Pentas Tari Joged Bumbung Lansia di Desa Kesiman Petilan

Pentas Tari Joged Bumbung Lansia di Desa Kesiman Petilan

Pentas Tari Joged Bumbung Lansia di Desa Kesiman Petilan: Sebuah Potret Keceriaan di Hari Tua

Kiriman : Ida Bgs. Gede Surya Peradantha, S.Sn*.

Pentas Tari Joged Bumbung Lansia (orang yang telah lanjut usia) ini merupakan sebuah kegiatan yang dirancang dan diselenggarakan oleh Pemerintah Desa Kesiman Petilan serta ditunjang oleh adanya perhatian Pemerintah Kota Denpasar dalam bentuk bantuan dana yang disebut Alokasi Dana Desa (ADD). Kucuran bantuan dana inilah yang dimanfaatkan oleh Kepala Desa Kesiman Petilan, I Wayan Gede Darma Putra, S.T., untuk membuat sebuah pementasan tersebut di atas dalam format parade yang baru tahun ini dilaksanakan. Diselenggarakannya pentas tari ini dilatari oleh perhatian yang begitu besar terhadap kesehatan para lansia yang terdiri dari dua aspek yaitu fisik dan non-fisik. Secara fisik, para lansia telah dibekali dengan latihan olah raga senam yang bertempat di Balai Banjar masing-masing. Sedangkan secara non-fisik, diadakanlah pementasan Tari Joged Bumbung. Sebuah lontaran yang unik sekaligus mengundang rasa “geli” dari penonton maupun dari penarinya sendiri, mengingat biasanya Tari Joged biasanya dibawakan oleh para gadis belia nan cantik. Tentunya dengan gerakan-gerakan tari yang jauh lebih luwes, menarik dan tentu saja cantik. Terlepas dari itu semua, dipilihnya jenis tarian ini dikarenakan Tari Joged Bumbung adalah seni tari pergaulan, sehingga diharapkan bisa memupuk rasa keakraban antar perserta maupun antara peserta dengan penonton.

Secara Administratif, Desa Kesiman Petilan terdiri atas 10 Banjar Adat, yaitu : 1. Br. Kedaton, 2. Br. Batan Buah, 3. Br. Kehen, 4. Br. Meranggi, 5. Br. Bukit Buwung, 6. Br. Abian Nangka Kelod, 7. Br Abian Nangka Kaja, 8. Br. Dukuh, 9. Br. Saraswati dan 10. Br. Kuningan. Kesepuluh Banjar ini didaulat untuk mengirimkan satu pasang peserta (penari Joged perempuan dan Pengibing laki-laki). Oleh karena program pembentukan kelompok lansia yang diadakan di tiap-tiap banjar ini baru tahun ini dilangsungkan,  maka belum semua banjar sempat dibentuk kelompok lansia. Adapun Br. Kuningan, Br. Dukuh, dan Br. Saraswati belum memiliki kelompok lansia tersebut sehingga untuk tahun ini belum bisa mengirimkan wakilnya untuk ikut pentas. Namun demikian, mereka tetap diundang hadir untuk bisa mengakrabkan diri dengan para lansia lainnya, sesuai tema dari pementasan ini yaitu “Mengakrabkan Para Lansia di Lingkungan Desa Kesiman Petilan”.

Minggu, 6 Februari 2011 pukul 14.30 WITA, bertempat Wantilan Pura Pengerebongan Kesiman, dipentaskanlah Tari Joged Bumbung Lansia atas inisiatif Pemerintah Desa Kesiman Petilan. Diawali oleh duta Br. Kehen Kesiman, penari Joged perempuan yang tampak sudah uzur itu seperti mendadak berubah menjadi lebih muda dengan rias wajah panggung yang rapi, kostum tari Joged seperti pada umumnya, lengkap dengan kipas dan selendangnya. Pun demikian halnya dengan para penari Joged lainnya, dimana mereka tampak seolah lupa telah berusia lanjut. Didukung musik tari oleh Sekaa Joged Dewa Ruci, binaan dari I Made Warta yang berdiri tahun 2004 ini, keriangan dan kegembiraan terpancar jelas dari air muka mereka seperti tanpa ada rasa canggung dan malu tampil di atas panggung. Terbukti, senyum ekspresif, gerak tangan yang luwes, dan tak ketinggalan goyang pinggul penari perempuan yang lazim ditemukan dalam tiap tari Joged pun secara energik masih mampu mereka tunjukkan. Setelah sekian lama menari, tampillah penari laki-laki sebagai pengibing-nya dengan mengenakan pakaian adat biasa layaknya ke pura. Tidak ada pakem baku dalam tarian yang mereka bawakan. Semua pasangan penari Joged ini menampilkan gerak tari yang berbeda, termasuk menyelipkan beberapa pola tingkah laku keseharian yang mengundang gelak tawa penonton seperti Mejaran-jaranan (bertingkah laku seolah menaiki kuda), meambul-ambulan (saling malu-malu kucing, bersikap manja) dan beberapa tingkah laku keseharian lainnya yang juga menarik untuk disimak.

Pentas Tari Joged Bumbung Lansia di Desa Kesiman Petilan: Sebuah Potret Keceriaan di Hari Tua

Comments are closed.