Merekrut Dosen Peneliti

Merekrut Dosen Peneliti

Publikasi penelitian di Indonesia rendah.Demikian hasil survai setentang publikasi penelitian di Indonesia berkategori rendah. Survei yang dilakukan oleh  SCImago itu  menempatkan Indonesia pada posisi ke-64 dari 234 negara yang diteliti sepanjang tahun 1996 – 2008,jauh dibawah Arab Saudi,Pakistan,dan Bangladesh.

Hasil survei itu tidak mengagetkan lagi sebab sudah bukan rahasia umum kuantitas dan kualitas penelitian  dosen masih rendah. Menurut Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti),jumlah dosen yang meneliti belum mencapai 10 persen dari sekitar 150.000 dosen tetap di perguruan tinggi negeri dan swasta di seluruh Indonesia. Hanya sekitar 12.000 dosen yang terdata melakukan penelitian.

Jika riset saja enggan,bagaimana mempublikasikannya ?

Angka Kredit Dosen

Kalau dikatakan  dosen tidak meneliti tentu tidak betul juga karena penelitian bagi dosen merupakan tugas yang harus dilaksanakan seperti halnya mengajar. Tridarma Perguruan Tinggi menyatakan bahwa tugas staf akademik terdiri dari pengajaran,penelitian,dan pengabdian masyarakat. Satu saja dari ke tiga unsur  tersebut tidak  dipenuhi,maka jenjang kepangkatan dosen akan terhambat.Itu artinya karir dosen akan begitu-begitu saja.

Baik, dosen  negeri maupun swasta supaya pangkatnya naik ke jenjang yang lebih tinggi harus mengumpulkan angka kredit (kum). Kum itu berasal dari unsur pengajaran,penelitian,dan pengabdian. Ketika seorang dosen baru diangkat sebagai dosen tetap,khususnya pegawai negeri ,ia diangkat dengan golongan III b dengan jabatan asisten ahli madya, ,sesuai dengan syarat dosen harus S2. Selama setahun,dosen baru akan mengalami percobaan (calon pegawai negeri sipil) , jika sudah memenuhi syarat diangkat menjadi pegawai negeri secara penuh .

Agar dapat naik golongan dan jabatan yang lebih tinggi hingga mencapai profesor,maka dosen harus mengumpulkan kum yang diperoleh dengan melaksanakan tugas dosen seperti yang tercantum dalam Tridarma Perguruan Tinggi. Untuk naik dari golongan III/b ke III/c misalnya, diperlukan kum 100 point. Begitu seterusnya hingga dosen mendapatkan golongan tertinggi IV/e (Gurubesar) dibutuhkan keseriusan dan waktu yang panjang mengumpulkan angka kredit.

Penelitian merupakan salah satu unsur yang harus dilakukan dosen untuk naik golongan. Penelitian dosen dihargai dengan 5 point. Bila, penelitian dipublikasikan pada jurnal ilmiah ,maka nilainya menjadi 10 sampai 15.Apalagi kalau hasil penelitian itu dipubliksikan di jurnal internasional,kumnya bisa mencapai 50.

Namun faktanya, meski penelitian maupun publikasi ilmiah memiliki nilai yang sangat tinggi, namun dosen yang gemar meneliti merupakan kaum minoritas.Hal ini juga sebagai pertanda kepangkatan dosen di Indonesia tidak bertambah signifikan sepanjang tahun. Meski,telah bertahun-tahun jadi dosen,namun pangkatnya tidak naik-naik.Kebanyakan dosen di Indonesia pensiun pada Golongan IV/a.

Karenanya tak usah heran kalau jumlah profesor kita pun tergolong rendah di Asia.Kurangnya guru besar di universitas di Indonesia dengan demikian menjelaskan satu hal, bahwa kegiatan penelitian hampir tidak ada. Situasi ini terjadi di semua universitas baik yang besar maupun kecil.

Dosen Peneliti

Meski setiap tahun Dikti menambah anggaran penelitian bagi dosen,namun tetap saja bagi dosen,terutama yang berasal dari daerah merasa kesulitan menembusnya. Banyak dosen yang mengeluh karena sudah berkali-kali membuat proposal untuk menembus hibah penelitian yang ditawarkan dikti,namun tidak pernah lolos dari seleksi Reviwer Dikti.Akhirnya,kebanyakan dosen frustasi dan enggan berpartisipasi menembus hibah penelitian yang ditawarkan Dikti.

Apa sebab? Sebagian besar proposal penelitian yang dikirimkan ternyata tidak memenuhi kriteria yang sudah ditentukan Dikti. Dosen-dosen kita belum mempunyai kemampuan menyusun proposal penelitian yang berkelas sehingga harus gugur dari seleksi reviewer dikti yang ketat. Atmosfir PT kita yang masih berkultur pengajaran belum mampu mencetak peneliti .

Kalau sudah demikian yang perlu disalahkan adalah rekrutmennya. Sudah tahu bahwa salah satu tugas dosen meneliti,namun rekrutmen dosen tidak mensyaratkan kemampuan meneliti. Meski menjadi dosen harus lulusan S2 ,namun tetap saja kemampuan menelitinya minim sekali. Lalu bagaimana ?

Belajar dari negara maju,rekrutmen dosen tidak seperti di Indonesia yang hanya sekadar melakukan tes tertulis ,tes wawancara,dan tes mengajar. Agar dapat menjadi dosen  di negara maju,terlebih dulu menawarkan menjadi asisten dosen kepada lulusan terbaiknya. Selama menjadi asisten,universitas menawarkannya mengambil program master atau doktor di universitas yang bersangkutan. Semasa menjadi asisten,universitas akan melibatkannya membantu profesor senior melakukan penelitian. Baru, setelah menyelesaikan program doktor, universitas menawarkan posisi dosen kepadanya. Bila diterima,ia tidak langsung menjadi dosen tetap,namun dikontrak dulu selama beberapa  tahun agar dapat dinilai prestasi kerjanya.

Tentu saja penelitian yang dilakukan oleh dosen kontrak tersebut merupakan  salah satu variabel penting mengangkatnya menjadi dosen tetap. Bila ia berprestasi selama menjadi dosen,pihak universitas akan memudahkannya meraih jabatan profesor.Tidak rumit seperti di negara kita. Makanya,di negara maju,seperti Amerika Serikat usia profesor masih muda belia. Berbeda dengan di sini,sebagian besar profesor sudah berusia tua hingga tidak produktif lagi meneliti.

Mengharapkan tercipta kultur meneliti yang berujung pada publikasi ilmiah bagaimanapun harus dimulai dari input ,rekrutmen dosen. Sulit, kalau masih mengharapkan kepada dosen yang terbiasa mengajar untuk meneliti. Model-model rekrutmen yang dapat menjaring dosen yang bukan saja piawai berceramah,tapi juga ahli meneliti harus sudah dimulai sejak sekarang. Semoga.

Arfanda Siregar
Dosen Politeknik Negeri Medan

Sumber: http://www.dikti.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1811:merekrut-dosen-peneliti&catid=159:artikel-kontributor

Comments are closed.