Kajian Fungsi, Bentuk Dan Makna Angkul-Angkul Rumah Adat Penglipuran Bagian III

Kajian Fungsi, Bentuk Dan Makna Angkul-Angkul Rumah Adat Penglipuran Bagian III

Kiriman: Ida Bagus Purnawan, Dosen PS. Desain Interior ISI Denpasar

Fungsi, Bentuk dan Makna Angkul – angkul Rumah Adat Penglipuran

Pembagian daerah ruang rumah adat  penglipuran terdapat perbedaan komposisi bangunan pada daerah sisi Kauh ( barat ) dan daerah sisi Kangin ( timur ). Rumah adat di sisi Kauh ( Barat ) rurung gede tempat suci ( sanggah )  terletak disebelah Utara Angkul-angkul, dan Bale adat terletak di sebelah selatan berada satu garis lurus  dengan angkul-angkul sedangkan lumbung, Paon ( dapur ) terletak di sebelah barat sanggah dan loji menghadap ke timur di sebelah barat.

Angkul-angkul merupaka pintu masuk utama ke pekarangan rumah adat penglipuran di bagian depan rumah menghadap ke arah rurung gede. Angku-angkul di daerah penglipuran sedikit ada perbedaan dengan angkul –anagkul di desa seluruh bali. Angkul – angkul di desa penglipuran tidak berisikan pintu, seperti apa yang kita jumpai dibeberapa angkul – angkul rumah tradisional Bali lainnya, dimana angkul –angkul rumah tradisional Bali lainnya tertutup dengan pintu kwadi dan aling – aling untuk menghindari sirkulasi langsung dan akses langsung menuju tempat tujuan. Hal tersebut terkait dengan kepercayaan masyarakat desa adat penglipuran bahwa orang yang masuk dan berkunjung tersebut selalu bermaksud baik dan dengan konsep kerbukaan terhadap siapapun yang berkunjung ke rumah mereka tanpa ada halangan dan terbuka kepada siapapun. Ajaran Keagamaan dan Kepercayaan masyarakat desa Adat Penglipuran adalah ajaran Tantris dimana mereka memuja Leluhur dengan menganut paham Politheisme dengan Monumen pemujaan . Dengan masuknya ajaran Bali Arya dan pengaruh Hindu Majapahit, mereka mengenal Kayangan Tiga dan Padmasana.

Angkul –angkul di desa adat penglipuran merupakan orientasi utama pada tatanan ruang rumah adat desa penglipuran,  dimana angkul – angkul juga merupakan pusat central komposisi rumah linier, dimana setiap pertemuan angkul – angkulnya terdapat halaman antara jalan besar ( rurung gede ) dengan rumah adat yang disebut dengan Lebuh. Sebagai fungsi Utama sirkulasi dari rumah adat sisi Kauh ( Barat ) dengan sisi Kangin ( Timur ) dimana angkul – angkul sebagai penghubung menuju masuk pekarangan rumah adat dengan rumah adat yang lainnya dari sisi yang berbeda, tetapi tegak lurus dengan angkul – angkul dari rumah adat didepannya. Dan seterusnya pada seluruh angkul – angkul di pemukiman  rumah adat di desa adat penglipuran.

Ditinjau dari fungsi tidaklah berbeda dengan angkul –angkul pemukiman lasimnya di Bali, tetapi ditinjau dari arah dan orientasi, posisi angkul – angkul secara  keseluruhan merupakan perlawanan dari landasan ashta kosali merupakan  arah Numbak Bala ( berhadap – hadapan ), ini disebabkan rumah adat penglipuran menggunakan pola linier dan angkul – angkul merupakan pusat orientasi setiap pekarangan rumah, dengan pertimbangan akses masuk dan silang poros Tampak Dara dengan konsep Wra Bhineda.

Makna yang tersimpan didalamnya adalah angkul – angkul rumah adat penglipuran merupakan pekarangan yang merupakan satu kesatuan dengan pekarangan rumah lainnya, dengan kata lain tanpa batas kepemilikan dan rurung gede merupakan poros penyeimbang dari posisi karang rumah dapt. Sehingga tidaklah tabu untuk meletakan angkul – angkul yang berhadap-hadapan dengan rumah di seberangan rurung gede, karena filosofi rumah adat penglipuran bagaikan manusia tidur terlentang kedua sisinya adalah seimbang.

Kajian Fungsi, Bentuk Dan Makna Angkul-Angkul Rumah Adat Penglipuran, Bagian III selengkapnya

Comments are closed.