Pascasarjana ISI Denpasar Gelar Seminar

Pascasarjana ISI Denpasar Gelar Seminar

foto seminar pascaKiriman: Nyoman Lia Susanthi, S.S., M.A. (Dosen PS TV dan Film).

Denpasar- Guna mengembangkan bidang keilmuan, Program Pascasarjana ISI Denpasar pada 8 November 2013, menggelar seminar akademik, bertempat di Gedung Citta Kelangen lantai II ISI Denpasar. Seminar dibuka oleh Pembantu Rektor I ISI Denpasar, Prof Dr. Drs. I Nyoman Artayasa, M.Kes mewakili Rektor ISI Denpasar. Dalam sambutannya Prof. Artayasa menyambut baik digelarnya seminar sebagai program unggulan bagi Pascasarjana ISI Denpasar untuk membuka cakrawala mahasiswa.

Sementara Ketua Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni (S2) ISI Denpasar, I Ketut Sariada, S.ST.,M.Si., menyampaikan dalam sabutannya bahwa seminar dirancang sebagai pertemuan akademik dan pertukaran ilmu pengetahuan secara berkelanjutan dan diselenggarakan setiap tahun dalam rangka membahas berbagai isu-isu seni yang sedang berkembang pada saat ini. Tujuan seminar adalah untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat dan adapat dipercaya dalam rangka penciptaan dan pengkajian seni, untuk menginventarisasi berbagai informasi yang terkait dengan penciptaan dan pengkajian seni serta menghimpun isu-isu strategis tentang penciptaan dan pengkajian seni untuk menambah wawasan yang lebih luas dalam bidang seni. Seminar diikuti puluhan mahasiswa Pascasarjana ISI Denpasar.

Seminar sehari bertemakan “Isu-isu strategis penciptaan dan pengkajian seni berbasis budaya lokal” menghadirkan dua pembicara yaitu A.A. Bagus Mandera Erawan serta Arief Budiman yang dimoderatori oleh Dr. I Gusti Ngurah Ardana, M.Erg. Arief Budiman merupakan pendiri Matamera Communications, sebuah creative agency yang dikelola di Bali.  Menurut Arif Budiman kunci keberhasilan penciptaan adalah kreativitas. Kreativitas adalah muatan kekuatan yang dinamis, maka serangkaian aktivitas dan proses kreatif sangat penting dimaknai sebagai metoda yang memperkaya fungsi dan makna kreativitas menjadi sesuatu yang nyata. Proses dimaksud adalah konsepsi design thinking (rencana/desain pemikiran) menjadi  design doing (rencana/desain yang direalisasikan).

Dalam presentasinya A.A. Bagus Mandera Erawan mengungkapkan sebuah karya seni tentu bukan lahir begitu saja, akan tetapi mengalami proses yang tersistematis. Karya seni tari yang mengangkat dari budaya lokal mampu melestarikan warisan budaya yang sudah punah yaitu seorang laki-laki yang memiliki dasar tari Baris bisa menarikan tari Legong secara luwes(lemuh). Untuk itu lahirnya karya penciptaan Legong Peliatan laki-laki yaitu Legong Jaya Pangus tanpa menghilangkan pakem Legong Peliatan dengan struktur pepeson, pengawak, pengecet, dan pekahad. Legong Jaya Pangus Peliatan merupakan Tari Legong berceritakan kisah cinta segitiga dengan dua dunia antara Raja Jaya Pangus, Kang Tjin We, dan Dewi Danu hingga lahirnya Mayadenawa. Tujuan Legong Jaya Pangus adalah mengangkat kembali karya legong Nandir I Gusti Ngurah Djelantik walaupun Legong Jaya Pangus menggunakan pakem Peliatan bertema cerita Jaya Pangus, dan menunjang gerak Legong Nandir dengan durasi panjang yang hanya bisa ditarikan oleh seorang laki-laki memiliki tenaga lebih dari pada wanita.

Comments are closed.