Legong Kraton Merintih Di Tengah Pasar Seni

Legong Kraton Merintih Di Tengah Pasar Seni

Kiriman Kadek Suartaya, Dosen PS. Seni Karawitan, ISI Denpasar

Pada masa lampu, tari Legong atau Legong Kraton identik dengan desa Sukawati. Keberadaan tari klasik Bali yang keindahannya dikagumi masyarakat dunia ini, diduga kuat lahir dan berkembang dari desa ini. Adalah tiga orang seniman setempat, Anak Agung Rai Perit, I Made Duaja, dan Dewa Blacing dikenal sebagai pelatih Legong yang termasyur hingga ke seluruh Bali. Pada tahun 1920-an, para penari dari Buleleng, Karangasem, dan Badung banyak yang datang belajar Legong Kraton di Sukawati. Namun kini, setelah sekian lama berlalu, jejak-jejak kejayaan Legong tak meninggalkan bekas di desa tersebut. Sukawati kehilangan kerling Legong-nya. Sukawati kini kesohor dengan gemerincing industri budaya, pasar seni.

 Legong tak termasuk menjadi komoditi estetik di tengah riuh penjajaan industri budaya hampir di setiap lekuk desa Sukawati. Legong Kraton mungkin hanya masih menjadi romantisme masa lalu. Rabu (20/7) malam lalu misalnya, beberapa meter dari pasar seni Sukawati,  di sebuah pura yang menyelenggarakan ritual keagamaan, ditampilkan aneka tarian dengan aksentuasi tari Legong yaitu Legong Lasem dan Legong Kuntul. Legong Lasem yang bertema cinta asmara dan Legong Kuntul yang bertutur tentang canda ria sekawanan burung bangau tersebut dibawakan begitu apik oleh para mahasiswi ISI Denpasar. Kendati mampu menebar decak kagum, akan tetapi penonton--masyarakat Sukawati generasi masa kini--terasa tak memiliki ikatan batin lagi dengan masterpiece tari Bali ini.

Pada tahun 1950-an, sebuah pementasan tari Legong sangat dielu-elukan masyarakat penonton desa Sukawati. Seluruh detail estetik dan rona artistik dalam pementasan legong dinikmati cermat oleh segenap penonton. Dari gelungan hingga kain yang dikenakan penari disimak rinci. Bahkan bagaimana aroma bedak dan keringat para penarinya juga diendus penonton. Kepiawaian para penari Legong dipuja-puji. Bagaimana energik dan lincahnya pemeran Condong ketika berloncat-loncat di atas kursi jadi burung garuda dalam Legong Lasem disaksikan sarat perhatian. Legong pemeran Condong, Desak Putu Gabrig, begitu tenar pada saat itu.

Binar Legong Sukawati kini memang telah redup. Ketenaran Desak Putu Gabrig yang kini telah uzur--malam itu turut menyaksikan tari Legong yang disuguhkan ISI Denpasar--tak begitu dikenali lagi oleh masyarakat Sukawati generasi berumur 50 tahun ke bawah. Masyarakat Sukawati generasi usia produktif masa kini mungkin lebih mengenal para selebriti seni pentas hiburan populer layar kaca, seperti masyarakat Indonesia pada umumnya yang tak hirau lagi dengan ekspresi artistik komunal tradisinya. Desa Sukawati dengan pasar seninya yang kini menjadi pusat perbelanjaan industri budaya turis domestik dan mancanergara, lebih sibuk dengan pragmatisme transaksi komoditi estetik tetapi di sisi lain kehilangan ikon seni adi luhungnya, Legong Kraton, yang, merintih.

Sejatinya, desa Sukawati sangat wajar mengusung tari Legong sebagai maskotnya. Kendati perlu kajian yang lebih mendalam, sejarah lahirnya dan berkembangnya tari yang banyak disebut-sebut dalam terminologi seni pertunjukan dunia ini, adalah berputar-putar di Sukawati. Babad Sukawati  menyodorkan kisah seorang raja Sukawati, Anak Agung Made Karna, pada akhir abad ke 19, yang bersemadi khusuk di sebuah taman yang sejuk di Ketewel, Sukawati. Dalam yoga semadinya itu ia melihat para bidadari menari gemulai.  Dari semadi beliau inilah konon diterjemahkan oleh para seniman kraton Sukawati menjadi karya seni topeng berparis cantik yang kemudian ditarikan oleh para penari gadis belia. Tari yang memakai topeng canggem ini—mengenakan dengan cara menggigit—hingga kini disakralkan di Pura Payogan Agung Ketewel. Masyarakat setempat dengan takzim menyebut Topeng Legong.

Hingga kini belum jelas, sejak kapan tari legong yang tanpa topeng muncul dan berkembang. Ada yang menyebut melalui evolusi Gandrung, sejenis tari pergaulan yang dibawakan para seniman pria. Tapi yang jelas pada tahun 1920-an, Sukawati dikenal sebagai pusat pengembangan Legong yang dibina oleh Anak Agung Perit, Made Duaja, dan Dewa Blacing. Namun sejak berpulangnya ketiga tokoh legong Sukawati tersebut, pamor seni pertunjukan ini di Sukawati kian pudar. Lebih-lebih setelah munculnya  trend seni kebyar yang menyerang dari Bali Utara, tari legong sebagai genre seni pentas masyarakat Bali Selatan kian tenggelam. Sukawati sebagai persemaian Legong pun kemudian hanya tinggal mewarisi nama saja.

Ketika kini beragam pilihan seni dan hiburam meruyak ke rumah-rumah lewat televisi dan media audio-visual sejenisnya,  membuat Legong kian tergusur, seperti juga dialami kesenian Bali lainnya. Kendati demikian, respek dan mengakuan terhadap keadiluhungan tari ini masih ada. Pesta Kesenian Bali (PKB) masih berusaha menampilkannya. ISI Denpasar, selain merekonstruksi dan mensosialisasikan Legong Kraton di tengah masyarakat Bali, juga menjadikannya sumber inspirasi dalam pengembangan seni pentas yang disebut tari Palegongan. Diharapkan, Desa Sukawati sebagai ibu kandung Legong, semestinya tak hanya mengenang tari ini dalam wujud patung beton yang di pajang di pintu masuk desa sebelah selatan. Sebagai desa yang dulu pernah menjadi kantong Legong yang berwibawa, diharapkan, Legong Kraton tidak hanya dikomoditifikasi dalam kemasan lukisan, baju kaos, relief kayu, dan patung, melainkan direaktualisasikan dan diinternalisasikan secara kongkret di tengah masyarakatnya, khususnya pada generasi muda. Bukan hanya dijadikan media romantisme semu.

Legong Kraton Merintih Di Tengah Pasar Seni, selengkapnya

Comments are closed.