Kunjungan Prof. Satrio Soemantri Brodjonegoro ke ISI Denpasar

Kunjungan Prof. Satrio Soemantri Brodjonegoro ke ISI Denpasar

Prof Satrio Soemantri Brodjonegoro berkunjung ke ISI Denpasar pada tanggal 18 Mei 2008. Beliau berbicara dihadapan civitas ISI Denpasar. Tentang krisis global dan industri kreatif.

Krisis ekonomi global berpengaruh pada kehidupan, terjadinya PHK besar-besaran, perusahaan banyak mengurangi jam kerja sehingga berakibat pada berkurangnya pendapatan. Penurunan kinerja ini disebabkan oleh daya beli masyarakat yang berkurang.

prof Satrio dan Rektor ISI Denpasar

prof. Satrio dan Rektor ISI Denpasar

Fenomena menarik non Bank juga turut collapse, karena pengaruh jual beli yang menggunakan kurs keuangan. Contoh seperti ini diambil karena merupakan salah satu krisis global yang terjadi, tetapi bagaimana krisis tersebut dapat mengambil khihmahnya. Industri kreatif malah tumbuh dengan pesat. Industri kreatif memiliki ketahanan cukup besar karena memiliki keunggulan dalam kreativitas yang bermanfaat bagi masyarakat. Contoh dengan mobil fiat di Italia yang mengembangkan mobil kecil dengan menggunakan kreatifitas sehingga mempunyai nilai tambah sehingga bisa mengambil alih/mengakuisisi General Motor di AS.

Solusi untuk menghadapi krisis adalah harus menumbuhkan industri kreatif. Indonesia mempunyai potensi, peluang tinggal menghasilkan produk yang mempunyai kreatifitas tinggi dan dicari oleh masyarakat. Karya seni harus mempunyai nilai yang tinggi, dan paling dibutuhkan oleh banyak orang. Industri Seni kalau dilihat dari sisi daya beli, banyak orang yang mengatakan bahwa sulit orang membeli karya seni jika daya beli masyarakat menurun.

Bagaimana seni kreatif dijadikan sebagai kebutuhan yang esensial bukan hanya dengan slogan tetapi dengan karya nyata. Pendidikan di Mancanegara, Prof Satrio melihat bahwa pendidikan seni sama pentingnya dengan pendidikan  lainnya. Di beberapa negara, karya seni bukan sebagai kebutuhan yang mewah tetapi merupakan kebutuhan dasar bagi masyarakatnya.

Pendidikan Tinggi haruslah mempunyai Visi dan misi yang terarah. Walaupun Visi-misi pada beberapa PT di Indonesia masih terjadi visi misi PT yang tidak tefokus dan terarah.

Mengenai Pendidikan Seni di ISI Denpasar, Prof Satrio melihat ada 2 track/jalur berbeda:

1. ISI Denpasar ingin meciptakan sesuatu yang terbaik (penciptaan),

2. ISI Denpasar ingin menciptakan ilmuwan (pengkajian),

sehingga dari sinilah segala ide kreatif muncul. Nilai tambah akan meningkat, kalau kreativitas akan terus ditingkatkan.

prof-satrio-berbicara-pada-civitas-isi-denpasar

Perbincangan Prof. Satrio dengan civitas ISI Denpasar

Bagaimana keindahan (seni) menjadi sesuatu kebutuhan pokok, bagaimana pendidikan seni (ISI Denpasar) menciptakan kehidupan masyarakt yang harmonis, karena pendidikan seni terdapat fenomena untuk memperkaya bahkan menampilkan nilai-nilai yang ada di masyarakat. Sehingga sivitas ISI diminta proaktif untuk memperkaya norma-norma, dan nilai-nilai yang ada di masyarakat.

Masyarakat Jepang dan Cina sangat memegang teguh nilai-nilai tradisi dalam mencapai perkembangan, nilai-nilai tersebut dijadikan pedoman dalam mencapai kemajuan. Satrio berpendapat bahwa yang akan bertahan terhadap kemajuan dan modernisasi adalah berdampingannya antara tradisi dan modernisasi.

ISI memerlukan strategi dalam mengharmoniskan antara tradisional dan modern seperti pembentukan misalnya Translation center. Dimana nilai-nilai tradisional di sebarluaskan kepada masyarakat dunia melalui penerjemahan naskahnaskah kuno yang banyak mengandung nilai-nilai kehidupan. Kalau ini terus dikembangkan maka hanya satu-satunya yang ada di dunia.

Pendidikan secara keseharian, secara tidak langsung memberikan nilai-nilai yang ada di masyarakat. ISI mempunyai kemampuan penyelesaikan konflik dari sisi budaya. ISI mempunyai kemampuan untuk berkolaborasi, ISI mempunyai kemampuan untuk eunterpretenership dalam mengembangkan softsklill, seperti kemampuan berkomunikasi dan saling menghargai, sehingga ISI bisa dikembangkan menjadi sebuah institusi yang mempunai kemampuan membina masyarakat madani. Sehingga ISI menjadi sebuah tempat dalam mengembangkan milenium goal (yang mengungkapkan 13 butir kebutuhan dasar manusia).

Kekuatan ISI terletak pada fungsi menciptaan masyarakt yang harmonis melalui karya seni yang ditampilkan dalam berbagai cara. Terbuka peluang yang sangat lebar sehingga kreativitas perlu dikembangkan. Berdasarkan pengamatannya, di Jepang, konsentrasi penuh dapat menghasilkan sebuah ide kreatif. Berbeda dengan di Indonesia bahwa para seniman akademis perlu waktu untuk menumbuhkan ide kreatifnya.

Comments are closed.