Ketika Orang Amerika Berwisata Budaya Di Bali

Ketika Orang Amerika Berwisata Budaya Di Bali

Kiriman: Kadek Suartaya, SSKar., Msi., Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar.

Sekelompok orang Amerika datang ke Desa Sukawati, Kabupaten Gianyar untuk mempelajari kesenian Bali. Tujuh orang wanita dari Negeri Paman Sam itu berlenggang seni tari, meniti nada-nada gamelan, dan juga berkenalan dengan beberapa aspek estetika dan artistik teater wayang kulit Bali. Selama dua minggu di Bali, mereka tak tinggal di hotel melainkan di rumah penduduk desa Sukawati. Sebab mereka bukan turis biasa melainkan terdiri dari pelajar, mahasiswa, dan guru yang memiliki minat khusus terhadap seni pertunjukan. Antara tanggal 10-25 Juni, mereka belajar seni tari, gamelan, dan wayang kulit dari para seniman alam  di desa setempat.

            Adalah seorang seniman teater Amerika, Maria Elena Bodmann, yang menawarkan kepada para peminat seni pertunjukan di negerinya untuk menimba pengalaman belajar kesenian Bali dengan datang ke Bali. Pemilik dan pimpinan sanggar seni “Bali & Beyond“ yang bermarkas di Los Angeles, California,  mengaku programnya ini baru sebuah rintisan. “Telah lama saya punya angan-angan ingin mengajak rombongan yang berminat pada bidang seni untuk belajar seni pertunjukan Bali langsung pada para seniman alam di Bali,“ ujar wanita yang telah mendalami pertunjukan wayang kulit Bali sejak tahun 1986. Keinginannya itu baru tercapai tahun ini.

            Diungkapkan oleh Maria bahwa untuk merealisasikan program ”wisata budaya“-nya itu tidak mudah. Lewat web-nya ia memaparkan secara berkesinambungan tentang pulau Bali, keunikan budayanya dan keindahan keseniannya serta keramahtamahan masyarakatnya. “Selain melalui internet, program ini juga saya tawarkan ketika saya diundang work shop wayang kulit Bali di sekolah dan kampus, “ ujar Maria yang sering mendalang di negerinya—terakhir ia tampil dalam acara budaya Indonesian Cultural Night 2010 di Universty of California. Enam orang peminat seni yang berhasil dibawanya kali ini, menurutnya sudah memadai, sebab dengan peserta yang mini pembelajaran seni akan lebih berhasil.

            Maria bersama enam rekannya menimba seni pertunjukan Bali pada keluarga I Wayan Nartha (68 tahun), seniman sepuh di Banjar Babakan, Sukawati. Anak pertama Nartha, Ni Made Sudiasih, dan cucunya, Ayu Larasari, mengajarkan seni tari. Anak keduanya, Nyoman Sudiarsa, mengajar cara membuat wayang kulit, dari mengukir  hingga mengecat. Anak ketiganya, I Ketut Sudiana, dan juga cucunya Bagus Natya, mengajarkan pementasan wayang kulit. Dan I Wayan Sarga, penabuh gender Dalang Nartha, mengajarkan menabuh gamelan. Selama sepuluh hari, Maria dan rekan-rekannya memperoleh pengalaman dan menghayati nilai-nilai keindahan kesenian Bali.

            Pengalaman menjelajahi kesenian tersebut, menurut Julia Ohm, seorang guru teater di Massachusset, sangat mengesankan dan membuatnya penasaran. “Saya akan anjurkan pada murid-murid saya untuk mempelajari kesenian Bali,” ujarnya serius. Namun, tari Bali menurut Betty Carr, paling sulit dipelajari tapi begitu dapat dirasakan keindahannya. Kesan tersebut juga serentak dikatakan oleh Gemma Young, Becky Carr, Alexandra Cummings, Claire Mullen, empat remaja yang tampak begitu semangat belajar tari Pendet yang diarahkan oleh Sudiasih dan Larasari. “Tari Bali sangat sulit, tapi pengalaman ini tak akan saya lupakan,” ujar Alexandra Cummings. Gemma yang tahun ini baru mulai masuk SMA juga memberikan komentar senada. “Suatu saat saya akan khusus datang ke Bali menekuni tari Bali, “ ujarnya ceria.

            Kegembiraan dan keceriaan selalu hadir saat orang-orang Amerika itu berinteraksi dengan para pelatih seninya saat belajar menari, menabuh gamelan dan memainkan wayang kulit. Kegembiraan yang menyembul di wajah mereka kian merekah ketika disela-sela belajar seni, juga diajak melihat dan menyimak beragam ritual keagamaan di desa Sukawati dan sekitarnya yang selalu disertai dengan aneka ragam pentas seni pertunjukan. Mereka sempat menonton pertunjukan drama tari Gambuh dalam sebuah odalan di Desa Batuan. Mereka juga datang menonton saat Wayan Nartha pentas wayang kulit di sebuah wihara di Sukawati. Selain menyelami budaya Bali yang berkaitan dengan seni pertunjukan, tentu saja mereka juga tak lupa mengunjungi objek-objek wisata dan menikmati alam Bali.

            Meski hanya berjumlah sehitungan jari, delapan orang Amerika yang dibawa ke Bali oleh Maria tersebut dapat disebut sebagai sebuah wisata budaya yang sesungguhnya. Betapa tidak. Sebab tujuan utama kedatangan mereka ke Bali adalah untuk berkenalan dengan salah satu budaya menonjol Bali yaitu seni pertunjukan. Selain itu, kesenian sebagai ekspresi budaya juga mereka selami lewat pergaulan langsung dengan masyarakat pemiliknya dengan cara belajar kepada para seniman alam di desa. Bagaimana kesenian Bali lestari dan berkembang juga dapat mereka hayati dalam ritual-ritual keagamaan. Selain dalam upacara keagamaan, pameran atau pementasan seni dalam ruang sekuler juga mereka dapat simak dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) 2011.

            Setiba kembali di negerinya, tentu mereka akan bercerita kepada teman dan handai taulannya bagaimana menyatunya keindahan seni, ritual agama, dan masyarakat di Bali. Kehadiran mereka, kendati singkat, akan berkontribusi positif, sekecil apa pun, pada Bali (Indonesia). Sebab melalui penyelaman seni dan budaya yang mereka jelajahi di Bali akan membuka ruang pemahaman lebih menyentuh sanubari dan berpenghargaan terhadap kemanusiaan. Wisata budaya semacam ini perlu digalakkan.

Ketika Orang Amerika Berwisata Budaya Di Bali, selengkapnya

Comments are closed.