Kisah Cinta Bali Kuno Dalam Pentas Wisata Bali

Kisah Cinta Bali Kuno Dalam Pentas Wisata Bali

Kiriman: Kadek Suartaya, SSKar., M.Si., Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar

Dari Pulau Dewata, sebuah garapan seni pentas megah kini menantang penonton mancanegara untuk mengaguminya. Seni pentas yang bertajuk “Bali Agung--The Legend of Balinese Goddesses” itu, dibingkai dengan sahibul hikayat Bali Kuno yang dikemas secara spektakuler di atas panggung besar ultra modern dengan tata lampu dan suara nan canggih. Disajikan secara kolosal, selain oleh lebih dari 150 orang pelaku seni, juga oleh puluhan aneka satwa, dari bebek hingga gajah. Berdurasi satu jam, penonton seakan diajak bersafari melongok sepotong kejayaan peradaban masa lampau Bali, dalam sebuah presentasi artistik masa kini, untuk diapresiasi masyarakat dunia dari beragam budaya dan bangsa.

Disuguhkan rata-rata tiga kali seminggu, “Bali Agung“ yang digarap oleh para profesional seni pertunjukan Bali dan Barat, telah menggelinding selama sembilan bulan. Bali Theatre, sebuah panggung besar berukuran 60x40 meter yang berlokasi di Bali Safari dan Marine Park Gianyar, menjadi arena pengejewantahan kemasan seni pertunjukan yang dirajut dari beragam elemen kesenian Bali menjadi karya kreatif sarat pesona, sejak menit pertama hingga detik puncak. Minggu (1/4) siang yang lalu misalnya, ratusan penonton mancanegara yang menyimak pementasannya, tampak berdecak-decak diayun oleh keapikan visualisasi artistiknya dan kesejukan gurat-gurat pesan persahabatan dan kasih sayangnya.

“Bali Agung“ merupakan karya bersama seniman teater dan koreografer Bali I Made Sidia dengan sutradara kreatif kaliber internasional Peter Wilson. Selain Peter dan Sidia, totalitas garapan seni pentas ini didukung musik sugestif besutan Chong Lim, komposer  upacara pembukaan Olimpiade Sydney 2006. Tak kalah pentingnya menjadikan garapan seni ini begitu terasa menggugah adalah juga desain kostum yang ditangani oleh Richard Jeziorny, seorang penata busana kelas dunia, yang memerlukan riset khusus untuk mendandani seluruh pemain sesuai dengan keadaan dan kultur masyarakat Bali ratusan tahun yang lalu.

Sebuah cerita romantis-tragis yang konon terjadi pada abad ke-12, dijadikan pijakan kreatif-inovatif pentas seni kolosal “Bali Agung“. Tersebutlah Sri Jaya Pangus (Dalem Balingkang), seorang raja zaman Bali Kuno yang mendirikan keratonnya di kaki Gunung Batur. Suatu hari datang saudagar dari negeri Tiongkok yang disertai putrinya Kang Ching Wie. Kecantikan Wie menggedor asmara Jaya Pangus. Kendati mendapat tentangan dari para penasihat istana, Jaya Pangus nekat memperistri Kang Ching Wie. Hanya, perkawinan Bali-Cina itu tak dikarunai keturunan. Jaya Pangus meninggalkan istrinya berkelana dan bertemu dan jatuh cinta dengan Dewi Danu. Dari pertemuan asmara dengan Dewi Danu lahir seorang anak laki-laki bernama Mayadanawa. Pada akhir cerita, Jaya Pangus dan Kang Ching Wie yang kembali bersatu, dikutuk oleh Dewi Danu menjadi patung.

Perkawinan antar bangsa yang dikaitkan dengan keberadaan Barong Landung itu, digarap dengan memadukan seni teater, tari, dan musik. Keseluruhan adegan diuntai dengan narasi (bahasa Inggris)  Jro Dalang  yang berkisah kepada seorang bocah. Diawali dengan penggambaran kehidupan rakyat Bali yang aman dan makmur. Segerombolan bebek yang berenang dituntun pengembalanya di bibir depan panggung, menggarisbawahi harmoni kehidupan yang nyaman dan damai. Jaya Pangus (muncul naik gajah) dilukiskan sebagai seorang raja yang arif bijaksana. Adegan berikutnya adalah kehadiran saudagar Tiongkok dengan kapal besar penuh muatan barang untuk dibarter dengan hasil bumi tanah Bali. Sang Saudagar menawarkan kain sutra, keramik, dan juga uang kepeng. Dari atas kapal juga diturunkan binatang macan, ular, burung elang dan jerapah.

Adegan perkawinan Raja Jaya Pangus dengan Kang Ching Wie dimeriahkan dengan penampilan secara bergantian dan atau bersamaan kesenian Bali dan Tiongkok. Barong Ket dan Barong Sai, ditampilkan bersamaan saling berjingkrak riang merayakan kebahagiaan perkawinan dua budaya. Dari kegembiraan, penonton kemudian disajikan adegan nestapa Jaya Pangus berkelana. Tata lampu yang dominan ungu dan biru mengantar tampilan mahluk-mahluk aneh dan monster-monster yang menyeringai seram, mengernyitkan fantasi alam gaib. Dalam buaian alam gaib inilah Jaya Pangus bercinta dengan Dewi Danu dan melahirkan Mayadanawa. Lepas dari alam gaib, Jaya Pangus dan Kang Ching Wie, dikutuk Dewi Danu, menjadi patung laki dan perempuan. Sepasang patung tinggi besar, muncul tiba-tiba di tengah arena pentas diantar dengan kepulan asap. Di latar belakang juga hadir gunung menjulang diapit candi bentar. Mayadanawa menjadi penerus dinasti raja Bali. Selesai. Penonton bertepuk. Terpukau.

Sungguh memesona. “Bali Agung“ yang sarat dengan trik dan spectacle kiranya memang dirancang sebagai sebuah tontonan megah dan menggugah namun ringan dan menghibur. Tepatnya, “Bali Agung“ berangkat dari konsep seni pertunjukan wisata yaitu sarat variasi, padat, dan disajikan secara menarik. Berbeda dengan seni pentas turistik seperti Barong dan Kecak misalnya, sebagai art by metamorphosis yang kental dengan nuansa magis, simbolis dan sakral--merupakan peniruan aslinya, “Bali Agung“ tampaknya adalah sebuah konstruksi selera estetik profan global dalam bingkai berukir ornamentik lokal Bali. Dalam konteks ini, idealisme dan gagasan progresif para senimannya diberi ruang luas, tetapi hasrat-hasrat dan orientasi ekonomi (pariwisata) juga dikalkulasi dengan cermat. Namun tak dipungkiri, “Bali Agung“ adalah “gebrakan agung“ dunia seni kita dan mudah-mudahan jua memuliakan martabat para senimannya.

Kisah Cinta Bali Kuno Dalam Pentas Wisata Bali, selengkapnya

Comments are closed.