Minat Mahasiswa Asing Belajar di RI Kian Besar

Minat Mahasiswa Asing Belajar di RI Kian Besar

Jakarta - Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal menyampaikan keingingan agar pemerintah Australia melihat kemungkinan-kemungkinan agar warganya bisa belajar di Indonesia. "Kami sudah kembangkan double degree, credit transfer, dan program internasional, untuk menarik minat pelajar dari luar supaya belajar di Indonesia," ujarnya seusai berbicara pada simposium Australia-Indonesia International Education, di Hotel Mandarin, Jakarta, Senin (13/06)..

Menurut Fasli, saat ini minat mahasiswa asing untuk belajar di Indonesia semakin besar. Kendala-kendala yang sering muncul seperti kurangnya program yang berbahasa Inggris maupun masalah travel banned telah diatasi. Bahkan, variasi program pun ditawarkan kepada mereka.

"Program studi kita sudah bervariasi, ada yang bisa melayani dua minggu, ada yang tiga bulan, ada yang khusus untuk summer course, bahkan full degree. Variasi-variasi tersebut memudahkan mahasiswa asing untuk belajar di Indonesia," tuturnya.

Pada simposium tersebut diutarakan bahwa kedekatan kedua negara secara geografis membuat Australia menjadi pilihan utama mahasiswa Indonesia untuk menuntut ilmu di luar negeri. Kedekatan tersebut juga didukung oleh kualifikasi yang diakui secara internasional, dan lingkungan multikultural yang dimilikinya.

Pada 2010, tercatat 18 ribu orang pelajar Indonesia menuntut ilmu di berbagai lembaga pendidikan Australia. Jumlah ini termasuk 740 orang yang mengikuti program beasiswa pemerintah Indonesia.

Fasli mengatakan, usaha untuk meningkatkan kerja sama pendidikan ini juga harus terus diupayakan dengan memberiĀ  kemudahan-kemudahan bagi mereka dalam mengurus visa dan izin kunjungan bagi orang tua.

"Kami ingin pelayanan makin baik, soal visa, kedatangan orang tua, juga waktu yang tepat bagi anak-anak belajar agar tidak terlalu lama di sana, serta relevansi ilmu yang mereka pelajari, agar bermanfaat untuk diterapkan di Indonesia maupun di Australia," ucapnya.

Hubungan kedua negara di bidang pendidikan ini diharapkan bisa membangun peluang kerja sama ekonomi , dan merapatkan hubungan orang ke orang. Karena menurutnya, hubungan orang ke orang jauh lebih penting dari hubungan diplomasi.
"Biasanya hubungan pendidikan yang baik akan berpengaruh pada meningkatnya hubungan ekonomi yang berakibat pada kesejahteraan masyarakat," ujar Fasli.

Sumber: kemdiknas.go.id

Comments are closed.