Perkembangan Kerajinan di Desa Pengosekan

Perkembangan Kerajinan di Desa Pengosekan

Oleh: Gusti Agung Jaya CK, Dosen PS Kriya Seni

Mengamat bentuk produk seni menurut  Feldman menyatakan bahwa, bentuk merupakan manifestasi fisik dari suatu objek yang bisa diamati, memiliki makna, dan berfungsi secara struktural pada objek seni (Feldman, 1967: 30). Tidak  jauh berbeda dengan teori Clive Bell menerangkan, bahwa seni itu merupakan perbuatan menampilkan bentuk yang bermakna (significant form). Bentuk seperti ini adalah yang perlu ditampung oleh perasaan estetik, karena itu tidak  akan terlalu salah kiranya kalau dikatakan bahwa bentuk yang dimaksud adalah yang estetik sifatnya (Clive Bell dalam Sahman, 1993: 15).

Terkait dengan bentuk produk seni kerajinan di desa Pengosekan, merupakan produk budaya bangsa yang memiliki nilai seni dan ekonomi. Amatan terhadap produk seni kerajinan di desa  Pengosekan membuktikan  keragaman bentuk produk yang muncul di samping mengindikasikan adanya proses keberlangsungan aktivitas yang diwariskan dari tradisi sebelumnya, juga menandakan adanya perkembangan. Perubahan sosial budaya masyarakat pendukungnya juga sangat mempengaruhi bentuk, teknik, motif dan fungsi produk yang dihasilkan. perkembangan itu sangat wajar dalam rangka menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang senantiasa selalu berubah sesuai dengan tuntutan zaman. Sehubungan dengan perkembangan itu Supriadi menjelaskan perkembangan adalah akumulasi dari berbagai penemuan berlandaskan pada penemuan-penemuan terdahulu, sehingga lahir penemuan-penemuan baru akibat adanya revolusi paradigma. (Supriadi, 1997: 123-124).

Kehadiran unsur-unsur baru dalam rangkaian perkembangan budaya tidak berarti punahnya unsur-unsur lama, keduanya dapat hidup secara berdampingan, tumpang tindih atau bercampur.

Krajinan Ayaman Rontal (Bassket)

Secara umum karya seni kerajinan di pengosekan mengalami perkembangan bentuk dan fungsi. Perkembangan tersebut nampak  dinamis dari periode keperiode berikutnya. Berawal dari kerajinan ayaman rontal/nglopok diawali oleh I Wayan Silur dan I Made Seken sekitar tahun 1930-an. Bentuk kerajinan ayaman rontal/nglopok yang dihasilkan masih sangat sederhana berupa jenis bakul dengan ukuran kecil atau sebagai wadah penyimpan barang-barang kecil.

Datangnya  Rudolf  Bonnet seorang pelukis asal Belanda yang tinggal menetap di Ubud, yang membawa dampak  perkembangan seni rupa  di Ubud bukan hanya pada seni lukis dan seni patung, tetapi berdampak pula terhadap perkembangan karjinan  ayaman rontal di Pengosekan. Menurut keterang Mangku Made Gina, ketika Bonnet datang berkunjung ke Pengosekan ke rumah Gusti Ketut Kobot, secara kebetulan Ia melihat berberapa orang sedang membuat kerajinan ayaman rontal. Memperhatikan proses  mangayamnya  rumit dan bentuk bakul yang menarik tersentuh hatinya untuk membeli dan memesana dengan memberikan desain baru  bentuk vas bunga, guci dan baks, lengkap degan desain motifnya. Pada awalnya motif yang diterapan adalah motif ceracap sangat sederhana, kemudian berkembang pada motif-motif ornamen yang terdapat pada kain-kain songket.

Perkembangan baik bentuk maupun motif yang diterapkan dapat dilahat pada gamabar di bawah, sebauah bentuk karajinan ayaman rontal dengan ukuran yang agak besar  bermotif tumbuhan alam dan motif awan-awan,  mempresentasikan suasana alam yang tenang damai nan indah. Walaupun  pahon yang nampak terpotong terkesan janggal diakabatkan oleh ketentuan ukuran, nampak penyelesaiannya dipaksakan, tetapi menunjukan adanya perkembangan dan usaha perajin menyajikan karya seindah mungkin. Diamati dari bentuknya masik menyamai bentuk kerajinan yang lama.

Perkembangan Kerajinan di Desa Pengosekan, selengkapnya

Comments are closed.