Merajut Indonesia Lewat Kesenian Bali

Merajut Indonesia Lewat Kesenian Bali

Kiriman: Kadek Suartaya, Dosen PS.Seni Karawitan, ISI Denpasar

Kesenian Bali kini bukan hanya diakrabi oleh orang Bali saja. Di tengah kebhinekaan seni dan budaya Indonesia, gamelan dan tari Bali khususnya, juga dicintai oleh saudara sebangsa. Simaklah penampilan anak-anak dan para remaja Jakarta pada arena Pesta Kesenian Bali (PKB), Minggu (5/7) siang lalu di Wantilan Taman Budaya Bali. Mereka yang bernaung dibawah Lembaga Kebudayaan Bali (LKB) Saraswati yang bermarkas di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta itu, membuat tertegun penonton lewat sajian tabuh dan lenggang tarinya.

            Selain menyuguhkan gending “Jaya Semara“, “Gilak Jagul“, dan “Gesuri“ yang dibawakan oleh gabungan penabuh anak-anak dan remaja, LKB Saraswati Jakarta yang berdiri sejak tahun 1968 ini juga menampilkan penabuh pria dewasa. Konser dengan menyajikan dua tabuh kreasi, “Gora Merdawa“ dan “Gelar Sanga“ itu cukup memukau penonton. Mereka, para penabuh itu, semuanya memang berasal dari Bali namun telah puluhan tahun merantau dan menetap di ibu kota negara. Pergulatan mereka menekuni kesenian Bali di Jakarta, kali ini, dipersembahkan untuk masyarakat Bali.

            Gamelan dan tari Bali telah menunjukan geliatnya di Jakarta sejak tahun 1970-an lewat sanggar-sanggar seni. LKB Saraswati adalah salah satu wadah bagi masyarakat Jakarta dan orang-orang urban Bali mengenyimpungi gamelan dan tari Pulau Dewata. Lembaga yang mengusung motto “Kesenian untuk Kedamaian dan Persaudaraan“ yang dipimpin I Gusti Kompiang Raka ini,  telah mengangankan sejak lama untuk bisa tampil di PKB. “Kendatipun berkecimpung di Jakarta, kiblat berkesenian kami tetap pada dinamika perkembangan gamelan dan tari yang terjadi di Bali,“ ujar seniman asal Banjar Kutri, Singapadu, Gianyar, ini, sebelum pementasan.

            Anak-anak dan remaja Jakarta yang menggeluti tari Bali pada LKB Saraswati, juga diajarkan gamelan Bali, baik berupa iringan tari maupun tabuh instrumental. Siang itu, dengan percaya diri mereka menabuh gamelan Gong Kebyar. Uniknya, mereka tak berpakaian penabuh melainkan berkostum tari yang akan dipakai tampil menari setelah menabuh. Beberapa orang berpakaian tari Margapati memainkan instrumen gangsa. Ada yang berbusana tari Manukrawa memukul ugal. Ada lagi, beberapa orang memakai pakaian tari Satya Brasta berpencar memainkan reong, jublag, cengceng, dan kajar. Tiga gending mampu mereka mainkan dengan lancar.

            Seusai menabuh, mereka kemudian menari dengan iringan para penabuh dewasa tadi. Selain menyuguhkan tari angkatan lama seperti Panji Semirang dan  Margapati yang dibawakan secara masal, anak-anak dan remaja Jakarta ini juga mementaskan tari kreasi seperti Manukrawa, Satya Brasta, Saraswati, Rebong Puspamekar, dan Gadung Kasturi. Skil tari yang mereka tunjukkan cukup bagus. Bahkan kemampuan wirasa (ekspresi atau mimik) mereka rata-rata sangat mantap. Tari kreasi Satya Brasta ciptaan Nyoman Cerita yang mengisahkan kepahlawan Gatotkaca dalam perang Bharatayuda, misalnya,  dibawakan cukup apik, yang, seluruh penarinya adalah remaja putri.

            Jagat tari Bali di Jakarta memang umumnya diminati oleh kaum wanita. Mereka berasal dari beragam latar belakang etnis seperti Jawa, Sunda, Betawi, Batak, Menado, Bugis hingga keturunan Cina. Begitu pula mereka yang berkesenian di LKB Saraswati. Sadar pentingnya kemesraan persaudaraan sebangsa itu, dalam penampilannya di arena PKB, secara khusus mereka menggarap tari “Rampak Nusa“ yang mengekspresikan sebuah rajutan, penghormatan, dan perayaan terhadap kemajemukan budaya Indonesia lewat mosaik tari bernuansa Nusantara.

            “Rampak Nusa“ dibawakan oleh 13 orang penari. Diawali dengan penampilan semacam ritual keagamaan yang diwakili oleh tari Rejang dan Baris. Selanjutnya dalam anyaman musik gamelan dan lenggang tari, penonton seakan dibawakan keliling Nusantara lewat penggalan-penggalan tari disertai lagu yang menjadi ciri khas masing-masing daerah. Tari Giring-giring (Kalimantan), Saman (Aceh), Gending Sriwijaya (Sumatera), Pakarena (Sulawesi) dan sebagainya silih berganti mengayun penonton. Pada klimaksnya, seluruh penari yang berbusana berornamen Bali bersatu perpegangan tangan dibawah kibaran bendera merah putih yang diacungkan penari Baris.

            Esensi damai jagat seni dipercaya memiliki spirit menumbuhkan kasih persaudaraan antar sesama. Bagi Indonesia yang bersemboyan bhineka tunggal ika, seni adalah salah satu perekat bangsa yang ampuh. Untuk itulah rupanya, anak-anak dan para remaja Jakarta yang mereguk keindahan gamelan dan tari Bali di LKB Saraswati Jakarta, kali ini diterjunkan langsung agar mengenal dan menghayati lebih dekat lingkungan budaya Bali. Selain tampil dalam PKB, anak-anak dan remaja Jakarta ini juga berkesempatan pentas ngayah  di Pura Desa, Kutri, Singapadu, Gianyar, pada Jumat (3/7) malam lalu.

            Di tengah suasana odalan nan komunal, penampilan penabuh dan penari LKB Saraswati Jakarta itu, disaksikan dengan antusias penonton setempat. Tampaknya terjadi komunikasi dari hati ke hati lewat media pentas gamelan dan seni tari tersebut. Para penonton tampak menunjukkan respek yang tinggi terhadap kemampuan menabuh dan menari yang disajikan oleh tim kesenian dari Jakarta itu. Sebaliknya para penabuh dan penari itu pun menampakkan rona berbinar suka cita.

Merajut Indonesia Lewat Kesenian Bali selengkapnya

Comments are closed.