Kehidupan Masyarakat Bali di Kota Mataram

Kehidupan Masyarakat Bali di Kota Mataram

Kiriman I Gede Yudarta, SSKar., M.Si., Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar

Prihal keberadaan orang-orang Bali di Kota Mataram tidak terlepas dari catatan sejarah yang terjadi dari beberapa abad yang lalu. Dari catatan sejarah, masa lampau raja-raja yang berkuasa di Bali untuk alasan tertentu melakukan ekspansi ke beberapa wilayah di luar Bali, dan salah satunya adalah ke wilayah Lombok. Anak Agung Ketut Agung (1991) dalam bukunya Kupu-Kupu Kuning Yang Terbang Di Selat Lombok, Lintasan Sejarah Kerajaan Karangasem (1661-1950) banyak mengungkap tentang sejarah kedatangan orang-orang Bali di wilayah Lombok pada masa pemerintahan raja-raja di Bali. Sebagaimana diuraikan, gelombang kedatangan orang-orang Bali di Lombok di mulai pada abad ke 12, pada masa pemerintahan Raja Anak Wungsu di Bali, dimana pada saat itu pulau Lombok dapat ditaklukan oleh Bali. Selanjutnya pada  tahun 1530 M, sebagaimana terdapat dalam Babad Sangupati, diungkapkan kedatangan Dang Hyang Nirarta (Pangeran Sangupati) yang merupakan utusan dari kerajaan Gelgel dalam penyebaran agama Hindu diwilayah tersebut. Gelombang ke tiga terjadi pada masa pemerintahan Raja Karangasem Tri Tunggal I (I Gusti Anglurah Wayan Karangasem, I Gusti Anglurah Nengah Karangasem, dan I Gusti Anglurah Ketut Karangasem) tahun 1692.

Dalam versi yang lain, Suyadnya (2006) dalam catatan budayanya menyebutkan bahwa, keberadaan warga Bali di Lombok secara garis besar di bagi dalam tiga gelombang. Gelombang pertama, dari berbagai referensi sejarah disebutkan Kerajaan Gelgel Klungkung pernah mengutus Dang Hyang Dwijendra/Pedanda Sakti Wau Rauh yang akhirnya di Lombok dikenal dengan sebutan Pangeran Sangupati. Kedatangan Rsi tersebut di Lombok, mengajak sejumlah pengikut yang banyak diantaranya menetap di Lombok. Gelombang kedua, terjadi ketika Kerajaan Karangasem berkuasa di Lombok. Pada masa itu warga Bali, khususnya warga Karangasem berbondong-bondong datang ke Lombok ngiring sesuhunan raja yang berkuasa pada saat itu dan ada juga yang mengikuti keluarganya. Kedatangan mereka di Lombok akhirnya membuat pemukiman-pemukiman yang di sebut sebagai “Kampung Tua”. Gelombang ketiga terjadi di era kemerdekaan dimana kedatangan orang Bali di Lombok terkait dengan tugas-tugas baik sebagai PNS/TNI/POLRI serta sebagai wirausaha. Sebagaian besar diantara mereka memilih menetap di Lombok tinggal bergabung dengan masyarakat di Kampung Tua serta sebagaian lainnya membentuk pemukiman baru dengan cara membeli tanah tempat tinggal secara bersama-sama di wilayah-wilayah tertentu.

Kehidupan Sosial

Orang Bali, dimanapun keberadaan mereka baik secara individu maupun berkelompok akan senantiasa hidup sebagaimana di daerah asalnya yaitu Bali. Bagi yang hidup secara berkelompok atau tinggal pada suatu kawasan tertentu di luar Bali, akan senantiasa hidup dengan sistem yang telah melekat dari diwarisi oleh para leluhur mereka. Menyimak kehidupan masyarakat Bali di Mataram, dilihat dari sistem sosial yang dianut, mereka masih tetap mewarisi dan melaksanakan sistem sosial sebagaimana layaknya di Bali, bahkan dalam menjalankannya mereka lebih ketat, taat dan disiplin dari pada di daerah asalnya.

Kehidupan Masyarakat Bali di Kota Mataram, selengkapnya

Comments are closed.