Mawi Fest II ISI Denpasar 2018 Rangkul Seniman Muda Hadapi Revolusi Industri 4.0

Mawi Fest II ISI Denpasar 2018 Rangkul Seniman Muda Hadapi Revolusi Industri 4.0

Arus globalisasi yang masuk ke Indonesia sudah tak terbendung. Kemajuan global ditandai perkembangan teknologi yang kian canggih.

Dunia kini disebut memasuki era revolusi industri 4.0, yakni pola penekanan pada model digital economy, artificial intelligence, big data, robotic, dan lain sebagainya, atau dikenal dengan fenomena inovasi disruftif.

Menghadapi tantangan tersebut, pengajaran di perguruan tinggi pun dituntut untuk berubah, termasuk di perguruan tinggi seni.

Untuk itu, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar pun menjawab tantangan revolusi industri, dengan menggelar even tahunan Mahasiswa Kewirausahaan Festival (Mawi Fest) ke-2, Senin (26/3) di kampus setempat.

Acara itu diisi seminar kewirausahaan dan pameran industri kreatif, menghadirkan seniman kenamaan, Mario Blanco sebagai narasumber. Kegiatan yang merupakan program kerja Senat Mahasiswa dan UKM Kewirausahaan ISI Denpasar itu melibatkan seluruh civitas akademik.

Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.Skar., M.Hum., mengatakan, lembaga yang dipimpinnya sudah menerapkan pola pembelajaran modern berbasis Entrepreneurial Leadership dengan memberi matakuliah kewirausahaan di setiap program studi. Hal itu dimaksudkan guna merangkul seniman muda bersaing di era revolusi industri. Tidak saja mencipta karya seni, namun mahasiswa dituntut dapat mengelola passion jadi sumber pendapatan.

Arya menambahkan perlu pembekalan dan pola pembelajaran yang menekankan pada konsep digitalisasi industri dan strategi bisnis. “Sebab bisnis seni kan susah-susah gampang.  Seni mengandung kualitas. Di satu sisi, seni tidak boleh sembarangan dipublikasi, bisa saja mengandung pelecehan dan sebagainya, maka perlu penyeimbangan ilmu kualitas dan strategi bisnis seni,” terang dia, didampingi Humas ISI Denpasar I Gede Eko Jaya Utama, SE., MM.

Di lain pihak, Mario Blanco yang menjadi pembicara kunci pada seminar kewirausahaan “Menuju Wirausaha Sukses Mulia” memaparkan tentang strategi bisnis yang mesti diperhatikan wirausaha muda. Kendati seni memiliki pasar tersendiri, namun menurut putra mendiang seniman Antonio Blanco itu, seniman harus mampu memenetrasi bisnis seni masuk ke berbagai pasar dan peminat.

“Seniman gak boleh malu-malu dan setengah hati. Buat relasi untuk mengembangkan bisnis. Karya kita pasti menarik perhatian masyarakat. Apalagi saat ini turis mancanegara masih menyukai kekayaan seni Bali. Dengan menghasilkan karya seni berkualitas, kita juga akan mudah menjadi wiraswastawan yang mapan,” saran dia.

Sementara, Ketua Senat Mahasiswa ISI Denpasar Ovika Aisanti mengaku sudah memetakan program kerja serupa, termasuk akan melibatkan peserta dari kampus lain di Denpasar. Namun pihaknya belum memastikan kapan even diselenggarakan.

“Harapannya mahasiswa sadar betapa penting modal yang harus disiapkan untuk jadi wirausaha sukses. Makanya kita hadirkan narasumber yang berpengalaman di bidang industri seni, dengan sasaran para mahasiswa ISI yang lulus dapat mengikuti jejak Pak Mario Blanco,” tutup mahasiswi Desain Mode itu

Comments are closed.