Kunjungan Obama ke Istiqlal Dalam Kajian Komunikasi Lintas Budaya

Kunjungan Obama ke Istiqlal Dalam Kajian Komunikasi Lintas Budaya

Kiriman: Nyoman Lia Susanthi, Dosen PS Seni Pedalangan ISI Denpasar.

            Keberadaan budaya sangat menentukan keberhasilan dalam berkomunikasi. Budaya merupakan cara hidup atau cara berperilaku yang didasarkan atas norma-norma dan nilai-nilai yang disepakati untuk mengatur kehidupan bersama  dalam sebuah entitas kehidupan. Dunia tersebar dengan beragam budaya yang berbeda yang sangat dipengaruhi oleh bahasa, aturan dan norma yang ada pada masing-masing negara. Setiap budaya memberi identitas kepada sekolompok orang tertentu sehingga jika kita ingin lebih mudah memahami perbedaan-perbedaan yang terdapat dalam masing-masing budaya tersebut paling tidak kita harus mampu untuk mengidentifikasi identitas dari masing-masing budaya tersebut. Identitas dapat dilihat dari elemen budaya yang tidak terhitung jumlahnya. Elemen budaya yang penting antara lain terlihat pada sejarah, agama, nilai, organisasi sosial dan bahasa.

Perbedaan ekspektasi budaya dapat menimbulkan resiko yang fatal dalam komunikasi. Sebagai salah satu jalan keluar untuk meminimalisir kesalahpahaman akibat perbedaan budaya adalah dengan memahami prinsip-prinsip komunikasi lintas budaya. Komunikasi lintas budaya terjadi bila pengirim pesan adalah anggota dari suatu budaya dan penerima pesannya adalah anggota dari suatu budaya yang lain. Oleh karena itu, perlu memahami budaya sebagai konstruksi teori komunikasi.

Dalam artikel ini penulis mencoba untuk menguraikan bagaimana perbedaan budaya antara Amerika dan Indonesia disikapi oleh Presiden Amerika Serikat, Barrack Hussein Obama bersama istri saat berkunjung ke Indonesia. Dalam menganalisisnya penulis menggunakan pendekatan pada salah satu teori komunikasi lintas budaya yaitu Communication Accomodation Theory (CAT). Teori ini menjelaskan proses bagaimana identitas dapat mempengaruhi perilaku komunikasi agar individu termotivasi untuk mengakomodasi (bergerak menuju atau menjauh dari orang lain) dengan menggunakan bahasa, perilaku nonverbal, dan parabahasa. Dalam hubungan transaksional antara komunikasi dan identitas menunjukkan bagaimana identitas mempengaruhi komunikasi, dengan tindakan konvergensi dan divergensi. Konvergensi menggambarkan proses dimana individu mengakomodasi dengan interaksi menjadi lebih dekat bahkan menyerupai pola individu lain. Sementara divergensi kebalikannya, yaitu individu menonjolkan perbedaan linguistik antara ingroup dan outgroup dengan individu lain dalam rangka mempertahankan identitasnya.

Dalam kunjungan yang berlangsung dua hari pada bulan November 2010 lalu, penulis hanya mengkaji kunjungan Presiden Obama dan istri ke masjid terbesar di Asia Tenggara yaitu Masjid Istiqlal Jakarta. Kunjungan Presiden Obama bersama istrinya ke masjid melahirkan berbagai spekulasi dan persepsi. Namun ada keunikan tersendiri dalam kunjungan yang berlangsung selama 25 menit di Masjid Istiqlal. Obama sebagai penguasa negara adidaya mampu beradaptasi lewat komunikasi verbal dan non verbal yang ditunjukkannya.

Komunikasi verbal digambarkan pada bahasa yang Obama gunakan selama kunjungan berlangsung. Memasuki Masjid Istiqlal, Obama dan istri disambut oleh Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA. dan Obama langsung mengucapkan salam dengan “Asalamualaikum” yang langsung dijawab oleh Imam Ali dengan "Waalaikum salam dan selamat datang di tanah air Anda yang kedua". Walaupun hanya satu kata yang diucapkan Obama, namun membawa dampak yang luar biasa, karena makna 'Assalaamualaikum' ialah semoga Allah menyelamatkan dan memberikan kesejahteraan atas kamu. Salam dalam bentuk ucapan adalah ungkapan yang bersifat amalan digunakan untuk memperkenalkan diri atau menyapa orang lain.

Mempersepsi manusia tidak hanya lewat bahasa verbalnya, yaitu bagaimana bahasanya (halus, kasar, intelektual dan sebagainya), namun juga melalui prilaku non verbalnya. Komunikasi non verbal memiliki muatan emosional yang lebih dibandingkan komunikasi verbal.  Klasifikasi bahasa non verbal diantaranya bahasa tubuh, orientasi ruang dan jarak pribadi, diam, sentuhan, penampilan, konsep waktu dan yang lainnya. Dalam kunjungan singkatnya, Obama dan istri juga menunjukkan komunikasi non verbal yang lebih cenderung pada klasifikasi bahasa tubuh dan penampilan. Busana dapat menunjukkan nilai-nilai agama, kebiasaan, tuntutan lingkungan, yang semua sangat dipengaruhi oleh respon kita terhadap lingkungan. Dalam kunjungannya, istri Obama, Michelle mengkombinasikan busana yang dikenakan saat berkunjung ke masjid dengan pakaian jas formal berwarna hijau, dengan balutan kerudung. Subkultur atau komunitas menggunakan busana yang khas sebagai simbol keanggotaan mereka dalam kelompok. Di Indonesia orang menggunakan kerudung, jubah atau jilbab sebagai tanda keagamaan dan keyakinan mereka. Komunikasi non verbal yang ditunjukkan Micchelle melalui busana mencerminkan kepribadian dan citra yang dia miliki. Miishelle yang bukan muslim sangat terbuka terhadap agama lain dan menerima perbedaan untuk tujuan perdamaian. Komunikasi non verbal lainnya yang ditunjukkan Obama dan istri adalah dengan melepas alas kaki saat memasuki areal masjid. Adat ketimuran menunjukkan sopan dan santun saat memasuki tempat ibadah adalah dengan melepas alas kaki. Sebagai bentuk penghormatan dan menghargai sesama, Obama dan istri juga melakukan hal yang sama.

Dari gambaran tersebut terlihat jelas bahwa Presiden Obama beserta istri, saat melakukan kunjungan ke Indonesia khususnya ke Masjid Istiqlal, melakukan upaya konvergensi. Presiden Obama mengakomodasi dengan mendekati lawan bicara melalui penggunakan bahasa seperti menyampaikan salam  “Asalamualaikum”. Konvergensi lainnya yaitu dengan menggunakan prilaku non verbal dari gaya berpakaian dan sikap non verbal yang bergerak mendekati daerah adaptasinya.

Kunjungan 25 Menit Obama dan Istri ke Masjid Istiqlal JakartaDalam Kajian Komunikasi Lintas Budaya selengkapnya

Comments are closed.