Ni Cenik Berpulang, Joged Pingitan Terjengkang

Ni Cenik Berpulang, Joged Pingitan Terjengkang

Kiriman Kadek Suartaya, Dosen PS Seni Karawitan

Seorang nenek renta warga Banjar Pekandelan, Desa Batuan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar,  meninggal pada 24 Juli lalu. Berdasarkan adat setempat, wanita yang berhasil menapak usia 88 tahun itu kemudian dikebumikan. Dadong Cenik, demikian masyarakat setempat menyebutnya,  kembali bersatu dengan tanah tempat kelahirannya, menanti hari baik untuk diaben. Lahir, hidup, mati, adalah sebuah kodrati, peristiwa alamiah. Karenanya, prosesi upacara penguburan mayat Ni Ketut Cenik itu pun menjadi peristiwa biasa dan berlangsung biasa saja, seturut dengan kelaziman di desa itu.

Padahal, Ni Cenik bukan wanita biasa. Cenik adalah seniwati unik yang tak ada duanya di Bali. Wanita yang sepanjang hidupnya berserah diri untuk dunia seni tari ini telah mengharumkan nama Bali hingga ke manca negara. Terakhir, tahun 2008 lalu, seniwati kelahiran 1922 ini, memukau penonton Negeri Sakura. Bersama grup gamelan Joged Pingitan Banjar Pakuwudan, Sukawati, ia menari solo mengisahkan cerita Calonarang. Kendati sepuh, Cenik selalu bersemangat. Energinya membuncah bila sedang menari, baik saat ngayah di pura maupun bila diundang pentas di luar negeri.

Dalam jagat seni pertunjukan Bali, ibu penari kawakan I Made Jimat ini identik dengan Joged Pingitan. Seni pentas langka ini, masih mencoba bernafas, bisa disebut karena totalitas berkesenian yang ditunjukkan Cenik. Bila saja Ketut Cenik hingga akhir hayatnya tak mengenyimpungi seni pentas warisan zaman kerajaan Bali ini, kemungkinan besar Joged Pingitan telah punah. Kini, apakah dengan berpulangnyanya seniwati yang dimasa hidupnya selalu tampak ceria ini, Joged Pingitan akan terjengkang diterjang zaman? Gejala mengkhawatirkan itu telah menganga di depan mata.

Keberadaan sekaa Joged Pingitan, kini, dapat dihitung dengan satu jari tangan saja. Diantara sekaa itu adalah yang ada di Banjar Pakuwudan, Sukawati, di mana Ni Ketut Cenik menjadi pengawal satu-satunya.  Bersama Cenik, sekaa gamelan yang didukung sekitar 15 orang penabuh ini, sesekali masih tampil di lingkungan komunitasnya. Sekarang, tanpa Ni Cenik, besar kemungkinan sekaa ini akan teronggok. Ironisnya, regenerasi penari yang beberapa kali disemai Cenik tak berkecambah. Selain karena kurang diminati, umumnya para penari muda yang pernah dielus Ni Cenik tak mampu merajut komunikasi estetik dengan nilai-nilai keindahan seni tari yang diiringi dengan salah satu barungan gamelan Bali golongan tua ini.

Ni Cenik Berpulang, Joged Pingitan Terjengkang selengkapnya

Comments are closed.