Kesenian Bali Vs Tsunami Globalisasi Budaya

Kesenian Bali Vs Tsunami Globalisasi Budaya

Kiriman Kadek Suartaya, SSKar., MSi., Dosen PS. Seni Karawitan ISI Denpasar.

Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-33 tahun 2011 yang mengangkat tema “Desa Kala Patra: Adaptasi Diri dalam Multikultur” telah berlalu. Tentu, berbicara tentang jagat seni pada dasarnya juga bercerita tentang ekspresi keindahan manusia--sebagai individu maupun sebagai mahluk sosial--yang keberadaannya tergantung dengan tempat, waktu, dan situasi dari dinamika kebudayaan. Kesenian  merupakan kristalisasi dari adaptasi dan pengalaman  masyarakatnya bercengkrama dengan  kehidupan dan keadaan lingkungannya. Demikian halnya kesenian Bali adalah cermin dan simbol kultural pencapaian-pencapaian peradaban masyarakatnya. Kearifan lokal desa kala patra telah menuntun kesenian Bali menunjukkan karakternya yang fleksibel, baik secara internal di tengah masyarakat Bali sendiri maupun interaksi eksternalnya dengan beragam budaya yang menghampirinya. Akan tetapi ketika kini gelombang globalisasi budaya menghegemoni seisi jagat, masih tegarkah kesenian Bali?

            Sebelum dunia “disatukan“ oleh teknologi informasi, komunikasi, dan transportasi seperti sekarang ini, Bali adalah wilayah persemaian ekspresi seni yang sangat dinamis.   Zaman dinasti kerajaan Klungkung pada abad ke 16-17, misalnya, tercatat berkontribusi besar terhadap dunia seni di Bali. Pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong, disebut-sebut sebagai era kebangkitan dan berkembangnya seni sastra, arsitektur, dan seni pertunjukan. Seni pertunjukan klasik seperti drama tari Gambuh, Wayang Wong, Wayang Kulit, dan teater Topeng misalnya, menguak di tengah masyarakat dengan dukungan pengayoman yang karismatik sistem kerajaan saat itu. Dalam perjalanannya, genre-genre kesenian tersebut menjadi dasar-dasar utama pengembangan seni pentas Bali seperti munculnya teater bertembang Arja, drama magis Calonarang dan pragmen tari Legong Kraton.

            Menjelang akhir abad ke-20, Bali kemudian memiliki figur yang menaruh perhatian besar terhadap seni budaya. Adalah Gubernur Bali Ida Bagus Mantra yang menstimulasi kesenian masyarakatnya lewat gagasan pesta seni. Sejak tahun 1978, digelar PKB yang ajeg bergulir setiap tahun hingga kini. Puspa ragam nilai-nilai keindahan masyarakat Bali ditampilkan. Keindahan warisan seni  masa lampau disandingkan dengan beragam ekpresi artistik kekinian. PKB telah menjadi arena berkesenian yang bergengsi lebih dari seperempat abad ini. Para seniman Bali memandang PKB sebagai sebuah panggung kehormatan. Masyarakat Bali menempatkan PKB sebagai peristiwa budaya yang pantas disimak. Pemerintah daerah dan pusat pun tidak lupa mengusung PKB dengan berbagai perspektif, dari latar kepentingan ekonomis-pragmatis, pariwisata misalnya, hingga sebagai wahana idealisme politik kebudayaan.

               Dari sisi pandang strategi kebudayaan, PKB adalah sebuah reposisi kultural masyarakat Bali di tengah era globalisasi. Mencari-cari posisi trategis ini diperlukan mengingat kini secara makro, eksistensi budaya lokal semakin terdesak oleh terjangan budaya global. Globalisasi budaya menyebabkan beragam ekspresi artistik lokal juga ikut tergerus di tengah masyarakat pendukungnya sendiri. Kesenian Bali juga tak kecuali. Memang globalisasi telah menyentuh Bali sejak zaman Bali kuno. Tetapi ketika Bali menjadi tujuan wisata dunia dalam sanggaan perkembangan teknologi informasi, komunikasi, dan transportasi yang pesat, keberadaan nilai-nilai artistik masyarakat Bali mengalami guncangan dan tantangan. Hegemoni media televisi, di satu sisi, mendistorsi bahkan mengeleminasi beberapa ekspresi artistik masyarakat Bali.

            Fenomena mengendornya ekspresi artistik masyarakat Bali yang disebabkan oleh gedoran globalisasi budaya dapat kita simak pada seni pertunjukan tradisi.  Jika ketika Ida Bagus Mantra menggelindingkan PKB,  gedoran globalisasi itu masih terasa datar-datar saja, tetapi perkembangan kehidupan manusia yang begitu cepat kini, memunculkan kejutan-kejutan budaya yang tak terantisipasi sebelumnya. Akibatnya adalah terjadi benturan dan konfrontasi antara nilai-nilai lama dengan nilai-nilai baru-asing yang dibawa oleh globalisasi. Keberadaan seni pertunjukan tradisi Bali di tengah masyarakat Bali, kini semakin mengkhawatirkan. Seni pertunjukan klasik-tua-langka sempoyongan digerogoti zaman. Seni pertunjukan tontonan favorit masyarakat rontok teronggok di pojok. Semua tak berdaya oleh “intimidasi“ enteng-murah-meriahnya beragam seni pop.

             Di tengah perhelatan PKB, melejit sendratari dan Gong Kebyar yang mampu memberikan perlawanan dan menjadi spirit hidup bagi seni pertunjukan tradisi pada umumnya dalam menghadapi hegemoni globalisasi budaya. Kearifan desa kala patra tampaknya menjadi spirit kreatif kokoh dan berbinarnya sendratari dan Gong Kebyar sepanjang perjalanan PKB. Sendratari dan Gong Kebyar melenggang dan meliuk luwes beradaptasi dengan dinamika masyarakat dan gerak zamannya. Lewat olahan artistik yang berakar dari elemen-elemen estetik seni tradisi, sendratari dan Gong Kebyar menjadi wadah reposisi kultural yang merepresentasikan, bahwasannya, konsep desa kala patra masih bertuah menguatkan seni budaya masyarakat Bali. Bisa jadi karena kesadaran atau ketaksadaran dari sanggaan desa kala patra itulah, kesenian Bali masa lalu mampu beradaptasi dari generasi ke generasi. Tetapi ketika kini gelombang globalisasi budaya bergemuruh bak tsunami, berkesenian dengan memperhitungkan dimana, kapan, dan bagaimana beradapatasi dan berreposisi, semestinya menjadi kesadaran penuh politik kebudayaan kita.

Kesenian Bali Vs Tsunami Globalisasi Budaya, selengkapnya

Comments are closed.