Meng-angkep-kan Oktaf Dalam Gamelan Bali

Meng-angkep-kan Oktaf Dalam Gamelan Bali

Kiriman: I Gde Made Indra Sadguna, mahasiswa pascasarjana ISI Surakarta

Sebagai seorang lulusan institusi seni seperti Institut Seni Indonesia Denpasar, penulis telah banyak mendapatkan pengetahuan mengenai kesenian Bali khususnya yang terkait dengan seni karawitan Bali. Pada institusi tersebut telah dikenalkan berbagai jenis barungan gamelan, persoalan teknis gamelan, serta pembelajaran mengenai istilah-istilah yang melekat pada gamelan Bali. Salah satu istilah yang sering kita dengar dipergunakan baik oleh para mahasiswa, alumni, serta dosen yang membidangi karawitan adalah ‘oktaf’. Di sini saya akan mencoba memberikan suatu argumentasi mengenai merubah paradgima ‘oktaf’ dalam gamelan Bali.

Dalam suatu pembicaraan sehari-hari di lingkungan kampus, acap kali terdengar suatu dialog seperti:

“A: seperti apakah bentuk pelarasan gamelan Gong Kebyar?

B: Gong Kebyar merupakan salah satu gamelan yang memiliki laras pelog lima nada dalam satu oktafnya.”

Apakah ada yang salah dalam percakapan tersebut? Tidak. Hanya saja ‘Keliru”. Kasus-kasus seperti di atas merupakan satu dari sekian banyak contoh yang terjadi di dalam dunia karawitan Bali dan istilah ‘oktaf’ telah menyebar hingga ke desa-desa. Lalu yang menjadi pertanyaan pertama adalah: kenapa istilah ‘oktaf’ tersebut menjadi keliru? Untuk menjelaskan hal tersebut, sebaiknya terlebih dahulu kita memahami betul apa yang dimaksud dengan ‘oktaf’ itu sendiri.

Dalam dunia musik Barat, oktaf memiliki arti octavo atau menunjuk pada nada ke delapan. Ada suatu pemahaman mendasar mengenai oktaf yang telah menjadi suatu konvensi dalam dunia musik barat di seluruh dunia, yakni istilah ‘oktaf’ itu sendiri telah memiliki ukuran yang tepat dan pasti dalam dunia musik Barat (absolute pitch). Tiap-tiap nada memiliki ukuran interval yang pasti dalam jenis instrumen apapun di dalam orkestrasi musik Barat.

Lalu kenapa istilah ‘oktaf’ tidak tepat dipergunakan dalam sistem pelarasan gamelan Bali, padahal ada kemiripan cara kerja dalam sebuah tuning system? Pertama, perlu dipahami bahwa dalam karawitan Bali tidak akan pernah mengenal absolute pitch. Tidak ada satu barungan gamelan di Bali yang benar-benar sama pelarasannya. Coba saja ukur pelarasan suatu gamelan Gong Kebyar A dengan Gong Kebyar B, tidak akan mungkin semuanya sama. Itu bukan dikatakan falsch seperti di dalam musik Barat, namun pemahaman mengenai estetika dari bunyi gamelan Bali dengan musik Barat itu berbeda. Jika sebelumnya sudah dikatakan bahwa musik Barat sudah mengenal suatu konvensi tersendiri dalam menentukan tuning system, namun bagi pelaras Bali perbedaan antar suatu barungan gamelan itulah yang dikatakan indah. Sebuah “harmony in diversity”. Meskipun dalam dunia pelarasan dikenal istilah petuding - sebuah contoh laras yang biasanya dibuat pada beberapa potongan bambu kering - namun jarang sekali ada yang benar-benar tepat dengan petuding tersebut. Ada pemesan gamelan yang minta dipercepat lagi sedikit ataupun diperlambat gelombang ombaknya. Sesungguhnya apa yang diinginkan oleh si pemesan gamelan? Identitas. Suatu sistem pelarasan tertentu akan menghasilkan ciri yang tertentu pula pada suatu barungan gamelan. Simak saja beberapa contoh gamelan Gong Kebyar, seperti saih Gladag, saih Peliatan, saih STSI, semuanya memiliki pelarasan yang berbeda. Umumnya suatu daerah akan bangga dengan memiliki sebuah sistem laras yang bisa dikenal di Bali.

Meng-angkep-kan Oktaf Dalam Gamelan Bali, selengkapnya

Comments are closed.