Penutupan Rembuk Nasional Pendidikan 2010 Standar Pelayanan Minimum dan Standar Nasional Pendidikan

Penutupan Rembuk Nasional Pendidikan 2010 Standar Pelayanan Minimum dan Standar Nasional Pendidikan

Wakil Menteri Pendidikan Nasional ( Wamendiknas ) Prof.dr. Fasli Jalal, Ph D, Sp GK, mengatakan bahwa ada dua pilar besar yang akan menjadi penopang proses pendidikan nasional. Dua pilar tersebut adalah, Standar Pelayanan Minimum dan Standar Nasional Pendidikan Indonesia, hal tersebut diungkapan Wamendiknas pada pidato penutupan Rembuk Nasional Pendidikan 2010, Kamis ( 4/03 ) di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Pendidikan Nasional.

Wamendiknas yang pada kesempatan ini mewakili Mendiknas yang berhalangan hadir, menegaskan bahwa kedua pilar itu merupakan turunan dari Undang-Undang Otonomi Daerah dan undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. Dua pilar tersebut diharapkan akan memudahkan seluruh elemen pendidikan untuk melakukan pemetaan kondisi pendidikan,  yang kemudian secara lebih lanjut akan menuju proses dari penjaminan mutu pendidikan.

Seterusnya Wamendiknas mengungkapkan bahwa proses penjaminan mutu akan dilakukan mulai dari tingkat sekolah dengan cara evaluasi diri, “ Pada tingkat sekolah inilah proses penjaminan mutu terawal ini dilakukan, nanti akan ada badan akreditasi sekolah dan madrasah yang akan melalui proses penjaminan mutu eksternal “ sahut Wamendiknas. Dengan adanya proses seperti ini, diharapkan ada proses peningkatan pendidikan yang berkelanjutan.

Wamendiknas pun menambahkan untuk mencapai proses penjaminan mutu yang baik, diperlukan peranan penting Kepala Sekolah dan para Pengawas. Peranan Pengawas pada proses ini menurut Wamendiknas sangat instrumental, oleh karena itu beliau berharap adanya sinergi yang baik antara Kepala Sekolah, Pengawas dan Guru yang berkompeten sehingga apa yang diminta dari dua standar tersebut dapat dengan segera tercapai.

Dalam pidato tersebut Wamendiknas pun menyinggung prihal pendidikan berbasis karakter, menurut pandangan beliau para pendidik, diharapkan tidak hanya memeperhatikan sisi kognitif, skolasti dan akademik dari para peserta didik sebagai hasil proses pembelajaran, tetapi beliau menekankan diperlukannya juga pembentukan karakter dan akhlak dari para peserta didik. “ Pendidikan akhlak, pendidikan karakter, pendidikan iman dan takwa menjadi sangat vital, sebagai komparasi sebagai pendamping pendidikan yang mengarah pada kognitif atau nilai-nilai akademik yang selama ini lebih mudah kita ukur” tegas Wamendiknas.

Wamendiknas melanjutkan, bahwa apabila segala satu proses penjaminan mutu telah berhasil, hal berikutnya yang perlu diperhatikan adalah keselarasan antara harapan dunia usaha dan kebutuhan masyrakat dengan hasil sebuah pendidikan yang berkelanjutan. Permasalahan ini sangat diperhatikan oleh Wamendiknas karena apabila elemen pendidikan tidak mampu memenuhi segala kebutuhan masyarakat yang cenderung berubah, maka akan timbul keluhan-keluhan masyrakat terhadap mutu pendidikan itu sendiri.

Pada akhir pidato penutupannya, Wamendiknas berharap agar seluruh peserta yang hadir meneruskan hasil dari Rembuk Nasional Pendidikan ini di daerahnya masing-masing. “ “ Semoga upaya ini akan bapak dan Ibu lanjutkan di daerah masing-masing dan kami selaku pusat akan bersedia untuk hadir, pada forum-forum pendidikan yang Bapak dan Ibu adakan “ tutup Wamendiknas. ( Yoggi )

Sumber: http://dikti.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=512&Itemid=1

Comments are closed.