Kumandang Sumpah Palapa Di Tanah Puputan

Kumandang Sumpah Palapa Di Tanah Puputan

Kiriman Kadek Suartaya, Dosen PS Seni Karawitan

Di hadapan Ratu Majapahit, Tribuana Wijaya Tunggadewi, Gajah Mada mengumandangkan ikrar: “Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa“. Mahapatih Mangku Bumi Gajah Mada bersumpah, baru akan beristirahat dengan tenang jika berhasil menyatukan Nusantara. Sumpah sakral Gajah Mada yang dikenal dengan Sumpah Palapa itu menggelegar pada Selasa (5/10) siang lalu di Lapangan Puputan Badung.

Adalah peringatan hari jadi TNI ke-65 yang seusai upacara resmi disertai dengan pementasan tari kolosal bertajuk “Merah Putih Zambrut Khatulistiwa“ yang dibawakan lebih dari 300 pelaku seni. Disaksikan oleh para petinggi Bali, pucuk pimpinan TNI,  anggota TNI dari ketiga angkatan, dan para penonton yang mengitari lapangan, pentas seni garapan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar itu hadir menggugah. Tak kurang dari 20 menit penonton digugah jiwa dan hati sanubarinya dengan pesan-pesan kebangsaan dan cinta tanah air lewat ungkapan ramuan seni tari, teater, dan musik.

Pijakan kontekstualisasi dari garapan seni ini diangkat dari era kejayaan kerajaan Majapahit. Zaman keemasan Kraton Majapahit selalu dikenang dari masa ke masa dengan penuh rasa kebanggaan. Kerajaan agung yang didirikan oleh Raden Wijaya ini mewariskan semangat kebangsaan dan kenegaraan yang kemudian mewarnai lintasan sejarah Indonesia. Sumpah Palapa Patih Gajah Mada di hadapan Ratu Tribuana Tunggadewi  yang bertekad bulat merajut Nusantara, menjadi cikal bakal Negara Kesatuan Republik Indonesia. Falsafah bhineka tunggal ika dalam kitab Sutasoma karya Mpu Tantular pada pemerintahan Hayam Wuruk, membingkai toleransi keberagaman dalam  rekatan keindonesian bangsa kita. Panji-panji merah putih yang diarak semarak pada masa kejayaan Majapahit, menjadi inspirasi dan mengobarkan perjuangan jiwa raga tulus suci para pejuang bangsa saat mengusir penjajah, merengkuh kemerdekaan dan mepertahankan tegaknya Indonesia.

Digarisbawahi oleh narasi yang deklamatis, penonton dibuat takjub dari tata garap artistik pentas seni ini dan terbawa secara emosional oleh kontekstualisasi yang dilontarkan. Diawali dengan penggambaran bayang-bayang kemegahan kerajaan Sriwijaya dan keagungan Majapahit. Dari dua arah berlawanan berarak semarak umbul-umbul, pajeng, lelontek, gebogan berderet melenggang membuat bingkai latar. Masa keemasan kerajaam maritim Sriwijaya dilukiskan dengan tarian perahu. Sepasukan prajurit Wilwatikta dengan tombak, melangkah gagah dan unjuk ketangkasan. Di tengah-tengah arena, berayun puluhan dayang melenggok gemulai dengan senyum tersungging.

Kumandang Sumpah Palapa Di Tanah Puputan Selengkapnya

Comments are closed.