Makna Simbolis Gerabah Dalam Upacara Yadnya di Bali

Makna Simbolis Gerabah Dalam Upacara Yadnya di Bali

Oleh: Drs. I Made Mertanadi, M.Si (Dosen PS Kriya Seni)

Ringkasan Penelitian

Masyarakat Hindu di Bali melaksanakan begitu banyak jenis kegiatan upacara yadnya, baik dalam rutin atau acara tertentu. Dalam setiap pelaksanaan upacara memakai sarana berbagai jenis banten. Akan tetapi dalam pelaksanaan yadnya ini masyarakat belum memahami sepenuhnya maksud dari upacara tersebut. Jadi apa yang dilakukan oleh masyarakat berkaitan dengan perilaku keagamaan tidak sepenuhnya dimengerti dan dipahami. Masyarakat Hindu di Bali pada umumnya menaruh perhatian yang sangat besar pada masalah yadnya, Mereka melaksanakan yadnya dengan penuh kesadaran dan beraktivitas sesuai dengan adat budaya setempat. Pemakaian jenis-jenis sarana serangkaian pelaksanaan yadnya disebut upakara. Adapun jenis sarana dalam upacara yadnya yaitu air dan api. Pengunaan air dan api sebagai sarana dalam suatau upacara yadnya memerlukan suatu tempat atau wadah yang disebut gerabah.

Penelitian ini pada prinsipnya hendak mengetahui dan mendiskripsikan gerabah dalam upacara yadnya pada masyarakat Hindu di Bali dari dimensi bentuk, fungsi, dan makna. Teori yang digunakan, yakni untuk mengungkap bentuk digunakan teori Estetika, mengungkap fungsi digunakan teori Fungsionalisme Struktural, dan untuk mengungkap makna digunakan teori Simbol. Metode yang digunakan adalah (1) Pengumpulan data dengan  Habermes, observasi, wawancara, dan analisis dokumen (2) Analisis data (3) Pengecekan dan keabsahan data dengan menggunakan teknik triangulasi.

Penelitian ini menemukan bahwa dalam upacara yadnya pada masyarakat Hindu di Bali, bentuk gerabah yang digunakan antara lain  coblong, caratan, pasepan, dandang, paso (pane), payuk pere (jun pere), payuk Siwa Budha, puluk-puluk ari-ari, puluk-puluk pedagingan (pendeman), sesenden, gentong, eteh-eteh pedudusan, dan kumbecarat. Fungsi gerabah adalah sebagai wadah air, api, bunga, biji-bijian, buah, dan daun. Makna gerabah terdiri dari  makna relegi dan makna filosofis. Makna relegi yaitu sebagai simbol kumunikasi religius antara manusia dengan Tuhan, yang pada hakikatnya manusia dalam bertindak melaksanakan yadnya selalu memikirkan Tuhan. Makna filosofis yaitu bentuk gerabah dalam upacara yadnya bundar adalah simbol bumi (bhuana agung) dan segala bentuk isinya adalah simbol bhuana alit. Makna yang terkandung adalah sebagai simbol penyatuan wadah dengan isinya, yaitu penyatuan antara bhuana agung (alam makrokosmos) dan bhuana alit (alam mikrokosmos).

Comments are closed.