Ketika Calonarang “Ngereh” Di Siang Bolong

Ketika Calonarang “Ngereh” Di Siang Bolong

Kiriman: Kadek Suartaya, SSKar., M.Si., Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar

Ni Calonarang girang bukan kepalang karena anak kesayangannya, Ratna Mangali, dipersunting oleh raja Kediri, Airlangga. Tetapi kemudian  gelora suka cita janda desa Dirah itu berbalik menjadi duka kecewa yang mengobarkan api amarahnya. Calonarang  tersinggung berat dan sakit hati atas diusirnya Ratnamangali dari Kediri dengan tuduhan sebagai penganut ilmu hitam leak. Calonarang berang dan mengerang garang. Bersama murid-muridnya, Si Walu Nateng Dirah ini meneror negeri Kediri dengan mengerahkan leak ganas haus darah. Raja Airlangga menitahkan kepada patih andalannya, Maling Maguna, menghentikan prahara yang ditebar Calonarang dan mengembalikan ketenteraman rakyat Kediri.

Kisah janda dari desa Dirah atau Girah itu lazimnya disimak masyarakat Bali pada tengah malam dalam sebuah seni pertunjukan yang disebut Calonarang. Tetapi pada Sabtu (16/4) lalu, Ni Calonarang dan murid-muridnya justru ngereh dan mengumbar ilmu hitamnya pada siang bolong. Tengoklah pementasan garapan seni yang bertajuk “Prahara Ing Kediri“ di panggung terbuka Balai Budaya Gianyar. Karya seni pentas besutan para seniman Sanggar Genta Manik, Desa Seronggo, Kecamatan Gianyar, itu menyihir ribuan penonton yang memadati Pawai Budaya serangkaian hari jadi ke-240 Kota Gianyar.

Didukung oleh lebih dari 200 orang pelaku seni, “Prahara Ing Kediri“ hadir kolosal, diiringi dengan sepasukan penabuh gamelan Balaganjur yang ditata apik. Para penabuh yang bergerak dinamis, merangkai variasi figurasi di atas panggung. Peran-peran yang ada dalam teater Calonarang dihadirkan merajut kisah. Tokoh Ni Calonarang tampak berperan cukup dominan terutama saat mengerahkan murid-muridnya memporakporandakan kerajaan Kediri. Klimaks drama tari ini, pertarungan hidup mati antara Ni Calonarang dengan Maling Maguna, dihadirkan mencekam. Perubahan Ni Calonarang menjadi Rangda divisualisasikan dengan ogoh-ogoh Rangda yang diusung puluhan orang. Maling Maguna meloncat ganas ke atas dan menancapkan kerisnya berkali-kali pada sekujur tubuh Rangda. Penonton tegang.

Sihir adalah tema yang selalu ditonjolkan dalam cerita Calonarang. Kendati berasal dari Jawa, tapi di Bali sendiri, hingga kini, cerita ini masih begitu menggetarkan masyarakat. Cerita dengan tokoh utama bernama Ni Calonarang itu merasuk lewat drama tari Calonarang, sebuah genre seni pertunjukan Bali yang diduga muncul pada tahun 1825, zaman kejayaaan dinasti kerajaan Klungkung.  Dalam seni pentas yang oleh peneliti asing disebut the drama of magic ini, simbol sarang Ni Calonarang di tempatkan di sisi kalangan yang disebut tingga, sejenis rumah panggung yang dibuat agak tinggi. Di depan tingga itu ditancapkan gedang renteng, tempat Calonarang dalam wujud Rangda mengangkang dan menjerit-jerit memamerkan kesaktiannya

Calonarang adalah cerita semi sejarah dengan seting kejadian pada  abad XI, zaman pemerintahan Airlangga di Jawa Timur. Dalam wujudnya sebagai seni pertunjukan Bali, disamping tetap mengacu kepada sastra sumbernya, terjadi pula mengembangan dan penyimpangan. Misalnya muncul tokoh penting yang disebut Rangda yang merupakan siluman Calonarang dalam wujud yang menakutkan. Padahal yang dimaksud rangda dalam sastra sumber adalah janda.

Dalam drama tari Calonarang,  Matah Gede adalah figur atau karakter untuk si janda sihir dari Dirah, Calonarang, sebagai manusia biasa sebelum berubah  menjadi ratu leak dalam wujud yang dahsyat menyeramkan. Tokoh ini memiliki karakter yang khas dan sekaligus menjadi identitas seni pertunjukan Calonarang.  Matah Gede hadir dengan jati diri perwatakan, tata busana, dan tata rias wajahnya. Pemberang adalah watak menonjol dari tokoh yang tak pernah lepas dari tongkatnya ini. Jika sedang naik pitam, sorot matanya yang menusuk tajam dilukiskan pantang dilawan jika tak ingin hangus terbakar. Keangkeran Matah Gede juga dibangun oleh dominasi tata ucapannya dengan suara yang berat dalam bahasa Jawa Kuno.

Antonin Artaud, seorang dramawan terkemuka Prancis, sempat sangat terpesona dengan drama tari Calonarang.  Ceritanya pada tahun 1931,  Artaud dan para pekerja seni pertunjukan di Eropa sempat digemparkan pementasan Calonarang oleh para seniman Bali yang dipimpin oleh Cokorda Gede Raka Sukawati di arena Paris Colonial Exhibition. Sementara itu, kajian ilmiah menyangkut teater ini juga cukup banyak.  Diantaranya, Beryl de Zoete & Walter Spies dalam bukunya Dance and Drama in Bali (1931), Urs Ramseyer dalam The Art and Culture of Bali (1977),  dan I Made Bandem & Fredrik deBoer dengan Kaja and Kelod Balinese Dance in Transition (1981).

Belakangan, televisi yang bersiaran di Bali juga rajin menayangkan teater Calonarang—cukup diminati pemirsa. Calonarang agaknya masih menyihir masyarakat Bali masa kini. Termasuk, garapan seni pentas “Prahana Ing Kediri” tersebut, disimak antusias ribuan penonton yang memadati lapangan Astina Gianyar. Karya seni pentas binaan seniman Drs. I Made Mertanadi, M.Si yang merupakan duta Kecamatan Gianyar ini tampak membuat haru Camat Gianyar, A.A. Gde Agung, S.Sos, M.Si dan Perbekel Desa Seronggo, A.A. Gde Bagus Udayana. Lewat bingkai cerita Calonarang, ungkap Mertanadi, para seniman Gianyar, dalam beragam pengejawantahan ekspresi kreatif seni, bertekad tetap “menyihir” dunia.

Ketika Calonarang “Ngereh” Di Siang Bolong selengkapnya

Comments are closed.