Pemerintah Kurangi Bantuan Dana untuk Ajuan Riset

Pemerintah Kurangi Bantuan Dana untuk Ajuan Riset

BANDUNG - Alokasi dana bantuan penelitian dari Kementerian Riset dan Teknologi pada 2011 sama seperti tahun ini, sebesar Rp 95 miliar. Namun insentif dana bagi para pengaju proposal penelitian tahun depan diturunkan. Prioritas untuk riset yang berorientasi industri dan berpotensi komersial.
Asisten Deputi Relevansi Program Riset Dading Gunadi di Bandung mengatakan, insentif dana bagi para pengaju proposal penelitian hanya Rp 76 miliar, turun dibanding alokasi pada 2010 sebesar Rp 96 miliar. "Dialihkan untuk riset yang sifatnya semi top down, yaitu bagi peneliti di lembaga-lembaga pemerintah," ujarnya di sela sosialisasi insentif riset di Bale Rumawat Universitas Padjadjaran, Bandung.
Semi top down merupakan tema riset yang telah dirumuskan Dewan Riset Nasional untuk diteliti atau dikembangkan. Cara itu mulai diberlakukan Kementerian Ristek tahun depan. Sebelumnya, para peneliti dari lembaga pemerintah harus bersaing ketat dengan akademisi dari berbagai kampus untuk mendapat insentif penelitian.
Adapun kriteria riset tahun depan, kata Dading, ada 7 prioritas, yaitu pangan, energi, transportasi, telekomunikasi dan informatika, pertahanan dan keamanan, kesehatan dan obat, serta material maju. Kriteria tambahan lainnya adalah sains dasar dan sosial kemanusiaan.
Bentuk penelitian itu diantaranya teknologi bagi petani untuk peningkatan produksi, varietas padi unggul, kualitas gizi dan pangan, obat malaria dan flu burung, serta obat herbal. Juga teknologi untuk efisiensi pemakaian bahan bakar minyak, konversi energi angin, pesawat udara tanpa awak, dan komponen pesawat serta radar.
Kementerian Ristek menjanjikan dana bantuan Rp 100-500 juta bagi setiap peneliti yang proposalnya disetujui. Tahun ini, ujar Dading, proposal penelitian yang masuk mencapai 3.734 buah. Adapun yang disetujui hanya 347 penelitian. Proposal terkait teknologi pangan masih yang terbanyak, adapun riset energi alternatif tergolong sedikit. "Mungkin karena harga BBM sekarang masih murah,nggak tahu nanti kalau mahal," ujarnya.
Pemerintah tahun depan akan memberi porsi yang lebih banyak untuk pengembangan teknologi terapan yang bekerjasama dengan industri. Utamanya bagi peneliti yang teknologinya telah memiliki paten atau sedang mengurus paten dan telah dipakai oleh masyarakat, misalnya pengusaha industri kecil dan menengah. "Trend-nya lebih pada industri, jadi riset-riset dasar dikurangi," katanya.
Pengurangan insentif riset dasar itu dipertanyakan Profesor Arifin dari Fakultas Pertanian Universitas Padjadajaran. Menurut dia, bidang pertanian masih membutuhkan banyak riset dasar, misalnya untuk mengurangi resiko kegagalan panen. "Selama ini transfer teknologi ke negara-negara tropis tingkat keberhasilan panennya belum memuaskan," ujarnya.

Anwar Siswadi

Sumber: http://www.tempointeraktif.com/hg/pendidikan/2010/12/21/brk,20101221-300512,id.html

Comments are closed.