Pasang Surut Gambuh Pedungan Di Tengah Laju Budaya Global

Pasang Surut Gambuh Pedungan Di Tengah Laju Budaya Global

Kiriman I Nengah Sarwa dan Wardizal yang telah diterbitkan dalam jurnal Mudra edisi September 2007

Gambuh pada masa lampau

Gambuh (foto: blog.baliwww.com)

Pulau Bali yang juga dikenal dengan sebutan pulau seribu pura  dengan mayoritas penduduknya menganut agama Hindu, merupakan sebuah pulau yang kaya akan aneka ragam seni pertunjukan.  Menurut catatan STSI Denpasar, di awal tahun 1984 tercatat 66 jenis kesenian yang berkembang di Bali. Berdasarkan pemetaan kesenian yang dilakukan oleh Universitas Udayana dan STSI Denpasar pada tahun 1992, tercatat adanya 5612 kelompok seni pertunjukan diseluruh Bali. (Bandem, 1996:62). Tidaklah berlebihan, kalau Mantle Hood seorang tokoh ethnomusikologi dunia asal Amerika Serikat menyebut Bali adalah sorga dari dunia seni “paradise in the world of arts” (Soedarsono, 1999:17).

Gambuh merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan klasik yang tumbuh dan berkembang di tengah kehidupan sosio-kultural masyarakat Bali dari dahulu sampai sekarang. Gambuh merupakan suatu istilah yang tidak hanya populer di Bali, akan tetapi diberbagai daerah di Indonesia, seperti Jawa, Sunda, Sulawesi, Lombok, Madura dan lain sebagainya. Kata Gambuh tersebut mempunyai pengertian yang berbeda-beda pada setiap daerah. Di Jawa, kata Gambuh dipakai untuk menyebutkan sejenis kidung (vokal) dan juga nama seekor belalang (Bandem, 1983:68-69). Secara etimologi, Gambuh berasal dari kata Gam yang berarti jalan/bergerak dan buh = bhuh = bhu yang berarti bupati atau raja-raja. Gambuh berarti jalan hidup atau hikayat raja-raja (Bandem, 1975:16-17). Secara ontologis dan terminologis banyak pendapat yang bermunculan terkait dengan pengertian kata Gambuh. Menurut I Made Bandem, “Gambuh adalah terlalu kasih kepada orang yang tidak bisa berterima kasih (bahasa Melayu); kulina wis krep nidake (bahasa Jawa); bisul dan tekes (bahasa Sunda); bangsa kledek, sedangkan kledek itu sendiri adalah sebuah tari-tarian rakyat Jawa Tengah yang ditarikan oleh penari-penari wanita. Penari tersebut menyajikan tariannya di jalan-jalan diikuti oleh beberapa pemain musik Jawa.” (Bandem, 1975:25-26). Gambuh merupakan drama tari paling tua dan dianggap sebagai sumber drama tari Bali. Gambuh merupakan warisan drama tari yang dipentaskan dalam istana Majapahit tahun 1334 sampai abad ke 16. Setelah berakhirnya masa kejayaan kerajaan Majapahit di pulau Jawa awal abad ke 16, terjadi gelombang perpindahan besar-besaran raja-raja Majapahit ke pulau Bali. Di pulau Bali kebudayaan Hindu berkembang tanpa gangguan sampai Bali ditaklukan oleh Belanda 1906-1908. Sebagai keluarga bangsawan Jawa yang terbuang ke Bali, mereka hidup bersama para pengikutnya. Seluruh unsur kebudayaan Bali mereka masukan ke dalam peninggalan budaya Majapahit termasuk segala aspek kesenian (Bandem, 1996:26-27). Menurut Dibia, drama tari Gambuh adalah suatu drama tari klasik yang berbentuk total teater, dimana didalamnya terpadu dengan baik dan harmonis unsur-unsur tari, tembang/dialog/vokal drama dan sastra (Dibia, 1978:9).

Sebagai salah satu bentuk seni klasik dan tertua di Bali, Gambuh telah mengalami berbagai periode historis, masa populer atau kurang populer. Gambuh pernah mengalami masa-masa kejayaan, ketika ia terlahir sebagai seni istana dan diayomi oleh para raja. Dalam kapasitasnya sebagai seni istana (puri) serta dukungan yang sangat kuat dari raja yang cinta akan perkembangan kebudayaan, Gambuh mengalami perkembangan yang sangat pesat. Gambuh menjadi seni kesayangan seisi puri dan masyarakat sekitarnya. Kondisi ini telah menyebabkan Gambuh tumbuh dan berkembang menjadi teater besar istana pada abad ke-19. Hal ini semakin mendapat legitimasi  dimana kebanyakan istana pada abad ke-19 memilki bangsal khusus yang disebut bangsal Gambuh atau bale pegambuhan (Formagia, 2000:21). Dalam realitasnya sekarang, masa-masa kejayaan Gambuh mungkin hanya tinggal kenangan. Kemajuan yang begitu pesat dibidang ilmu pengatahuan dan teknologi (khususnya teknologi informasi) telah membawa dampak yang luar biasa terhadap perubahan sosio-kultural masyarakat. Kesenian Gambuh mulai ditinggalkan, dan pertunjukan Gambuh sepi penonton.

