Para Pakar dari 61 Negara di Dunia Akan Tukar Pandangan Dalam The 3rd SSEASR Conference di ISI Denpasar

Para Pakar dari 61 Negara di Dunia Akan Tukar Pandangan Dalam The 3rd SSEASR Conference di ISI Denpasar

SSEASR

SSEASR

Denpasar- South and Southeast Asia Association For Study of Culture and Religion (Satu organisasi ditingkat Asia dan Asia Tenggara untuk studi agama dan budaya) bekerjasama dengan ISI Denpasar dan UNHI Denpasar akan melangsungkan konfrensi internasional SSEASR ke-3 pada tanggal 3-6 Juni 2009 di ISI Denpasar dan UNHI Denpasar dengan tema : Water in South and Southeast Asia: Interaction of Culture and Religion, dimana perspektif air dari Selatan dan Tenggara Asia sebagai interaksi budaya dan agama akan dibahas dalam konfrensi yang berlangsung selama 4 hari. Konfrensi tersebut akan dihadiri oleh pakar dari berbagai multidisiplin dari 61 negara didunia dengan melibatkan sekitar 506 peserta. Menurut ketua panitia Prof. Dr. I Wayan Rai S., M.A., awalnya keterlibatan peserta mencapai 600 dari 63 negara di dunia, namun akibat isu flu babi yang mengkhawatirkan dunia berdampak pula pada kehadiran peserta asing yang membatalkan kehadirannya untuk mengikuti konfrensi. Mereka akan mengadakan tukar pandangan dalam rangka mengembangkan upaya-upaya untuk memelihara, mengembangkan serta mencari solusi terhadap berbagai permasalahan berkaitan dengan kehidupan agama dan budaya. Prof. Rai menambahkan sesungguhnya keputusan untuk menjadikan Bali sebagai tempat konfrensi sudah diputuskan di Bangkok pada Konfrensi internasional SSEASR ke-2 tahun 2007. Ini membuktikan para peserta sangat antusias untuk datang ke Bali dan kesempatan ini sangat baik untuk meningkatkan citra positif Bali dan membantu meningkatkan pariwisata Bali. Kegiatan ini juga sangat berdampak pada dunia pendidikan Bali khususnya dan Indonesia pada umumnya, karena nantinya akan hadir ratusan akademisi dari berbagai multidisiplin untuk berdiskusi tentang seni budaya khususnya Bali. Sehingga keindahan alam, seni dan budaya Bali nantinya tidak hanya menjadi daya tarik wisatawan, tapi juga para ilmuwan. Konfrensi besar ini juga akan berdampak positif bagi para ilmuwan lokal untuk dapat menunjukkan jati dirinya di kancah internasional, karena peserta yang hadir adalah akademisi multidisiplin dari universitas-universitas besar dan ternama di dunia.

Pelaksanaan konfrensi ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak diantaranya dukungan dari Walikota Denpasar, Rai Dharmawijaya Mantra, yang dalam audiensi panitia ke walikota mengungkapkan bahwa kegiatan ini nantinya benar-benar bisa memberi peluang kepada masyarakat bali untuk mengungkapkan sesuatu dengan tersurat bukan tersirat yang artinya mampu mengungkapkan adat, budaya dan agama lewat tulisan bukan sekedar wacana saja. Rai Dharmawijaya Mantra juga menyampaikan bahwa peningkatan jati diri masyarakat Bali tidak hanya terfokuskan pada "monument fisik" tapi juga harus membangun "monument maya". Untuk pelestarian Bali "monument pisik" seperti bangunan harus diimbangi dengan pembangunan "monument maya" dalam hal ini adalah pembangunan spiritual. Sehingga banyaknya "monument pisik" yang ada di Bali akan dapat dilestarikan karena masyarakat bali memiliki kekuatan "monument maya" untuk menjaga dan melestarikannya. Hal tersebut terungkap saat audiensi ke walikota.

