Kajian Estetis Seni Lukis Gaya Pita Maha

Kajian Estetis Seni Lukis Gaya Pita Maha

Oleh: Drs. I Dewa Made Pastika, Drs. A. A. Gede. Yugus, Msi., I Dewa Ayu Sri Suasmini, S. Sn, M. Erg.

Ringkasan Penelitian, Dibiayai oleh dana DIPA ISI Denpasar

Seni lukis gaya Pita Maha adalah seni lukis yang semula tumbuh dan berkembang di desa Ubud, dan kemudian menyebar  ke daerah lainnya di Bali. Seni lukis yang berakar dari seni lukis klasik tradisional, mendapat sentuhan seni lukis barat, memiliki  corak dan gaya tersendiri yang khas dan unik, dilanjutkan oleh generasi penerusnya sampai sekarang, sebagai seni lukis gaya Ubud.

Dengan adanya perkembangan seni lukis Bali, akibat dari pengaruh yang bersifat positif  atau negatif yang berasal dari dalam maupun luar negeri, banyak mengalami pembaharuan, baik dalam hal ide, konsep-konsep atau teknik pengerjaannya. Pembaharuan dalam hal tema, dari tema pewayangan  selanjutnya menjadi tema kehidupan sehari-hari dalam berbagai aspek seperti upacara di pura, pertunjukan tarian, kesibukan di sawah dan lainnya. Perkembangan di bidang teknik, proporsi-anatomi, persepektif, sinar bayangan dan pewarnaan. Seni lukis gaya Pita Maha pada saat sekarang masih dipajang di  Museum Puri Lukisan Ratna Warta di Ubud, sampai sekarang memiliki koleksi 227 lukisan dan 105 karya patung.

Meningkatnya ilmu pengetahuan dan teknologi telah merangsang kreativitas seniman dalam menciptakan karya-karya baru dan menumbuhkan daya kritis yang lebih mendasar. Berkembangnya seni lukis  Bali sampai sekarang tidak lepas dari dukungan pelukis tua yang dulu secara langsung mendapat pendidikan dari pelukis barat (Walter Spies dan Rudolf Bonnet),  sebagai pelopor berdirinya organisasi  Pita Maha. Di dalam hal menghadapi pengaruh ini, seniman memiliki sikap mandiri, toleransi yang tinggi sehingga dapat mengadakan perubahan karya, pembaharuan serta peningkatan kwalitas karya.

Untuk mengetahuai eksistensi seni lukis Pita Maha dalam hal, ciri-cirinya, teknik pelukisan, bahan dan alatnya serta nilai estetisnya, maka yang menjadi subyek penelitian adalah lukisan-lukisan asli karya pelukis anggota organisasi Pita Maha. Dari lukisan-lukisan itu ditetapkan 10 karya lukisan yang dijadikan sampel yang dapat mewakili karya lainnya. Karya lukisan yang didasarkan atas potensi kreatif seniman, dalam menanggapi pengaruh pembaharuan dibagi menjadi 5 kolompok, yaitu: a. Lukisan tetap dengan tema pewayangan, tidak menunjukkan pengaruh pembaharuan. b. Lukisan  tema pewayangan dengan pembaharuan dalam susunan dan gaya pewayangan. c. Lukisan yang mengalami pembaharuan dalam tema kehiduan sehari-hari. d. Lukisan mengalami pembaharuan dalam tema, proposi anatomi dan sinar bayangan. Dan e. Lukisan yang mengalami pembaharuan secara utuh, seperti: tema, pewarnaan, sinar bayangan dan proporsi-anatomi. Dari karya lukisan ini dianalisa dan dikaji berdasarkan   prinsip-prinsip penyusunan yaitu, kesatuan, penonjolan dan keseimbangan, yang merupakan basis dari prinsip susunan yang berpotensi memberikan rasa keindahan (estetis) karya lukisan. Kajian estetis, terhadap unsur-unsur penentu bentuk dari seni lukis gaya Pita Maha yang terdiri dari: garis, obyek, warna dan tekstur.

Hasil kajian menunjukkan bahwa secara umum  unsur garis sangat dominan dalam menentukan obyek lukisan Pita Maha, karena garis adalah paling hakiki dalam seni lukis dan garis adalah ekonomi dalam seni. Garis dapat berdemensi tebal dan tipis. Garis sebagai kontour yang berdemensi sama tebalnya dapat membentuk kesatuan dalam lukisan pewayangan dan  garis yang tebal dan tipis pada lukisan yang menekankan sinar-bayangan. Garis contour dapat munjukkan penonjolan pada bagian yang terang dengan garis tipis dan garis tebal pada bagian yang kena bayangan. Persamaan unsur garis dapat juga membentuk keseimbangan bagian-bagian dengan keseluruhan obyek.

Dalam pewarnaan, yang didasari oleh gradasi hitam dan putih, memunculkan kesatuan warna antara satu warna dengan warna lainnya mengesankan warna kelam (olem) yang tidak menjolok, karena ada kesamaan dasar warna. Kesan warna kelam sangat tergantung dari kepekatan gradasi warna hitam-putih dan setiap pelukis berbeda cara memberi penekanan atau kepekatan tinta hitam, ada yang senang dengan tinta yang pekat (gelap) dan ada yang senang lebih encer (terang), tergantung dari karakter masing-masing. Teknik pewarnaan ini menunjukkan ciri khas seni lukis Bali pada umumnya dan seni lukis Pita Maha pada khususnya. Penonjolan warna, ditunjukkan dengan penempatan warna pada bagian obyek yang dianggap lebih penting dengan intensitas yang lebih tinggi. Penerapan warna dengan teknik penyinaran (nyenter) dari campuran warna putih dengan kuning memberi kesan penonjolan pada bagian yang terang (kena sinar), dan juga membentuk kesatuan yang dapat menggugah rasa keindahan karena menimbulkan harmoni  dalam perpaduan antara gelap dan terang. Keseimbangan dalam penerapan pewarnaan, dengan penyebaran warna-warna pada setiap bentuk sesuai dengan warnanya masing-masing secara merata, berkesan tidak berat sebelah (seimbang) pada bagian-bagian obyek dan secara keseluruhan.

Penerapan tekstur dalam seni lukis Bali pada umumnya dan seni lukis Pita Maha pada khususnya, bersifat tekstur semu, bidang kelihatan kasar tetapi sebenarnya halus (rata). Tektur muncul dari penerapan teknik sigar mangsi dan atau aburan (gelap-terang), yang membedakan  bagian yang berada di dalam (bawah) lebih hitam dan yang di atas lebih putih, sehingga berkesan terpisah, berbeda, yang sebenarnya datar dan sama saja. Dalam seni lukis Pita Maha tidak secara kusus membentuk tekstur, seperti seni lukis gaya lainnya.

Comments are closed.