Artikel ini, mencoba mengungkap tentang pasang surut Gambuh Pedungan di tengah laju budaya global (global culture). Secara umum, keadaan dan perkembangan Gambuh Pedungan (Gambuh yang ada di kelurahan Pedungan Kota Denpasar), tidak jauh berbeda dengan Gambuh yang terdapat pada daerah-daerah lainnya di Bali. Secara historis, Gambuh Pedungan  merupakan seni istana yang erat kaitanya dengan puri Satria dan puri Pemecutan (Formagia,2000:21). Sebagai seni istana (puri), keadaan dan perkembangan Gambuh Pedungan mendapat perlindungan dan pengayoman dari raja.  Pada waktu itu, penguasa (raja) masih tertarik melestarikan semua bentuk tradisi teater dan seni daerah.  Pada zaman pemerintahan raja-raja di Bali, Gambuh Pedungan sering mengadakan pertunjukan di puri Pemecutan dan puri Satria. Besarnya perhatian raja dan keterkaitan Gambuh dengan istana (puri), khususnya puri Satria dan Pemecutan, telah menyebabkan Gambuh Pedungan tumbuh dan berkembang dan mencapai puncak keemasannya. Kondisi tersebut juga telah melahirkan penari-penari Gambuh handal. Satu di antara penari yang paling terkenal adalah I Gede Geruh (almarhum), yang sangat besar jasa dan kontribusinya terhadap pelestaraian, perkembangan dan keberlanjutan Gambuh Pedungan. Pada masa jayanya Gambuh Pedungan, pekak Geruh memang tidak semasyur sekehe Gambuh desa Batuan, Kabupaten Gianyar. Namun, Gambuh Pedungan yang termasuk dalam kawasan kota Denpasar itu “menyimpan mutiara” yang terpendam di dalamnya, yakni I Gede Geruh. Pada masa mudanya beliau sanggup memerankan semua tokoh yang ada dalam seni Pegambuhan. Atas kemampuannya itu, Geruh diminta oleh masyarakat untuk mengajarkan tari Gambuh sampai ke desa Depeha Buleleng dan desa-desa lainya di Bali. Walaupun pekak Geruh hidup dengan penuh kesederhanaan, mengaku merasa bangga karena banyak anak didiknya menjadi “orang” yang menempati posisi penting serta sukses dalam meniti karir. Beliau mengabdikan diri sepenuhnya dalam dunia seni dan mewariskan keahliannya itu kepada pelajar/mahasiswa di Kokar dan ASTI Denpasar. Penghargaan yang dimiliki antara lain “Kerti Budaya” dari Pemda Badung tahun 1973; Tanda penghargaan sebagai Dosen luar biasa ASTI Denpasar tahun 1979; Piagam Dharma Kusuma Madya dari Pemda Bali tahun 1981; dan Cincin Emas “Ciwa Nata Raja” dari STSI Denpasar tahun 1994.

Pasang surut Gambuh Pedungan sesungguhnya sudah dirasakan semenjak tahun 70-an. Pada saat itu, Gambuh Pedungan mengalami kemunduran sampai pada taraf yang sangat memperihatinkan. Sebagian besar penari dan penabuh Sekaa Gambuh Pedungan telah berusia lanjut. Struktur pertunjukannya dengan komposisi tari dan tabuh yang dulunya lengkap (utuh) sudah tidak lengkap lagi. Instrumen gamelan pengiring tari juga telah banyak yang rusak, sehingga dalam setiap pementasan selalu memakai gamelan yang tidak lengkap (Sudana, 1993:2-3). Dalam perkembangan jaman sekarang ini yang semakin mengglobal Gambuh Pedungan mulai ditinggalkan, dan regenerasi dibidang seni pertunjukan Gambuh dirasakan cukup sulit (Sudiana, 2000:5).

Pasang Surut Gambuh Pedungan Di Tengah Laju Budaya Global, selengkapnya

Comments are closed.