Perkembangan Kesenian Gambuh di Desa Kedisan

Perkembangan Kesenian Gambuh di Desa Kedisan

Kiriman I Wayan Sucipta, Mahasiswa PS. Seni Karawitan ISI Denpasar

Gambuh Kedisan adalah sebuah seni pertunjukan klasik yang masih dipelihara dan dilestarikan keberadaanya. Kesenian ini sempat mengalami kejayaanya pada tahun 1950-an. Ketika itu sempat melakukan berbagai pertunjukan di puri-puri dan masyarakat yang meminta ngayah ketika ada upacara Agama, seperti puri Agung Gianyar, Puri Ubud dan Puri Kedisan. Pada jaman dahulu ketika Raja Gianyar mengetahui di Desa Kedisan terdapat Kesenian Gambuh, Ketika itu juga Raja Gianyar meminta sekaa Gambuh tersebut untuk ngayah ngambuh di Puri Gianyar.

Pertunjukan Gambuh sering dilakukan di Puri Gianyar ketika ada upacara-upacara di lingkungan puri, seperti upacara Dewa Yadnya, Manusa Yadnya maupun Pitra Yadnya. Kesenian Gambuh Kedisan  ketika itu termasuk Gambuh yang sangat digemari oleh lingkungan Puri Gianyar. Gambuh ini ketika pentas di Puri Gianyar mendapatkan tempat pementasan khusus yang disebut dengan Bale Pegambuhan. Bangunan tersebut berada di sebelah selatan ancak saji puri. Dalam kamus Bali-Indonesia ancak saji memiliki pengertian batas dari pekarangan puri. Begitu juga halnya ketika ngayah di Puri Ubud, tempat pementasannya disediakan dengan khusus seperti di Puri Gianyar. Menurut I Gusti Ngurah Mangku Puja dan anaknya I Gusti Ngurah Widiantara, bahwa Gambuh Kedisan selalu diminta pentas (ngayah) di Puri Agung Gianyar  di setiap kegiatan upacara. Akan tetapi beliau tidak dapat memastikan kapan awalnya kesenian tersebut pentas di Puri Gianyar. Menurutnya hal tersebut sudah diwarisi secara turun temurun oleh Sekaa Gambuh Kedisan.

Seiring dengan berjalannya jaman dan waktu, Gambuh Kedisan banyak mengalami permasalahan, terutama dari anggota yang sudah berumur tua. Gambuh ini sempat mengalami fakum dari pertunjukannya akibat dari sulitnya mencari seorang penari Gambuh. Pada  akhirnya angota tersebut mempunyai inisiatif untuk mengembangkan kembali kesenian Gambuh tersebut dengan jalan mendatangkan pelatih Tari Gambuh dari Batuan. Sempat beberapa periode mendatangkan pelatih tari Gambuh dari Batuan. Pelatih yang terakhir dari Batuan sempat melatih tari putri pada tahun 1982. Kesenian Gambuh kembali bisa dikembangkan meskipun tidak sejaya tahun 1950-an dan sebelumnya.

Pertunjukan dan tarian Gambuh Kedisan sempat mendapatkan perhatian dan kesempatan untuk pentas di Eropa pada tahun 1999, dengan tujuan negara Prancis dan Swiss. Pada saat itu kesenian ini kembali di tata struktur pertunjukannya guna memperindah gerakan tarian dan komposisi pertunjukan. Ketika itu sempat mendatangkan tokoh tari Bali dari Singapadu yang bernama I Made Bandem, dengan tujuan melatih tari Gambuh dan menyesuaikan pertunjukan Gambuh dengan durasi yang ditentukan. Banyak pakem tarian yang di rubah baik dipotong dan ditambah, agar mencukupi durasi waktu yang ditentukan. Pemotongan struktur pada tariannya juga mengalami perubahan terhadap iringannya. Semenjak itu sampai sekarang, kesenian ini menggunakan struktur (paileh) pertunjukan yang dipergunakan ketika kesenian tersebut pentas di Eropa.

Perubahan

Perubahan adalah suatu hal yang selalu terjadi pada setiap kebudayaan. Perubahan memiliki suatu pengertian tidak mengalami bentuk yang tetap dengan kata lain dari bentuk Y berganti menjadi X. Kebudayaan  merupakan hasil cipta, rasa dan karsa manusia yang dilakukan secara terus-menerus dan turun temurun. Kebudayan juga tidak memiliki bentuk dan kepastian yang tetap, dimana selau mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan jaman. Untuk menganalisis perubahan yang terjadi pada kesenian Gambuh Kedisan, peneliti meminjam teorinya Alvin Boskof,  yang berpendapat bahwa perubahan sosial budaya dalam masyarakat disebaban oleh dua faktor, yaitu: faktor dari dalam (internal) adalah sebagian faktor yang datangnya dari dalam atau pelaku budaya tersebut, dan faktor dari luar (eksternal) adalah faktor yang datangnya dari luar pelaku budaya tersebut.

Begitu juga dengan kesenian klasik yang keberadaanya dari jaman dahulu banyak mengalami perubahan hingga bisa bertahan sampai sekarang. Contohnya kesenian Gambuh Kedisan. Gambuh Kaga Wana Giri atau yang lebih di kenal dengan istilah Gambuh Kedisan merupakan kesenian Gambuh yang sempat jaya pada tahun 1950-an. Sekarang  keberadaanya telah banyak mengalami perubahan dari segi kualitatif seperti struktur pertunjukan, dan anggota, akibat dari faktor dari dalam sekaa maupun dari luar sekaa.

Struktur pertunjukan Gambuh Kedisan mengalami perubahan ketika  beberapa penari Gambuh meninggalkan Kedisan untuk bertransmigrasi ke Sumatra dan Lampung. Ketika itu penari-penari yang telah bertransmigrasi digantikan oleh beberapa orang sebagai peran pengganti, dan itupun tidak semua tarian yang hilang dapat digantikan dengan penari lain, hanya tokoh yang memang dianggap penting dalam pertunjukan. Sulitnya mencari pengganti penari Gambuh ketika itu mengakibatkan sedikitnya tarian yang bisa dilestarikan lagi. Semenjak itu dalam pertunjukan Gambuh sedikit berubah  hanya mementaskan peran-peran yang pokok dalam adegan cerita yang dibawakan. Perubahan berikutnya ketika akan melakukan pertunjukan ke Prancis dan Swiss. Ketika itu masing-masing tarian dirubah struktur tariannya agar memenuhi durasi waktu yang ditentukan. Berubahnya struktur tarian Gambuh ketika itu secara tidak langsung mengalami perubahan terhadap iringannya. Semenjak itu ketika melakukan pertunjukan menggunakan struktur yang dipakai ketika pentas di Prancis dan Swiss.

Faktor transmigrasi merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap berkurangnya jumlah sekaa Gambuh Kedisan, di samping faktor usia dan peran pengganti. Sulitnya mencari pengganti untuk tarian dan iringan Gambuh, mengakibatkan semakin berkurangnya anggota sekaa Gambuh Kedisan. Kini keberadaan anggotanya rata-rata orang tua yang sudah berumur 50-an, yang beberapa anggota sudah tidak memungkinkan untuk menari Gambuh. Kini Gambuh Kedisan memiliki anggota yang sangat pas dengan peran tari dan penabuh yang ada. Terkadang sampai meminjam beberapa penari dari luar Desa Kedisan untuk menari ketika ada salah satu penari yang berhalangan.

Perkembangan Kesenian Gambuh di Desa Kedisan selengkapnya

Comments are closed.