Oratorium ‘Anggada Duta’ ISI Denpasar Ditinjau Wagub

Oratorium ‘Anggada Duta’ ISI Denpasar Ditinjau Wagub

Denpasar- Setelah sebelumnya (5 Juni 2010) Oratorium Anggada Duta persembahan ISI Denpasar ditinjau oleh Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, IB Sedawa, kini giliran Wakil Gubernur Bali, Puspayoga yang ingin mengetahui persiapan Oratorium Anggada Duta. Oratorium ini rencananya akan ditampilkan dalam acara malam pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) pada 12 Juni 2010. Ajang seni dan budaya tersebut yang berlangsung untuk ke-32 kalinya itu akan dibuka oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, bertempat di panggung Terbuka Arda Candra Art Centre Denpasar.

Dalam kunjungan singkatnya, Wagub Provinsi Bali, Puspayoga mendukung sepenuhnya kerja keras ISI Denpasar untuk menampilkan karya terbaiknya. Pihaknya sepenuhnya memberi kepercayaan atas garapan ini kepada ISI Denpasar, mengingat di ISI lah tempat untuk beradu kemampuan dalam berkesenian. Semoga apa yang ditampilkan dari ISI Denpasar ini mampu memberi kesan dan pesan positif kepada masyarakat. Dirinya sangat terkesan dengan trik-trik tari yang ditampilkan dalam oratorium ini, karena banyak gerak-gerak tari memiliki tingkat kesulitan dan tantangan tinggi.

Sementara Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Rai S., M.A., yang mendampingi wagub menyatakan bahwa ISI Denpasar akan berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan pementasan yang baik dan berkualitas pada pembukaan PKB nanti. Ada pesan mendalam yang disampaikan dalam oratorium ini, diantaranya dampak negative dari pengaruh minuman keras. Pihaknya mengucapkan terima kasih banyak atas waktu kunjungan dari Wagub ini, karena tentunya lewat inspeksi ini maka para pendukung oratorium baik penari dan penabuh akan termotivasi, dan lebih semangat unjuk kebolehan mereka.

Oratorium Anggada Duta mengisahkan tentang Sri Rama, Laksamana dan Wibisana hendak besiap-siap menuju Gunung Swela untuk menghadapi Balatentara Rahwana, Raja Alengka. Setibanya di Swelagiri, Sri Rama terkesan akan keindahan hamparan hutan, binatang yang hidup harmonis. Kesedihannya terobati oleh candaria kera-kera yang dipimpin oleh Sugriwa, Anoman dan Anggada. Tiba-tiba terlihat seekor kera nyeleneh diantara kerumunan kera-kera yang sedang berkumpul. Wibisana mengetahui bahwa kera itu tiada lain adalah jelmaan raksasa Sukasrana. Anggada segera menangkap untuk dihadapkan pada Sri Rama. Atas perintah Rama, Sukasrana tidak jadi dibunuh, bahkan Ia disuruh kembali melaporkan kepada Rahwana. Anggada diutus oleh Sri Rama ke Alengka memperingkatkan Rahwana agar mengembalikan Dewi Shita. Di Kerajaan Alengka, Raja Rahwana sedang memimpin sidang, sambil menunggu Sukasrana datang dari penyamarannya. Tiba-tiba Anggada datang, dan segera meminta Rahwana menyerahkan istri Sri Rama. Dalam keadaan mabuk, Rahwana menghasut Anggada, untuk tidak memihak Rama, karena ayahnya (Subali) dibunuh oleh Rama sendiri. Ketika Ia kembali, Anggada sempat benrontak pada Sri Rama, namun dapat disadarkan dan Ia pun sepenuh hati membela Sri Rama.

Humas ISI Denpasar melaporkan

Comments are closed.