Kehidupan Berkesenian di Kota Mataram

Kehidupan Berkesenian di Kota Mataram

Kiriman I Gede Yudarta, SSKar., M.Si., Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar

Kesenian merupakan salah satu sub unsur kebudayaan yang tidak dapat dipisahkan dengan keberadaan masyarakat Bali. Ada berbagai alasan mengapa kesenian senatiasa dekat dengan masyarakat Bali, diantaranya: bagi senimannya sendiri di samping sebagai ungkapan estetik, berkesenian juga merupakan wujud persembahan baik kepada masyarakat maupun kepada sang penciptanya. Sedangkan bagi masyarakat kesenian di samping sebagai sarana hiburan, kesenian juga dapat dimanfaatkan dalam berbagai aspek kehidupan terutama dalam kehidupan beragama. Dari kedua alasan inilah akhirnya muncul berbagai fungsi seni. Bandem dan Dibia (dalam Suandewi, 2001:124) secara khusus mengklasifikasikan tari Bali berdasarkan sifat dan fungsinya menjadi tari wali (sacral), tari bebali (untuk upacara keagamaan) dan tari balih-balihan (untuk tontonan atau hiburan).

Melihat kompleksnya fungsi seni dalam kehidupan masyarakat, bagi masyarakat Bali khususnya dimanapun berada akan senantiasa dekat dengan keseniannya. Sebagaimana dikatakan Suyadnya (2006:9) pada bagian lain dari catatan budayanya,

“bila bertandang pada kampung-kampung tua pada sore menjelang malam. Pada beberapa banjar yang memiliki perangkat gamelan, sayup-sayup akan terdengar suara gamelan yang dimilikinya dimainkan warga setempat, baik gong, angklung maupun rindik. Begitu juga disejumlah bale banjar, bisa dilihat adanya sekelompok teruna-teruni yang sedang belajar menari”.

Kenyataan tersebut menandakan bahwa walaupun berada jauh dari induk budayanya, kesenian Bali masih dilakoni oleh masyarakat pendukungnya. Untuk melihat lebih jauh kehidupan berkesenian di kalangan masyarakat Bali di Kota Mataram, ada beberapa poin yang dapat dijabarkan, diantaranya:

1) Seni Dalam Kehidupan Keagamaan

Masyarakat Bali di Lombok Barat dan khususnya di Kota Mataram secara mayoritas memeluk agama Hindu dan sangat taat melaksanakan ajaran-ajaran yang terdapat di dalamnya. Dalam melaksanakan kehidupan beragama, berbagai jenis upacara keagamaan tercakup dalam Panca Yadnya masih tetap dilaksanakan sebagaimana halnya di Bali. Dalam setiap pelaksanaan masing-masing dari yadnya tersebut masyarakat Bali masih menyertakan kesenian sebagai bagian yang penting. Gamelan, tari-tarian dan wayang masih merupakan bagian dari setiap pelaksanaan upacara keagamaan masyarakat di Kota Mataram. Keberadaan beberapa sekaa Gong Kebyar, Gong Gede, Angklung, Gender Wayang, Smar Pagulingan memiliki peran yang sangat penting dalam berbagai upacara yang dilaksanakan. Sebagaimana yang terjadi di lapangan, pada upacara ngaben yang dilaksanakan oleh seorang warga di Karang Kecicang terdapat beberapa jenis gamelan yang dipergunakan dalam rangkaian upacara tersebut. Terdapat gamelan Gong Gede yang sudah dimainkan hingga upacara selesai, gamelan Angklung yang memainkan tabuh-tabuh petegak (instrumental) serta mengiringi prosesi ke kuburan, serta Gender Wayang yang digunakan untuk mengiringi pesantian dan pada saat ngajum.

Demikian pula dalam pelaksanaan upacara keagamaan lainnya. Kesenian merupakan bagian yang dianggap penting dalam rangkaian upacara keagamaan tersebut. Gamelan contohnya, dari berbagai macam jenisnya, merupakan alat musik tradisional yang sangat penting dalam upacara keagamaan. Sebagaimana dikatakan Johan (2003), disebutkan bahwa gamelan yang dipergunakan dalam prosesi ritual Hindu memiliki andil yang sangat besar dalam menciptakan suasana hati, fikiran dan perasaan umat Hindu dalam keadaan mantap secara psikologis, sehingga memungkinkan untuk melaksanakan prosesi ritual secara sempurna (dalam Donder, 2005:14-15).

Demikian pula dengan tari dan wayang. Sebagaimana dikatakan Suandewi (2001:127), Tari Baris Batek yang dipentaskan pada saat pujawali (upacara) di Pura Lingsar, pada saat purnama ke enem memiliki fungsi khusus atau fungsi utama yang wajib dan harus dilaksanakan. Tarian ini dianggap sacral karena merupakan tradisi yang diwarisi secara turun temurun, sehingga melanggar kebiasaan atau tradisi ini merupakan hal yang tabu bagi masyarakat pendukungnya. Bagi masyarakat Bali dan masyarakat Sasak yang terlibat dalam pelaksanaan upacara Perang Topat, seni sacral di samping merupakan keharusan bagi masyarakat pendukungnya, dari aspek kehidupan sosial kesenian ini merupakan salah satu bentuk toleransi dan harmonisasi dalam kehidupan antar umat beragama. Tingginya nilai religious dalam kesenian ini membuktikan bahwa seni atau kesenian dalam berbagai perwujudannya sebagai hasil karya cipta budaya, memiliki fungsi ritual, yang mana dalam hal ini merupakan fungsi primer atau fungsi utama (Gie,2004; Soedarsono,1999).

Kehidupan Berkesenian di Kota Mataram Selengkapnya

Comments are closed.