Ornamen Candi Kurung Padu Raksa Bersayap Di Pura Luhur Uluwatu

Ornamen Candi Kurung Padu Raksa Bersayap Di Pura Luhur Uluwatu

Oleh : Drs. I Wayan Mudra, MSn, Drs. I Made Suparta, MHum, PS. Kriya Seni FSRD ISI Denpasar

Para penulis mengulas Pura Luhur Uluwatu pada berbagai media seperti buku, majalah, jurnal dan website, biasanya lebih tertarik menulis tentang kesucian, ketenaran, filosofi dan asal usul pura sampai kenakalan satua kera yang sering mengambil bawaan pengunjung. Sebaliknya belum ditenemukan ulasan yang membahas secara detail bentuk candi, motif ornamen dan filosofi ornamen bangunan-bangunan kuno yang terdapat pada kawasan pura tersebut. Bangunan tersebut dalah candi bentar menuju jaba tengah yang berbentuk sayap dan candi kurung padu raksa bersayap menuju utama mandala yang memiliki ornamen cukup unik. Ada yang berpendapat sayap mengandung makna pelepasan. Kekhasan candi tersebut terlihat dari bentuknya yang berbeda dengan candi kurung yang dibuat masyarakat di Bali saat ini. Dari visualisi ornamen sebetulnya dapat ditelusuri tahun pembuatan candi, karena style ukiran dapat menunjukkan periode pembuatannya. Style ornamen ukiran dari kejaman–kejaman akan mengalami perbedaan walaupun jenis motifnya sama.

Pengertian padu raksa menurut Gusadi dalam tulisannya “Penyengker” menjelaskan sudut-sudut pertemuan antara tembok panyengker disebut padu raksa. Secara filosofis-etis, padu raksa tersebut memiliki nama masing-masing berdasarkan titik sudut peletakannya, seperti sari raksa (terletak di sudut timur laut), aji raksa (di tenggara), rudra raksa (sudut barat daya) dan kala raksa berkedudukan di barat laut. Padu raksa memiliki bagian-bagian yang diidentikkan sebagai kepala, badan dan kaki, lengkap dengan hiasan atau pepalihan-nya.

Keunikan lain yang terlihat dari kawasan Pura Luhur Uluwatu ini adalah bangunan pokok yaitu meru tumpang tiga masih terlihat bangunan lama. Walaupun ada informasi yang mengatakan bangunan tersebut sebenarnya telah mengalami perbaikan ketika terjadi musibah kebakaran yang diakibatkan oleh petir. Menurut beberapa sumber bahan kayu yang dipakai bangunan meru tersebut adalah kayu majegau. Salah satu jenis kayu yang disucikan oleh umat Hindu di Bali. Bahan kayu bangunan tersebut  terlihat masih utuh tanpa diberi pelapis cat atau  tanpa ornamen, sehingga dapat memunculkan kesan kesederhaan dan kuno. Berbeda dengan kondisi bangunan-bangunan pura lainnya di Bali saat ini, umumnya menggunakan batu hitam, bagian atas penuh ornamen dengan finishing lapisan prada.Hal ini dapat memunculkan kesan megah dan kemewahan.

Keunikan lain yang menjadi daya tarik wisatwan asing maupun wisatawan nusantara adalah disebelah kiri jaba tengah terdapat sebuah bak air yang selalu berisi air meskipun musim kering sekalipun. Hal ini dianggap suatu keajaiban dari Pura Luhur Uluwatu. Sebab, di wilayah Desa Pecatu adalah daerah perbukitan batu karang berkapur yang mengandalkan air hujan. Bak air itu dikeramatkan karena keajaibannya. Keperluan air untuk bahan tirtha cukup diambil dari bak air tersebut. Bak air tersebut saat ini berada dalam bangunan kecil mendatar menyerupai candi.

Ornamen Candi Kurung Padu Raksa Bersayap Di Pura Luhur Uluwatu, Bali Selengkapnya

Comments are closed.