-ceng.

Persepsi Masyarakat Desa Mas Ubud Gianyar Terhadap Keberadaan dramatari Wayang Wong di desa Mas Gianyar adalah tingkat pengetahuan masyarakat terhadap keberadaan  dramatari Wayang Wong di desa Mas Gianyar rata-rata ada pada rentangan 100%. Ini berarti pengetahuan masyarakat desa Mas Gianyar terhadap keberadaan dramatari Wayang Wong sangat tinggi. Sedangkan kemampuan masyarakat untuk mempelajari dan menarikan Wayang Wong sangat tinggi. Hal ini ditunjukan dengan angka persenase rata-rata 100%. Ini berarti pembinaan dramatari Wayang Wong lewat pelatihan perlu terus diadakan. Pelestarian dramatari Wayang Wong sangat didukung oleh masyarakat desa Mas, sedangkan pelatihan pemerintah terhadap pembinaan masih kurang, begitu pula bantuan yang diberikan oleh pemerintah daerah TK I dan II terhadap dramatari Wayang Wong perlu ditingkatkan. Pementasan dramatari Wayang Wong di luar upacara agama belum mendapat dukungan ari masyarakat dan musik iringandramatari Wayang Wong masih banyak yang mendukug digunakannya gambelan batel pewayangan.

Comments are closed.