“Men Brayut” Sumber Inspirasi Karya Patung Keramik Kreatif

“Men Brayut” Sumber Inspirasi Karya Patung Keramik Kreatif

Kiriman : Drs. I Wayan Mudra, PS Kriya Seni FSRD ISI Denpasar.

Men Brayut adalah tokoh seorang ibu dalam ceritera klasik masyarakat Bali yang melahirkan anak banyak bahkan sampai 18 orang. Karena kegigihannya, ibu ini berhasil membesarkan anak-anaknya. Ceritra ini telah lama menjadi ikon seorang ibu beranak banyak bagi masyarakat Bali. Ceritra Men Brayut tidak lekang oleh waktu, kisahnya selalu menjadi model pembicaraan bagi masyarakat Bali dari waktu kewaktu dari generasi kegenerasi. Namun penulis belum menemukan kisah ikon Men Brayut dalam uangkapan drama, tari, seni rupa, maupun dalam pemestasan lainnya.

Tokoh Men Brayut pada kondisi jaman sekarang sering dipakai sebagai contoh seorang ibu yang tidak patut ditiru karena beranak banyak yang berarti menyusahkan hidup keluarga. Kondisi saat ini ada yang mengganggap seorang ibu mempunyai 2 orang sudah, kemudian ikut program Keluarga Berencana sebagai solusi mensejahterakan keluarga. Dengan model seperti ini tujuan hidup yang lebih baik pada sebuah keluarga diharapkan lebih baik. Dengan beranak 2 orang pasutri berharap kebutuhan sandang, papan dan pangan seorang anak akan terpenuhi. Beban hidup yang semakin berat membuat tokoh Men Brayut  semakin jauh dari peradaban kondisi jaman sekarang.

Pemahaman masyarakat terhadap tokoh Men Brayut di atas hanya dilihat dari sisi yang negatif saja yaitu beranak banyak yang tidak sesuai dengan kondisi jaman sekarang. Namun sebetulnya ada sisi positif yang perlu diteladani, yaitu kegigihannya dalam membesarkan anak-anaknya sehingga menjadi anak yang berhasil.  Sisi ini yang tidak banyak ditiru oleh kebanyakan orang saat ini, bukti nyata dilapangan walaupun pasutri beranak 2 orang, namun mereka tidak mempunyai kegigihan untuk membela anak-anaknya dalam urusan kelangsungan pendidikan untuk hari tuanya. Mereka lebih banyak menyerah pada kondisi dan situasi lingkungannya. Akhirnya banyak anak-anak yang terlantar dan putus sekolah. Hal ini tidak perlu terjadi karena sebetulnya dia mampu kalau kegigihannya ada. Kadang terlihat prilaku yang kontradiksi dalam keluarga untuk hal-hal yang menyenangkan yang sifatnya memuaskan jasmani atau rohani keuangannya sedapat mungkin diusahakan. Namun sebaliknya untuk keperluan sekolah dan pengembangan anak usahanya menjadi kendor dengan alasan tidak ada biaya.

Dalam penciptaan karya keramik ini kami bermaksud mengungkapkan tokoh Men Brayut dalam wujud patung. Patung yang direncanakan bentuknya akan disesuaikan dengan kondisi bahan tanah liat sebagai media pembentuknya. Kami membayangkan keunikan seorang ibu dengan anak yang banyak dengan berbagai ekspresi seperti menangis, tertawa, dan  lucu, dapat divisualisasikan dalam sebuah karya. Bentuk patung akan lebih banyak berfungsi sebagai media hias dalam suatu ruang, dan beberapa karya diselipkan fungsi praktisnya. Jadi penggarapan karya lebih dominan perencanaannya sebagai media hias, fungsi hanya sebagai pelengkap saja.  Dari karya ini kami berharap image Men Brayut tidak dipandang dari sisi negatif saja namun juga dari sisi positifnya. Dari karya ihi juga kami berharap supaya tumbuh karya-karya patung dengan media keramik, untuk lebih meningkatkan khasanah seni patung di Bali khususnya. Karena belum banyak dibuat patung-patung keramik yang bersumber dari budaya kekhasan Bali.

Kami menemukan kesulitan dalam mendapatkan pustaka yang memuat khusus ceritera tentang Men Brayut. Namun demikian ternyata dari penelusuran beberapa sumber ceritra Men Brayut tersebut telah puluhan tahun lalu dikenal oleh masyarakat Bali dan banyak dikaitkan dengan pola pengasuhan anak. Seperti yang dikutif pada peringatan Hari Ibu 22 Desember 1939 di Denpasar, berikut ini.

Hari Ibu yang jatuh tiap 22 Desember untuk pertama kalinya diperingati pada Sabtu, 23 Desember 1939, di Gedung Taman Siswa, Denpasar. Peringatan Hari Ibu pertama di Denpasar diprakarsai oleh organisasi Peroekoenan Isteri Denpasar (PID), sementara yang ditunjuk sebagai ketua panitia adalah Nyonya Ida Bagoes Geredeg. Informasi tentang peringatan Hari Ibu yang dilaksanakan pertama kali di Denpasar ini bisa diketahui dari artikel berjudul "Peringatan Hari Iboe" yang dimuat majalah Djatajoe (terbit di Singaraja) edisi 25 Januari 1940. Artikel ini merupakan sambutan Nyonya Ida Bagoes Geredeg, yang dibacakan pada resepsi peringatan Hari Ibu tersebut.

“Men Brayut” Sumber Inspirasi Karya Patung Keramik Kreatif selengkapnya

Comments are closed.