Menristek Sesalkan Sikap Egoisme Peneliti

Menristek Sesalkan Sikap Egoisme Peneliti

YOGYAKARTA (SI) – Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Suharna Surapranata meminta agar para peneliti Indonesia tidak terkungkung dalam ego masingmasing.

Menurut dia, hingga saat ini masih banyak peneliti yang asyik dengan kepentingan masingmasing tanpa melihat kebutuhan masyarakat yang lebih luas. “Tidak boleh terjadi, peneliti asyik dengan dirinya. Mereka hanya mencari pamor pribadi.Inovasi teknologi harus diperuntukkan bagi masyarakat banyak meskipun kadang tidak membuat dirinya terkenal,” tegas Suharna saat menjadi keynote speaker di seminar nasional Riset dan Teknologi 2010 di Gedung Auditorium Universitas Islam Indonesia (UII),Yogyakarta, kemarin. Menurut dia,pemerintah sudah berupaya memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada mereka yang telah berhasil berinovasi di bidang teknologi.
Hanya saja, pemberian penghargaan, khususnya di bidang materi, masih terbatas. Hal itu terjadi karena ketersediaan anggaran yang terbatas. Meski demikian,keterbatasan tersebut diharapkan bukan menjadi batasan, sebab masih bisa disiasati dengan melibatkan investor. “Proposal yang masuk jumlahnya ribuan. Kemenristek hanya memprioritaskan temuan-temuan yang sejalan dengan program nasional,” paparnya.Menurut Suharna, ada tujuh agenda riset nasional yang perlu mendapat dukungan dari para peneliti. Di antaranya, riset di bidang pangan,energi,pertahanan keamanan, transportasi, information and communication technologies (ICT), kesehatan, dan material baru.
Dari tujuh agenda riset tersebut, proposal penelitian yang masuk lebih banyak mengarah pada riset pangan serta energi dan pertahanan keamanan. “Dari tujuh bidang itu,mari kita teliti dan kita jemput kebutuhannya.Apa sih yang belum terselesaikan? Mari kita buat penelitiannya,” paparnya. Sementara itu, Rektor UII Edy Suandi Hamid menyatakan prihatin atas perkembangan riset teknologi di Indonesia. Data dari Scince Direct menunjukkan bahwa pertumbuhan riset di Indonesia tertinggal jauh dari negara-negara lain. Hasil penelitian pada 1996, output riset Indonesia hanya sekitar 500-an paper dan hingga 2007, ungkapnya, masih kurang dari seribu papper.
“Indonesia kalah dari Thailand yang sudah berada pada lebih dari 1.000 paper pada 1996 dan melonjak 5.500 pada 2007. Begitu pula dengan Malaysia yang sudah mencapai lebih dari 3.500,” tegas Edy.Begitu pula data dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang menyatakan bahwa penelitian Indonesia yang dipatenkan Amerika Serikat baru menempati posisi ke-43 di bawah Filipina.Yang lebih mengenaskan lagi, katanya, Indonesia hingga saat ini masih banyak bergantung pada teknologi dari luar.
Menurut data Institute for Management Development (IMD) 2009, daya saing Indonesia di bidang infrastruktur sains dan infrastruktur teknologi terus menurun. (arif budianto)

Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/334096/

Comments are closed.