Sementara dukungan keamanan juga diberikan oleh para jajaran Polda Bali, lewat ungkapan Kapolda Bali IRJEN POL Drs. T. Ashikin Husein dengan diadakan dan suksesnya konferensi ini merupakan pembuktian atas keamanan daerah Bali sebagai daerah tujuan pariwisata internasional. Kapolda dan jajarannya juga menyatakan siap untuk mendukung dan menyukseskan kegiatan ini dari segi pengamanannya. Gubernur Bali lewat Wakil Gubernur Balipun, A.A. Puspayoga sangat bangga atas terpilihnya Bali sebagai tempat konfrensi internasional. Apalagi dalam konfrensi melahirkan 3 jenis buku yaitu buku berbahasa Indonesia, Inggris serta Bahasa Bali, yang mampu memberikan sumbangsih sangat berarti bagi dunia pendidikan Bali khususnya dan internasional secara umum. Sementara dukungan lainnya diungkapkan oleh Ketua DPRD Bali, I.B. P. Wesnawa. Pihaknya menyampaikan dipilihnya tema konfrensi ini adalah "air" sangat tepat. Karena di jaman sekarang ini perlu ada inspirasi yang mampu membuka pikiran seluruh umat untuk berlaku positif terhadap "air". Menurutnya air adalah simbul kehidupan yang dilambangkan dengan Dewa Wisnu untuk kesejukan. Jika ditelusuri dari ceritanya, Dewa Wisnu pernah menikah dengan Dewi Pertiwi yang melahirkan Boma. Dari cerita itu filosofi yang kita temukan adalah Dewa Wisnu (air) yang bergabung dengan Dewi Pertiwi (tanah) melahirkan boma yang berarti pohon atau kehidupan. Begitulah perlakukan kita terhadap air. Jika kita memperlakukan air dengan baik maka hal baik pula yang kita terima, namun jika perlakuan sebaliknya kita berikan, maka murkalah yang kita dapatkan. Wesnawa mengharapkan, kegiatan ini menjadi tonggak sejarah yang nantinya terdapat 3 proses yaitu diawali dari pemehaman, dilanjutkan dengan penghayatan dan diakhiri dengan pengamalan. Sehingga setelah konfrensi ini mampu mengaplikasikan hasil dari konfrensi untuk menjaga keberadaan "air" tersebut tidak hanya di Bali namun juga di mancanegara.

Profesor. Amarjiva Lochan presiden SSEASR yang juga penggagas Konferensi ini mengungkapkan, agama adalah satu kondisi yang meliputi hampir tiap-tiap bagian dari hidup kita, apakah ini adalah budaya kita, bahasa dan literatur, riwayat atau peradaban, perilaku sosial atau pemahaman dari kemanusiaan, agama yang membentuk kita. Ciri umum yang tidak bisa dipisahkan dari berbagi peradaban kita di masa lalu tiga millennia membuat agama di selatan dan tenggara asia satu model peran dari keberadaan dimana unsur eksternal dapat diterima, disesuaikan, dicerna dan dihormati. Begitu juga dengan air yang merupakan suatu unsur yang penting di alam untuk kelangsungan hidup manusia. Inti dari konferensi ini adalah membahas bagaimana kebudayaan manusia yang didasari oleh agama dan penghormatan terhadap air, yang kedepannya diharapkan tumbuh suatu kesadaran akan pentingnya air.

Sementara Rektor Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, Prof. IBG Yudha Triguna mengungkapkan bahwa kegiatan ini juga sepenuhnya mendapat dukungan dari Direktorat Jedral Bidang Masyarakat (Bimas) Hindu apalagi kapasitasnya yang juga sebagai Dirjen menjadikannya merasa terpanggil untuk turut menyukseskan kegiatan baik skala maupun niskala, termasuk dukungan dana. Pihaknya sangat berharap semoga konferensi international yang bertujuan mulia ini berjalan dengan sukses dan dapat merumuskan sesuai dengan yang diharapkan.

Humas ISI Denpasar melaporkan

Comments are closed.