Makna Simbolik Tabu Pertunjukan Wayang Kulit Di Purbalingga, Karesidenan Banyumas, Jawa Tengah

Makna Simbolik Tabu Pertunjukan Wayang Kulit Di Purbalingga, Karesidenan Banyumas, Jawa Tengah

Oleh Sugeng Priyadi, di terbitkan dalam jurnal Mudra edisi Januari 2007

Nakula (Wayang Bali)Tabu pertunjukan wayang kulit di perdesaan Purbalingga, Karesidenan Banyumas banyak ditemukan. Hal itu menjadi mitos yang identik dengan daerah aliran Sungai Serayu-Klawing-Pekacangan. Oleh masyarakat setempat mitos wayang dipercaya sungguh-sungguh terjadi  di DAS Serayu yang selalu terkait dengan keberadaan Dataran Tinggi Dieng yang juga di sana ditemukan gugusan percandian yang dikaitkan dengan mitos wayang, bahkan perang Baratayuda pun terjadi di daerah Karesidenan Banyumas sehingga lakon Baratayuda disakralkan dan selanjutnya ditabukan oleh masyarakat lokal.

Tulisan ini merupakan sebagian dari hasil penelitian tabu pertunjukan wayang kulit di perdesaan Purbalingga yang ditempuh dengan metode folklor (wawancara, klasifikasi, dan verifikasi) (Danandjaja,1985:1-21) dan metode sejarah (heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi) (Notosusanto, 1978:35-43). Metode folklor ditempuh dengan pertimbangan karena sumber data berbentuk folklor lisan yang diwariskan oleh masyarakat setempat. Selanjutnya, bahan-bahan folklor dipakai sebagai sumber sejarah, khususnya dalam rangka penulisan sejarah kebudayaan  (Kartodirdjo, 1986) di tingkat lokal.

Perang Baratayuda dengan segala kekerasannya telah memakan korban yang cukup besar. Tidak hanya para prajurit dan pengikut kedua belah pihak yang bertikai, tetapi juga  yang paling tragis adalah keluarga Kurawa yang tumpas atau habis tanpa tersisa.

