Ketika Dewi Sita Dikalahkan Luna Maya

Ketika Dewi Sita Dikalahkan Luna Maya

Kiriman Kadek Suartaya, Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar

Kelir (layar wayang) dibentangkan di sebuah bale-bale di tepi jalan umum di desa Sukawati, Gianyar. Malam itu, Selasa (12/10) lalu, dalang senior setempat, I Wayan Wija (60 tahun), tampil mementaskan wayang kulit berkaitan dengan odalan sebuah pura. Ketika malam telah menjelang, belencong (lampu wayang) dinyalakan dan gamelan gender ditabuh empat orang pengerawit. Tak tak tak, cepala (dijepit pada jemari kaki kanan dalang) menghentak-hentak menggarisbawahi tuturan kisah yang diangkat dari epos Mahabharata. Tapi, sungguh menyedihkan. Pementasan wayang itu hanya disaksikan segelintir penonton.

Tahun 1970-an, pementasan wayang kulit masih mengundang takjub. Saat itu, sebuah rencana pagelaran teater wayang merupakan kabar yang menggembirakan yang pementasannya ditunggu-tunggu khalayak banyak. Para penonton menyaksikan dengan penuh perhatian keseluruhan proses dan detail pementasan, baik yang disajikan dalam konteks ritual keagamaan maupun pertunjukan wayang dalam ajang profan. Bagaimana aksi dalang di balik layar dalam meragakan boneka pipih dua dimensi itu tak luput dari perhatian penonton. Bagaimana asyiknya penonton menyimak adegan demi adegan sepanjang 3-4 jam dan kemudian mendiskusikan seusai pementasan, menunjukan begitu karismatiknya kesenian yang diduga sudah mempesona penonton pada zaman Airlangga, abad ke-11 itu.

Pesona wayang kulit Bali terasa mulai redup ketika industri budaya global seperti film, video, dan media televisi merambah seluruh sudut dunia.

Kehadiran media elektronik modern yang menerobos ruang-ruang keluarga hingga kamar-kamar pribadi itu mengguncang stabilitas dan integralitas masyarakat dengan nilai-nilai budayanya, termasuk juga terhadap ekspresi kesenian yang menjadi identitas etniknya. Pentas wayang kulit Bali kiranya juga didera involusi, tergerus zaman yang dengan gencar menawarkan beragam bentuk  budaya instant. Revolusi televisi yang menyatukan  masyarakat dunia dengan kemasan informasi, dan terutama homogenitas  budaya populernya sungguh memporakporandakan sikap dan keragaman budaya yang sebelumnya dikawal  komunitasnya dengan penuh kebanggaan.

Tereduksinya kebanggaan itu terjadi terhadap hampir sebagian besar  jagat seni tradisi.  Kini, eksistensi seni tradisi, termasuk seni pertunjukan, khususnya ungkapan seni sebagai tontonan, pada umumnya kalah saing dengan kemasan tontonan media elektronik televisi. Media massa televisi yang berkembang pesat di tanah air  dengan beragam sajian hiburannya telah menyita begitu banyak waktu masyarakat kita sehingga tak berkesempatan dan mungkin kurang berminat lagi mencari kepuasan batin yang sebelumnya diberikan seni tradisi. Kini, di Bali sudah lazim terjadi pagelaran Arja, Drama Gong, dan Wayang Kulit misalnya, sepi penonton karena kebetulan pada jam yang sama sedang ditayangkan acara musik, infotaiment atau sinetron favorit.

Wayang Kulit adalah salah satu seni tradisi yang dulu amat berwibawa kini termasuk lemas lunglai diremas hegemoni sajian hiburan media elektronik modern. Apresiasi masyarakat Bali terhadap wayang sebagai seni pentas tontonan yang sarat tuntunan ini kian pupus. Tengoklah pementasan wayang dalang Wayan Wija tersebut. Totalitas seniman yang juga dikenal sebagai dalang Wayang Tantri itu, yang,  berkisah dengan penuh kesungguhan tenggelam dalam kubangan suasana yang tak menguntungkan. Di depan bentangan layarnya, lalu lintas kendaraan dan manusia berseliweran. Sementara itu sekelompok anak muda obral obrolan sesukanya, tak mau peduli.

Ketika Dewi Sita Dikalahkan Luna Maya Selengkapnya

Comments are closed.