Meski Kena Tsunami, Simposium Tetap Jalan.

Meski Kena Tsunami, Simposium Tetap Jalan.

DENPASAR— Dosen jurusan Karawitan Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar, I Made Kartawan SSn, MSi, tetap berangkat ke Jepang sebagai pembicara dalam kegiatan Simposium seni bertaraf internasional di Negeri Sakura, 14-15 Maret 2011.

"Kartawan setelah berkoordinasi dengan pihak panitia penyelenggara memperoleh informasi bahwa kegiatan seni bertaraf internasional itu tetap berlangsung di Jepang bagian selatan. Sementara bencana alam itu terjadi di Jepang utara," kata Rektor ISI Denpasar Prof Dr I Wayan Rai S, Minggu (13/3/2011).

Ia mengatakan, Made Kartawan bertolak ke Jepang sesuai jadwal, yakni Sabtu (12/3/2011) malam, sehingga tidak terpengaruh oleh bencana alam yang melanda negeri tersebut.

Menurut General Manager PT (Persero) Angkasa Pura I Bandara Ngurah Rai Bali Purwanto, aktivitas penerbangan dari dan ke Jepang kini kembali normal.

Meskipun demikian, Jumat siang, penerbangan dari Bandara Internasional Ngurah Rai ke Jepang sempat ditunda. Namun, pukul 21.00 Wita, penerbangan sudah kembali dibuka.

Pada Jumat malam, Garuda Indonesia melayani penerbangan ke Jepang menggunakan tiga pesawat.

"Maskapai PT Garuda Indonesia itu melayani tujuan Osaka, Nagoya, dan Narita, pergi-pulang. Pada Sabtu, aktivitas penerbangan itu telah normal," katanya.

Prof Rai menambahkan, I Made Kartawan mendapat kepercayaan tampil menjadi pembicara dalam simposium internasional bertajuk "Audiovisual Ethnography of Gongs in Southeast Asia" yang berlangsung di Museum Nasional Ethology, Osaka.

Kartawan dalam kegiatan internasional itu akan memaparkan gong bali, mulai dari proses produksi, peranan, dan fungsinya hingga penyebaran ke berbagai negara.

Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah seniman dari beberapa negara yang memiliki perangkat gamelan gong, antara lain Kamboja, Malaysia, Filipina, dan tuan rumah Jepang.

Made Kartawan selama berada di negeri Matahari Terbit juga akan mengikuti lokakarya tentang teknik penyelarasan gong, bertempat di Okinawa Prefectural University of Arts.

Dalam kegiatan itu, ia tampil sebagai pembicara dengan kertas kerja tentang teknis penyelarasan gong, baik lewat rekaman kaset pandang dengar (video) maupun mempraktikkannya secara langsung.

Gamelan Bali naik gengsi, bahkan gong kebyar menjadi kehormatan dalam menyambut tamu-tamu penting pada acara wisuda perguruan tinggi di Amerika Serikat.

Masyarakat setempat sangat menikmati konser gamelan Bali yang disajikan seniman dan mahasiswa setempat yang piawai memainkan aneka jenis alat musik Bali.

Ke-17 jenis alat musik tradisional Bali yang berkembang di mancanegara antara lain gong kebyar, angklung, semarandanu, gambang suling, dan kebyar ding.

Suara suling, yang menjadi sumber inspirasi tabuh ciptaan tahun 1963, berkembang di berbagai kampus seni dan komoditas masyarakat di mancanegara.

Musik tradisional Bali kini telah mendunia. Dunia internasional mulai berkenalan dengan gamelan sejak komponis Perancis, Claude Debussy (1862-1918), menonton gamelan di Pameran Semesta yang digelar di Paris pada tahun 1889 untuk memperingati 100 tahun Revolusi Perancis.

Masyarakat Eropa, menurut Prof Rai, semakin menaruh perhatian terhadap gamelan ketika pada tahun 1931, The International Colonial Ekxposition yang digelar di Perancis menampilkan pementasan gamelan dan tari dari Desa Peliatan, Gianyar, sebagai utusan pemerintah kolonial Belanda.

Sumber: kompas.com

Comments are closed.