Tokoh-tokoh yang menjadi korban Baratayuda, baik ketika perang belum dimulai, ketika peristiwa itu berlangsung, maupun ketika Baratayuda telah usai, memakan korban yang menyedihkan. Meskipun lima orang Pandawa lolos dari kematian, tetapi mereka banyak kehilangan sanak-saudara dan anak-anak mereka. Babak I yang menjadi korban adalah Kalabendana yang terbunuh oleh Gatotkaca karena ia membocorkan Abimanyu yang kawin dengan putri Wirata, Dewi Uttari, kepada Siti Sundari. Karena marah, Gatotkaca menjadi mata gelap dan membunuh pamannya sendiri. Babak II korbannya adalah Antareja yang sudah siap turun laga, tetapi ia tidak mempunyai musuh. Para dewa sebenarnya sudah menetapkan bahwa Antareja akan dihadapkan dengan Baladewa. Namun, Kresna meminta ketetapan itu dibatalkan, maka dewa menyuruh Kresna untuk menyingkirkan mereka berdua. Prabu Baladewa disingkirkan ke Grojogan Sewu untuk melakukan tapa, sedangkan Antareja menjilat bekas telapak kakinya sendiri tanpa disadarinya hingga tewas. Babak III korbannya meliputi Drestarastra dan Dewi Gendari, serta Wisanggeni. Kedua orang tua Kurawa itu tewas karena Kresna melakukan tiwikrama sehingga ada tembok yang roboh dan menimpa Drestarastra dan Dewi Gendari. Kematian kedua orang tua Kurawa itu murni versi Jawa karena pada versi Mahabharata, Dewi Gendari ketika Perang Baratayuda berakhir ia mengutuk Kresna akan mengalami kematian yang sangat mengerikan dan keluarga Yadawa tumpas seperti Kurawa. Sementara itu, Wisanggeni berpulang ke alam keabadian dengan penuh kesadaran karena ia dinasihatkan oleh Sang Hyang Wenang. Jika Wisanggeni terlibat pada Perang Baratayuda, maka Pandawa akan menemui kekalahan, sebaliknya jika ia tidak terlibat, maka Pandawa akan memperoleh kemenangan. Babak IV yang jatuh sebagai korban adalah Bambang Irawan (terbunuh ketika akan bergabung dengan keluarga Pandawa), Utara dan Wratsangka (senapati Pandawa yang pertama-tama gugur), Rukmarata (putra mahkota Mandaraka), Resi Seta (senapati Pandawa), dan Resi Bisma (senapati Kurawa). Babak V mengisahkan tewasnya senapati Kurawa yang meliputi Prabu Bogadenta, Kertipeya, dan Murdaningsih, sedangkan dari pihak keluarga Pandawa, Antasena juga kembali ke alam keabadian yang kasusnya tidak berbeda dengan Wisanggeni. Pada Babak VI, banyak korban yang jatuh, baik dari pihak Kurawa maupun Pandawa. Korban pihak Kurawa meliputi Prabu Gardapati, Prabu Wresaya, Sarojakusuma (Sarojabinangun atau Lesmana Mandrakumara, putra mahkota Astina), Wisakusuma (putra Jayajatra), dan Jayajatra. Korban pihak Pandawa adalah anak-anak Arjuna, yaitu Abmanyu, Bambang Wilugangga, Sumitra, Gandawerdaya, Gandakusuma, dan Prabakusuma. Khusus Abimanyu, ia adalah korban yang jatuh paling menyedihkan karena lukanya arang kranjang atau seluruh tubuhnya terluka oleh senjata. Lakon yang menggambarkan kematian Abimanyu dianggap sebagai kisah yang paling pedih daripada babak-babak Baratayuda yang lain (Anderson, 2000:81). Babak VII korbannya berasal dari pihak Kurawa, yaitu Nara-nurwenda, Prabu Pratipa, Windandini, dan Burisrawa. Pada Babak VIII, Kurawa kehilangan Bagawan Krepa (yang terbunuh oleh Adipati Karna akibat perselisihan yang terjadi di antara mereka), Wikata, Wikatatleng, dan Dursasana. Kematian Dursasana oleh Werkudara itu sebagai akibat perilaku kurang ajar Dursasana terhadap Drupadi sehingga Werkudara berjanji akan mencincang Dursasana (Ibid., p. 102). Babak IX yang jatuh sebagai korban adalah dari pihak Kurawa, yaitu Durgandasena, Durtajayarata, dan Adipati Karna. Korban yang lain adalah Senjaya (putra Yama-widura) yang memihak Pandawa. Babak X merupakan babak yang menentukan karena babak ini dianggap sebagai babak akhir Perang Baratayuda. Babak ini menceritakan semua korban jatuh dari pihak Kurawa yang dimulai oleh Premeya, Pandita Durna, Prabu Salya, Antisura dan Surabasah (anak Sengkuni), Sengkuni, dan ditutup oleh kematian Duryudana di tangan Werkudara. Dua babak berikutnya adalah babak yang menceritakan pascaperang, tetapi kedua babak itu tidak terlepas dari peristiwa kekerasan. Babak XI yang jatuh sebagai korban adalah keluarga Pandawa yang meliputi Dewi Srikandi, Dewi Wara Sumbadra, Arya Setyaki, Trustajumna, Pancawala, Banowati, Kartamarma, dan Aswatama. Dua orang korban yang terakhir adalah orang-orang yang membuat kerusuhan, khususnya Aswatama yang berusaha menuntut balas atas kematian ayahnya (Zaehner, 1992:132), sedangkan Babak XII yang menjadi korban adalah Sencaka, Prabu Wesiaji (anak Brajamusti), dan Resi Jaladara (Prabu Baladewa). Korban-korban yang jatuh pada masa pasca-Baratayuda merupakan efek kekerasan yang ditimbulkan oleh peristiwa sebelumnya. Kekerasan Baratayuda tidak sendirinya padam dengan usainya perang tersebut (Nugroho, 2001:73-83) sebagaimana yang telah dikatakan oleh Geertz (1989:361) bahwa konflik Pandawa melawan Kurawa merupakan konflik yang tidak kunjung berakhir meskipun tampaknya akan diakhiri dengan perang Baratayuda (suatu lakon yang jarang dimainkan di Jawa).

Makna Simbolik Tabu Pertunjukan Wayang Kulit Di Purbalingga, Karesidenan Banyumas, Jawa Tengah, selengkapnya

Comments are closed.